Oleh: Nur Rahmawati, SH
Praktisi Pendidikan
Semakin tingginya kasus positif corona disebabkan tes yang semakin banyak, namun rasio kasus sama sebagaimana yang diungkapkan Staf Ahli Bidang Pengeluaran Negara Kementerian Keuangan Kunta Wibawa Dasa Nugraha.
“Anggaran yang dialokasikan tersebut sudah mempertimbangkan perkiraan dan modeling untuk jumlah kasus hingga ratusan ribu orang yang positif Covid-19 hingga akhir tahun,” ungkap Kunta dalam diskusi virtual, Jumat. Dikutip dari AA.com, 04/07/2020.
Kebijakan pelonggaran oleh pemerintah agaknya perlu dikoreksi, mengingat meningkatnya lonjakan kasus covid-19, tak dapat disepelekan. Seperti yang diungkapkan oleh Gugus Tugas penanganan Covid-19 yang dikutip dari VIVAnews.com, Juru Bicara Khusus Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, mengatakan itu dikarenakan masih cukup tingginya penyebaran wabah COVID-19 di sejumlah daerah di Indonesia.
"Gambaran-gambaran ini meyakinkan kita bahwa aktivitas yang dilaksanakan untuk mencapai produktivitas kembali di beberapa daerah masih berisiko. Ini karena ketidakdisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan," kata dia saat telekonferensi, Sabtu, 4 Juli 2020.
Diberlakukannya pelonggaran, tak lantas menjadikan masyarakat menerapkan kedisiplinan yang baik berkenaan dengan protokol kesehatan. Sehingga perlu merevisi kembali kebijakan tersebut.
Apa penyebab pemerintah mengeluarkan kebijakan tersebut tak disampaikan secara transparan, sehingga banyak yang dirugikan akan hal ini.
Ketua Umum Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia (MHKI) dr. Mahesa Paranadipa Maikel mengatakan "Patut disayangkan jika dasarnya bukan atas pertimbangan keilmuan terkait epidemiologi karena angka pasien sangat sulit diprediksi lonjakannya,". Dilansir dari
Merdeka.com (12/5).
Hal ini dinilai bahwa pemerintah melakukan tidak atas dasar intervensi guna menekan angka kasus covid-19.
Beratnya menuntaskan kasus pandemi oleh pemerintah dalam sistem kapitalisme tidak diragukan lagi, maka lemahnya pemerintahan dan pemimpin kita saat ini tentu bukan karena sebab, ini akan terus berlangsung jika demokrasi terus dijadikan sandaran sistem dalam memerintah dan menjalankan pemerintahan, dimana bukan yang baik di tempatkan pada yang baik dan sebalikanya yang buruk ditempatkan pada yang buruk justru keputusan diambil berdasar nafsu.
Alhasil, kebijakan pragmatis yang akan diambil, seperti keberpihakkannya pada pemilik modal, maka tak heran jika kesehatan yang merupakan kebutuhan rakyat dijadikan lahan bisnis, selain itu pelonggaran dilakukan guna meningkatkan sektor ekonomi yang merupakan tuntutan para pemilik modal, faktanya kita lihat ekonomi negeri ini tidak juga mengalami peningkatan.
Maka Islam adalah solusi terbaik dari semua kesulitan hidup baik dalam lingkup individu, masyarakat bahkan negara, yang menempatkan keputusan baik dan benar adalah syariat yang tentunya tidak ada cacat sedikitpun karena ia datang dari sang maha sempurna yaitu Allah SWT.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barangsiapa melihat kemungkaran, hendaklah merubah dengan tangannya. Maka jika tidak mampu, hendaknya merubah dengan lisannya. Dan jika tidak mampu, hendaknya merubah dengan hatinya. Yang demikian itu selemah-lemahnya iman”. [HR Muslim, 70].
Islam tuntas menyelesaikan kasus termasuk ketika negara dilanda pandemi, sebuah usaha yang harusnya dilakukan negara guna menuntaskan secara tuntas akan dilakukan dan solusi yang ditawarkan menentramkan jiwa serta keadilan yang datang dari Allah, menjadikan penjaminan bahwa rakyat akan sejahtera, penuh keberkahan sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-A’raf ayat 96,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan karena perbuatannya.”
Bagaimana Islam mengatasi pandemi salah satunya menerapkan lockdown, dengan mengisolasi wilayah yang diidentifikasi terkena wabah. Menyediakan bantuan kebutuhan pokok bagi yang terisolasi, memastikan bahwa terpenuhinya kebutuhan kesehatan dan menjamin masyarakat untuk dapat melakukan hal yang bisa membantu menuntaskan masalah ini.
Begitulah Islam tuntas dan sistematis dalam mengatasi permasalahan, selayaknyalah kita mengambil Islam sebagai solusi semua persoalan hidup individu, masyarakat dan negara.
WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.
