Oleh : Hilda Yulistiyanita
Ibu Rumah Tangga
Bulan Ramadan adalah bulan penuh ampunan, keberkahan, dilipatgandakannya pahala lebih banyak dari bulan biasa. Pantaslah jika Rasulullah saw. dan para sahabat menyiapkan diri 6 bulan sebelum datangnya bulan ramadan. Kemudian ketika ramadan itu tiba, Rasulullah saw. dan para sahabat pun tak jengah untuk terus berjuang memaksimalkan ibadah hingga akhir bulan. Sehingga ramadan bagaikan madrasah bagi mereka untuk menempa dan menyiapkan diri, juga untuk berlatih menjadi pribadi-pribadi beriman agar dapat berkompetisi melaksanakan berbagai ibadah pada sebelas bulan berikutnya. Para alumni diharapkan dapat mempertahankan dan meningkatkan ibadahnya dalam sebelas bulan ke depan dari yang ia jalani sebulan penuh selama bulan ramadan.
Ibadah puasa yang merupakan ibadah wajib dalam bulan ramadan bukan hanya ujian menahan rasa haus dan lapar, namun meliputi pula ibadah-ibadah lain untuk mendapatkan hakikat takwa sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an surat al-Baqarah(2) ayat 183.
”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Takwa yang diharapkan tentu takwa yang sebenarnya sebagaimana Allah tuntut atas diri kita dalam Al-Qur'an surat Ali-imran ayat 102
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”
Ketakwaan yang dimaksud adalah terhimpun di dalamnya: rasa takut kepada Allah ta’ala yang tumbuh dari ilmu (pengetahuan) tentang Dzat-Nya, Rububiyah-Nya, Uluhiyah-Nya serta nama dan sifat-sifat-Nya. Taat dalam menjalankan ibadah yaitu beramal dengan tuntunan kitab-Nya dan Sunnah Nabi saw. dengan pemahaman generasi terbaik umat ini. Pensucian hati dari dosa-dosa untuk melahirkan hati yang hidup dan selalu dipenuhi dengan rasa cinta, pengharapan hingga menjadi hati yang selamat.
Berkaca pada kondisi sekarang, sungguh miris dan ironis apa yang terpampang di depan mata kita. Berbagai kezaliman dan kemaksiatan dilakukan tanpa ada rasa beban salah dan dosa. Hal-hal yang selayaknya dianggap tabu dan tak patut dilakukan maupun dipertontonkan secara umum menjadi hal yang biasa bahkan dianggap tradisi dan menyenangkan.
Ramadan kali ini adalah Ramadan yang berbeda bagi kaum muslim sedunia, dimana wabah Corona melanda berbagai negara. Masalah kian bertambah, tak hanya pada individunya, namun berbagai aspek dan lini kehidupan.
Pemerintah yang digadang-gadang sebagai penyelamat masyarakat terhitung abai, Corona yang membuat masyarakat harus di rumah saja untuk memutus rantai penyebaran perlu penyokong kebutuhan sehari-hari. Lantaran mereka tak bisa beraktifitas mencari nafkah, dimana nyata tak terurus sampai menelan nyawa lantaran tak makan berhari-hari.
Masyarakat yang seharusnya serentak di rumah pun ada yang harus tetap di luar. Bahkan tetap berkerumun demi mencari nafkah untuk menyambung hidupnya dan keluarganya. Atau mereka yang terkena dampak Corona (PHK) harus mencari sesuatu untuk makan dengan mencuri karena terhimpitnya ekonomi. Tuntutan ekonomi yang kian mencekik juga berakibat tingginya angka perceraian.
Remaja yang tak terkontrol perilakunya telah mengubah dirinya menjadi pribadi hambanya hawa nafsu dan pikirannya. Berita yang belum lama ini; remaja tawuran, pembunuhan karena melihat film horor dan atau pembunuhan karena ingin menguasai hartanya, adalah wajah remaja yang jauh dari kata generasi penerus bangsa. Inilah gambaran tatanan masyarakat gagal dan tak bertakwa.
