Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perjuangan Jangan Sampai Salah Tujuan

Friday, July 10, 2020 | Friday, July 10, 2020 WIB Last Updated 2020-07-10T14:10:00Z
Oleh: Erna Ummu Aqilah 
(Member Akademi Menulis Kreatif)

Di tengah masa pandemi pemerintah berencana mengesahkan Rancangan Undang Undang Haluan Idiologi Pancasila (RUU HIP). Namun dengan derasnya aksi penolakan oleh masyarakat akhirnya RUU HIP pun ditunda.

Salah satu alasan penolakan RUU HIP karena pada ayat (2), ciri pokok Pancasila berupa Trisila, yaitu sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, serta ketuhanan yang berkebudayaan, pada ayat (3),Trisila sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terkristalisasi dalam Ekasila, yaitu gotong-royong. Tidak salah jika banyak pihak yang mencurigai RUU HIP ini berbau komunis.

Tak ayal masyarakat terutama umat Islam secara terang-terangan mengadakan aksi penolakan. Seperti dilansir TEMPO.CO, (5/7/2020). Persaudaraan Alumni atau PA 212 dan Aliansi Nasional Anti Komunis, menggelar Apel Siaga Ganyang Komunis Jabodetabek. Dalam apel ini, para peserta berikrar untuk siap jihad qital memerangi kaum komunis dan pihak yang ingin mengubah Pancasila menjadi Trisila atau Ekasial.

Ikrar dipimpin oleh petugas bernama Ridho. Setelah diawali membaca dua kalimat syahadat, merekapun membacakan ikrarnya. "Kami Laskar Aliansi Nasional Anti Komunis dengan ini bertekad. Satu, bahwa kami akan menjadi pembela agama, bangsa dan negara."

"Dua, bahwa kami siap siaga dan menyiapkan diri untuk jihad qital mempertahankan akidah Islam dan melawan kaum komunis di bawah komando ulama."

"Tiga, para laskar siap siaga untuk menjaga para ulama dari serangan kaum komunis."

"Empat, kami siap siaga dan menyiapkan diri untuk menghadapi gerombolan trisila dan ekasila yang akan mengganti Pancasila."Terakhir Ridho meminta para laskar menyiapkan diri dari serangan operasi intelijen hitam yang pro komunis."

Acara apel siaga dipimpin oleh Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Ahmad Sobri Lubis. Turut hadir sejumlah tokoh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama seperti Slamet Ma'arif, Gatot Saptono alias Muhammad Al Khaththath, Sekretaris Umum FPI Munarman dan lainnya.

Aksi di atas semestinya dilanjutkan dengan penolakan terhadap semua sistem yang bertentangan dengan Islam, bukan cuma pada komunisme tapi juga terhadap sekulerisme yang nyata-nyata telah menghancurkan negeri ini.
Karena yang berbahaya bagi negeri ini bukan cuma komunisme tapi juga sekulerisme.

Sebagaimana kita ketahui sekulerisme adalah paham pemisahan agama dari kehidupan. Jadi dalam urusan bermasyarakat dan bernegara tidak boleh ada peran agama. Akibatnya sekulerisme telah berhasil meracuni pemikiran masyarakat sehingga dijauhkan dari agamanya.

Akibatnya muncul berbagai kebebasan yang bertentangan dengan agama, mulai kebebasan beragama, berpendapat, berperilaku, kepemilikan, hingga kebebasan membuat hukum. Sehingga merusak tatanan hidup bermasyarakat dan bernegara.

Alhasil umat pun menjadi rusak dan lemah, sehingga mudah dikuasai penjajah lewat berbagai kebijakan yang sarat dengan kepentingan penjajah (asing), yang diambil para pemimpin negeri ini.

Jadi semestinya sebagai umat muslim yang berpegang teguh pada syariat Islam, kita tidak cukup mengambil sikap pragmatis untuk sekedar memperjuangkan Pancasila dan justru melalaikan kewajiban kita yang sebenarnya yakni, memperjuangkan tegaknya hukum Allah Swt. Agar segala bentuk bahaya yang mengancam negeri ini bisa benar-benar kita cegah dan kita hilangkan. Wallahu A'lam Bishshawab.
×
Berita Terbaru Update