Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bukan Sekedar Rumah

Monday, June 08, 2020 | Monday, June 08, 2020 WIB
Oleh: Fatimah Azzahra, S. Pd. 

Siapa yang tak ingin punya rumah sendiri? Ingin mendekorasi isi rumah sesuai dengan karakter keluarga dan diri. Apalagi sekarang banyak gambar juga video rumah lucu, unik, bagus, bertebaran di media sosial. 

Tapi, rumah jaman sekarang sangat mahal. Harganya ratusan juta menuju miliaran rupiah. Sementara pemasukan bulanan suami harus diatur sedemikian rupa tuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kebutuhan makan, listrik, air, pendidikan anak, kesehatan. 

Bak oase di tengah padang pasir, tawaran KPR pun datang. Dengan bayar cicilan per bulan, yang juga bisa dipilih besarannya sesuai kemampuan, rumah bisa didapatkan. Hanya saja, kala bayaran KPR seret, atau tidak lancar, waspadalah mamang preman akan datang. Datang menagih hutang. Atau rumah pun akan disita. Itulah batilnya KPR dengan riba. Padahal, boleh jadi kita sudah bayar setengahnya. Tapi, tak dihitung karena sedang sulit bayar cicilan di bulan-bulan selanjutnya. Atau kalaupun bisa bayar, karena telat, akan kena denda. Kalau terlalu cepat bayar, akan kena penalti. Kita dipaksa membayar sesuai waktunya. 

Sayangnya, walau rumah sudah ada, tapi karena dengan jalan riba, hati-hati Allah cabut berkah di dalamnya. Karena riba Allah haramkan. Dosa besar. Dikiaskan sama seperti menyetubuhi ibu sendiri. Astagfirullahal'adziem. Jadi, KPR ribawi bukanlah oase di tengah padang pasir. Tepatnya ialah fatamorgana duniawi. Seolah akan Indah, seolah akan senang, seolah akan gembira. Ternyata, zonk. Jebakan betmen, jebakan setan. 

Transaksi ribawi sama seperti menantang berperang Allah dan Rasul. Maukah kita berperang melawan Allah dan Rasul? Apa jadinya kalau kita berperang melawan Allah dan Rasul? Bukankah hasilnya sudah pasti kita akan kalah? Lantas bagaimana dengan akhir hidup kita di penghisaban kala di dunia kita mengajak perang ada Allah dan Rasul? Masihkah kita pantas mendapat surga Nya? Astagfirullahal'adziem. 

Betapa kita ingin akan rumah, sebagai kebutuhan papan kita dan keluarga. Tapi, bukan sekedar rumah yang kita inginkan. Melainkan, rumah yang berkah. Rumah yang Allah ridhoi. Rumah yang dipenuhi nuansa iman dan takwa. Pondasinya tawakal pada Nya. Percaya akan rezeki dari Allah saja. Allah yang Empunya langit bumi juga seluruh alam semesta Raya. Ia yang Maha Kaya sedang kita sangat faqir. 

Mintalah yang terbaik pada Nya. Minta agar diberikan rumah yang berkah. Jika baik bagi kita untuk dapat rumah sendiri, tenanglah Allah pasti akan memberikannya. Namun, jika belum waktunya, kita masih harus menumpang pada orangtua atau mengontrak, maka nikmatilah. Toh, Allah takkan menghisab apakah kita punya rumah atau tidak. Karena Allah yang memberikan kita rezeki. Yang akan Allah hisab, apakah kita melanggar syari'at Nya atau tidak. 

Sabar, wahai diri. Sabarlah wahai kawan. Tak apa belum punya rumah sendiri di dunia ini. Semoga Allah berikan rumah terindah di surga Nya kelak karena usaha menahan diri dari berbuat maksiat, mengambil akad ribawi. 

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabb-nya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan melipat-gandakan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang senantiasa berbuat kekafiran / ingkar, dan selalu berbuat dosa.” (Qs. al-Baqarah: 275-276).

Wallahu'alam bish shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update