Setiap tahun kaum muslimin menjalankan puasa ramadan dengan menahan diri dari makan, minum maupun jima di siang hari. Nyatanya halini tidak berpengaruh dalam aktivitas kesehariannya di saat maupun setelah Ramadan, bahkan tak sedikit ketakwaan itu hanya pada ramadan saja.
Tidakkah kita bertanya-tanya, jika ramadan bagaikan madrasah untuk meraih kemenangan hakiki yaitu ketakwaan, namun wajah yang selalu ditampakkan masyarakat adalah seperti ini. Pelanggaran hukum syara’ terus terjadi tanpa riayah (pengurusan) dan sanksi yang tegas dari penguasa bahkan terkesan dibiarkan.
Rusaknya masyarakat kini tak lain hanya karena jauh dari aturan yang semestinya menjadi panduan dalam hidupnya. Allah Swt. menciptakan manusia beserta aturannya dan melalui Nabi Muhammad wahyu itu disampaikan baik lisan maupun tindakan. Agar menjadi panduan manusia hidup di dunia dan menjadi hamba yang selamat. Aturan yang Allah turunkan juga tak serta merta diterpakan oleh individu namun juga oleh masyarakat dan oleh pemimpin.
Sistem batil yang kini diterapkan, dengan asas sekulerismenya membuat masyarakat enggan diatur oleh syara' dalam segala aspek kehidupannya. Pemimpin yang tak menerapkan hukum syara' juga kian menambah liarnya masyarakat dalam bersikap karena tidak adanya pagar dalam pengaturan tatanan manusia yang lebih luas.
Sejarah memperlihatkan, ketika Rasulullah saw. dan para sahabat mendapat proteksi keamanan dan ketenterama di Habasyi, telah terjadi pemboikotan kaum Quraish kepada kaum muslimin yang berjalan selama 3 tahun. Peristiwa itu membuat kaum muslimin benar-benar menderita. Mereka tak mendapatkan kebutuhan primer, kecuali yang dikirim sembunyi-sembunyi. Namun luar biasanya, para sahabat bersabar atas apa yang mereka alami dan tidak goyah dengan ajakan kaum Quraisy untuk kembali ke agama nenek moyang mereka yaitu menyembah berhala. Inilah wujud takwa dan penanaman iman yang kuat oleh Rasulullah saw. kepada sahabat. Rasulullah saw. sebagai pemimpin mereka memberikan keyakinan mereka atas agama Allah Swt. agar mereka tetap pada syariat-Nya.
Ketika penyiksaan fisik oleh kaum Quraisy dilakukan pada kaum muslimin seperti yang dialami Ammar bin Yasir, ibunya serta ayahnya. Mereka dijemur di tengah panasnya suhu Mekkah, di samping mereka juga dipanggang di atas api. Ketika mereka dalam penyiksaan, Rasulullah saw. melihat sendiri kekejaman kaum Quraisy terhadap mereka. Kemudian Rasulullah saw. berkata, “Tetap bersabar keluarga Yasir, sungguh telah disediakan untuk kalian surga!”. Mereka pun bersabar dan tetap bersabar hingga Sumayyah ibu Ammar meninggal dalam penyiksaan kaum musyrikin.
Derajat takwa akan terealisasi dalam seluruh aspek kehidupan manakala sudah tertanam dalam diri individu muslim rasa takut kepada Allah Swt dengan menjalankan semua perintah-Nya serta menjauhi semua larangan-Nya dalam seluruh sendi kehidupan.
Maka dari itu, untuk membentuk masyarakat yang Rabbani dan bertakwa tak hanya dalam bulan Ramadan saja. Mereka mempertahankan ketakwaannya pasca Ramadan, juga meningkatkannya pasca Ramadan. Dibutuhkan adanya kesadaran dari individu akan keterikatannya dengan syariah dalam segala aspek kehidupannya. Juga adanya pemimpin yang menjadi dinding umat (pengokoh) untuk taat syariat dan tetap bertakwa kepada Allah Swt.
Ketakwaan hakiki akan sempurna saat penerapan syariah kaffah yang terwujud dalam naungan daulah al-khilafah (kepemimpinan yang taat syariat dan berlandaskan syariat).
Wallahu a’lam bi ash-shawwab
No comments:
Post a Comment