Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

K-POP, VIRUS YANG MENJANGKITI GENERASI

Tuesday, September 29, 2020 | Tuesday, September 29, 2020 WIB

Oleh : Dwi Sarni 
(Aktivis Muslimah Jakarta,  Mantan Kpopers) 


Dalam rangka memperingati kedatangan orang Korea ke Indonesia,  Wakil Presiden bicara soal K-Pop. 

Dilansir laman Tirto.id, 20/9/2020, Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin berharap tren Korean Pop atau K-Pop dapat mendorong munculnya kreativitas anak muda Indonesia. Ia berharap anak muda lebih giat mempromosikan budaya bangsa ke dunia internasional. 

"Maraknya budaya K-pop diharapkan juga dapat menginspirasi munculnya kreativitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri," kata Ma'ruf Amin dalam keterangannya untuk peringatan 100 tahun kedatangan orang Korea di Indonesia, Ahad (20/9/2020). Kegandrungan banyak orang Indonesia terhadap K-pop menunjukkan selera musik dari Negeri Ginseng tersebut mendapat tempat di dalam negeri. Gelombang Korea atau Korean wave juga membawa pengaruh budaya Korea di Indonesia, selain melalui musik pop, juga lewat makanan, drama, film, dan mode. 

Pertanyaannya adalah apakah layak menjadikan korean wave menjadi panutan generasi? 

Sangat terlihat bahwa bapak Wapres kita tidak memahami dunia K-Pop. Tidak dipungkiri memang industri musik Kpop dan Kdrama sangat menghasilkan materi.  Para bintangnya banyak uang serta popularitas, namun semua itu tidak bisa membeli ketenangan dan kebahagiaan.  Banyak diantara artis kpop mati bunuh diri akibat depresi. Sebut saja Jonghyun Shinee dan Sulli FX, padahal dua idola ini berada di bawah payung manajemen SM Entertaiment, salah satu rumah manajemen terbesar di Korea Selatan. Kontrak kerja,  jadwal manggung yang padat, belum lagi tuntutan dari fans fanatik atau disebut sasaeng fans yang ikut mencampuri urusan pribadi sang idola. Fans menuntut mereka selalu sempurna,  fans melarang mereka memiliki pasangan. Sudah menjadi rahasia umum para idola ini kafir, negaranya pun negara tidak berTuhan jadi wajar jika bunuh diri menjadi solusi anti depresi. 

Korean Wave Budaya Merusak
Layaknya virus berbahaya, virus Kpop ini akan menjangkiti dan penularannya sangat cepat. Siapa saja yang terserang dia akan mati tenggelam dalam halusinasi tingkat tinggi. 

Boyband dan girlband asal Korsel memiliki fans club fanatik yang disebut fandom.  Masing – masing fandom punya nama dan warna fandom,  fans Super Junior misalnya nama fandomnya Elf. Parahnya sering terjadi perang antar fandom,  mereka saling mamuja idolanya. Performa idola Kpop memang tidak main – main. Dalam fashion dan dancenya mereka melakukannya tampak totalitas,  pakaian minim dan gerakan erotis dianggap sebagai bentuk profesionalitas yang mampu membius para fans. Hingga lebih pantas disebut pentas keporn bukan pentas kpop. 

Mirisnya, anggota fandom ini mayoritas remaja. Fandom ini sering tidak melakukan tindakan tidak masuk akal.  Rela mengantri lebih dari sehari untuk bisa nonton konser dengan posisi depan,  rela membeli tiket konser yang harganya jutaan,  rela mengoleksi kepingan album yang harganya ratusan ribu hingga jutaan, rela menyakiti diri jika grup idolanya bubar, menghabiskan kuota internet dan waktu berjam jam untuk stalking kegiatan sang idola. Ya mereka seperti kena pelet. 

Belum lagi acara drama Korea atau biasa disebut Drakor,  sangat tidak direkomendasikan.  Menonton drakor ini bisa membuat kecanduan, akibatnya kita nonton terus menerus sampai habis 20 episode, 1 episode berdurasi 1 jam bayangkan 20 episode artinya 20jam sangat membuang waktu.  Kebanyakan drakor isinya tentang romantisme dua sejoli akan membuat penontonnya halu pari purna serasa jadi tokoh utama. 

Industri hiburan dari Timur Asia ini memang menghasilkan devisa yang besar bagi Korea Selatan,  namun nyata merusak moral generasi dunia. Menjadikan Korean wafe sebagai kiblat anak muda sama saja dengan menggadaikan moral anak bangsa. 

GENERASI MUSLIM MENDOBRAK PRESTASI DENGAN ISLAM

Harus dipahami bahwa korean wafe sama halnya dengan budaya barat yang merusak,  mereka sama-sama lahir dari sistem kapitalisme sekuler yang meniadakan agama dalam kehidupan. 
Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia,  sudah selayakya generasi kita berprestasi dengan Islam.  Menguasai Islam,  mendakwahkan dan mempromosikan ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia.  

Dengan ajaran Islam anak muda atau generasi milenial tetap bisa keren. Mari kita tengok sejarah,  banyak pemuda Islam yang cemerlang. 

Sebut saja Muhammad Al Fatih, dia menjadi panglima terbaik sepanjang masa,  menaklukan Konstatinopel pada usia 21 tahun.  Menunaikan bisyaroh nabi 800 tahun silam. 

Al-Khawarizmi, ilmuwan muslim yang berasal dari Persia, penemu angka nol dan teori Aljabar. Berkat penemuannya beliau dijuluki sebagai bapak Aljabar,  ilmunya bermanfaat dan digunakan hingga saat ini.  Selain matematika beliau juga menguasai bidang lain seperti astronomi, filsafat dsn geografi. 

Ibnu Sina atau dikenal dengan nama Avicenna. Ilmuwan muslim cerdas dalam bidang kedokteran. Ilmu kedokteran ia kuasai saar usia 16 tahun.  Ibnu Sina memiliki kontribusi besar dalam kemajuan bidang kedokteran,  yang mana ilmu temuannya dipakai sampai saat ini. Beliau adalah orang yang pertama kali menemukan cara pengobatan dengan cara lenyuntikkan obat ke bawah kulit. 

Itulah contoh pemuda yang cemerlang dengan Islam,  masih banyak contoh teladan yang lain. Mereka tak hanya pintar dalam keilmuan dunia saja,  mereka juga faqih dalam ilmu agama. Mereka dididik dan ditempa dengan Islam karena mereka hidup dalam naungan sistem Islam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update