Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Setelah Boikot Unilever, Mau Kemana?

Friday, July 10, 2020 | Friday, July 10, 2020 WIB Last Updated 2020-07-10T14:16:24Z
Oleh: Finadefisa 
(Komunitas Annisaa Ganesha)

Lagi-lagi perusahaan global mendeklarasikan dukungannya terhadap LGBT. Dalam momen bulan kebanggan kaum LGBT ini, Unilever melalui akun instagramnya secara terang-terangan menyatakan dukungan terhadap kaum LGBTQI+, “We’re committed to making our LGBTQI+ colleagues as proud of us as we are of them.” (Instagram.com, 18/06/20). Tidak hanya Unilever, pada bulan Juni lalu Instagram juga terlihat semakin mendukung LGBT dengan menambahkan fitur ‘pride’ pada awal jajaran story dan juga stiker dalam story Instagram.

Sebenarnya tidak hanya kedua perusahaan global ini saja yang mendukung LGBT. Sebelumnya sejumlah perusahaan global juga telah menyatakan dukungan, seperti Starbucks, Google, Microsoft, dan lain-lain yang bahkan mendominasi produk di Indonesia. Adanya kepercayaan diri yang mereka miliki untuk terang-terangan mendukung LGBT adalah karena mereka adalah perusahaan yang berpijak pada asas liberal yang dirawat dan dibesarkan oleh sistem kapitalisme yang hari ini diterapkan di seluruh dunia termasuk negeri-negeri muslim. Asas liberal ini melazimkan manusia untuk memiliki kebebasan berekspresi, sekalipun bertentangan dengan ajaran agama. Sistem liberal ini juga yang mampu membuat perusahaan-perusahaan ini dapat mendominasi pasar dan menggurita di berbagai negara dunia dengan landasan pasar bebas.

Di Indonesia sendiri muncul gerakan boikot produk Unilever, khususnya yang diprakarsai oleh MUI. Ketua Komisi Ekonomi MUI Azrul Tanjung dengan tegas menabuh genderang boikot ini, “Saya selaku ketua komisi ekonomi MUI akan mengajak masyarakat berhenti menggunakan produk Unilever dan memboikot Unilever,” (Republika.co.id, 29/06/20). Beliau juga mengajak masyarakat untuk mulai beralih menggunakan produk-produk lokal walaupun selama ini Unilever telah mendominasi, “Kita akui Unilever ini memang perusahaan terbesar, tapi bukan berarti kita tidak bisa beralih ke produk lain, dan sekarang kesempatan bagi produk lain untuk mengambil posisi,” katanya menambahkan.

Boikot memang merupakan suatu langkah yang berpengaruh secara ekonomi maupun politik. Terbukti negara besar seperti AS saja juga kerap melakukan upaya boikot kepada negeri-negeri muslim yang dianggapnya bertentangan dengan kehendak dan politik luar negeri yang dianutnya, yaitu war on terrorism, yang kita tau teroris yang dimaksud di sini adalah umat Islam. Boikot ini biasanya berupa sanksi ekonomi seperti yang diberikan kepada Iran. Saat ini pun AS sedang melakukan boikot pada produk-produk China dalam perang dagang keduanya, seperti boikot Huawei.
Walaupun usaha boikot terhadap perusahaan pendukung LGBT telah dilakukan, hal itu tidaklah cukup untuk menyelesaikan persoalan LGBT ini. Karena paham ini muncul dari nilai-nilai yang telah mengakar dalam sistem kapitalisme-sekuler berupa wujud kebebasan berekspresi yang dijamin oleh negara-negara kapitalis. Maka untuk menghilangkan gerakan LGBT ini haruslah dengan menghilangkan pahamnya yang hanya bisa dilakukan secara sistematis sesuai dengan perkembangannya yang juga sistematis. Tidak akan bisa hanya dengan upaya segelintir individu dan masyarakat yang menolak, tetapi negara juga harus ikut turun tangan dalam menghapus segala wujud liberalisme ini.

Dan tidak ada sistem dunia yang mampu menghilangkan paham ini kecuali dengan sistem Islam yang memang sedari awal telah mengharamkan adanya hubungan haram selain yang telah dihalalkan oleh hukum syara’ berupa hubungan dalam pernikahan. Sistem Islam juga memiliki seperangkat aturan dalam mengatur pergaulan sosial di masyarakat sehingga meminimalisir kemungkinan adanya kecenderungan seksual yang berlawanan dengan fitrah manusia. Selain itu, dengan negara yang menerapkan syari’at Islam dengan suasana penuh keimanan membuat para penguasa maupun rakyatnya taat pada hukum Islam yang pasti akan membawa rahmat kepada seluruh alam. Inilah wujud tingginya peradaban dalam naungan Islam. Berbeda dengan peradaban kapitalistik yang rendah dengan mendominasinya hubungan seksual di dalam benak-benak masyarakatnya yang melahirkan gerakan LGBT ini.
×
Berita Terbaru Update