Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Badai Corona dan Transisi Menuju Peradaban Baru

Monday, June 08, 2020 | Monday, June 08, 2020 WIB
Oleh: Lely Noormindhawati, S.Si 
(penulis buku nasional)

Dunia pada awalnya tidak begitu memedulikan kehadiran si makhluk renik, SARS-CoV-2 atau kini lebih dikenal dengan sebutan virus Corona. Begitu pula saat akhir Desember 2019, Cina mengumumkan secara terbuka, bahwa negaranya terkena pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh virus tersebut. Negara-negara lain masih meremehkannya. Tak terkecuali Indonesia, malah menjadikannya sebagai bahan candaan.

Mengenal Virus Corona
Virus Corona merupakan kelompok virus yang bisa menyebabkan berbagai penyakit. Antara lain batuk, pilek, SARS, dan MERS-CoV. Adapun SARS-CoV-2 atau nCoV merupakan strain baru virus Corona. 
Virus sejatinya merupakan materi genetik yang tidak bisa berdiri sendiri. Agar bisa hidup dan berkembang biak, ia membutuhkan tubuh makhluk hidup lain. Ini berbeda dengan bakteri. Itulah sebabnya, virus tidak membutuhkan makanan, minuman, mengeluarkan kotoran, ataupun beristirahat. Aktivitas utama dalam hidupnya adalah bereproduksi. Oleh karena itu, virus membutuhkan inang yang tepat untuk melakukan aktivitas tersebut.

Sebagaimana virus-virus lainnya, virus Corona juga membutuhkan inang, dalam hal ini adalah tubuh manusia. Agar bisa hidup dan bereproduksi, virus Corona akan menyerang tubuh manusia. Virus akan menyebar melalui tetesan (droplets) dari bersin atau batuk, muntah (fomites), dan kontak dekat tanpa pelindung. Kemudian virus bermigrasi ke tubuh manusia melalui saluran pernapasan atau permukaan benda di mana tetesan yang mengandung virus menempel. Saat seseorang menyentuh permukaan benda tersebut, lalu ia memegang area wajah,  maka orang tersebut berpotensi terpapar virus ini. Transmisi virus terjadi antara seseorang yang telah terinfeksi dengan orang tanpa patogen penyakit.

Karena transmisi virus ini terjadi antar manusia, maka penyebarannya berlangsung sangat cepat  hingga merambah ke 213 negara. Data per 5 Juni 2020 menunjukkan, jumlah pasien terinfeksi Corona di dunia per Jumat (5/6/2020) mencapai 6,69 juta orang, meninggal dunia sebanyak 393.142 pasien, dinyatakan sembuh sejumlah 3,24 juta orang. Adapun di Indonesia, pasien positif Covid-19 mencapai 28.818 orang, pasien sembuh sebanyak 8.892 orang, dan yang meninggal mencapai 1.721 orang (Kompas, 5/6/2020).

Dunia Mengalami Keguncangan
Pandemi Covid-19 telah mengguncang seluruh sendi kehidupan negara-negara di dunia. Mulai dari kesehatan, perekonomian, pendidikan, hingga kehidupan sosial. Bahkan negara super power Amerika pun ikut merasakan kedahsyatan sepak terjang makhluk nano tak kasatmata ini. 

Pukulan luar biasa mendera industri bisnis. Pemberlakuan social distancing dan juga lockdown di sejumlah negara telah membatasi ruang gerak manusia. Akibatnya, roda bisnis tak lagi berputar seperti biasa karena berhentinya aktivitas perekonomian dunia. Satu per satu perusahaan gulung tikar dan terpaksa merumahkan karyawannya. Dunia pariwisata dan perhotelan ikut terkena imbasnya. Pun dengan agen travel dan perusahaan transportasi semisal kereta api dan maskapai penerbangan. Mereka merasakan kelesuan yang sama.

Guncangan ekonomi ternyata juga dirasakan oleh pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Menurunnya daya beli masyarakat, ketersediaan bahan baku, terhambatnya distribusi, hingga masalah ketersediaan transportasi merupakan sejumlah faktor yang meyebabkan hal tersebut. Ekonom senior Faisal Basri memprediksi ekonomi Indonesia akan tumbuh minus hingga 1,5% pada 2020 akibat pandemi Covid-19 (bisnis.tempo.co, 18/5/2020). Bahkan perekonomian dunia saat ini terancam resesi. Menurut prediksi Chief Economist PT Bank Mandiri Tbk Andry Asmoro, ekonomi global terancam resesi hingga minus 3% (finance.detik.com, 8/5/2020).

Alhasil, sebagian perusahaan terpaksa menghentikan usahanya sehingga menyebabkan terjadinya PHK massal . Kondisi inilah yang menyebabkan pendapat masyarakat ikut menurun drastis, bahkan ada yang sampai zero income.

Pelang Melawan Corona Hingga Opsi Berdamai
Pandemi Covid-19 terbukti berhasil meluluhlantakkan peradaban dunia saat ini. Betapa senjata canggih yang dimiliki AS beserta radar mereka, nyatanya tidak berdaya menghadapi serangan makhluk nano ini. Demikian pula Cina, negara Tirai Bambu tersebut kini tidak lagi  membusungkan dada. Sepertinya si nano Corona ini sedang mengejek dunia, “You are nothing!”

Begitulah. Realita menunjukkan kegagapan negara-negara kapitalis menghadapi pandemi Corona. Bahkan sistem kapitalisme yang digadang-gadang oleh Fukuyama sebagai final dari sistem pemerintahan manusia dan menganggap ideologi lain telah mati, nyatanya tidak siap menghadapi badai Corona. Sistem kesehatan kapitalis tidak sanggup memberikan pelayanan terbaiknya. Rumah sakit sekelas negara maju seperti AS dan Jepang terbukti kewalahan menampung pasien Covid-19 yang jumlahnya terus merangkak naik. Bahkan mereka juga kekurangan tenaga medis serta Alat Pelindung Diri (APD). Tidak mengherankan, jumlah tenaga kesehatan dan dokter yang berguguran akibat Covid-19 semakin meningkat. 

Solusi social distancing dengan menerapkan Work From Home (WFH) dan Learning From Home (LFH) ternyata juga tidak menyelesaikan masalah. Tidak semua sektor ekonomi bisa dikerjakan dari rumah, salah satunya ojol dan pedagang kaki lima. Demikian pula belajar dari rumah dengan sistem daring, nyatanya menimbulkan masalah baru. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima sejumlah pengaduan dari siswa dan orangtua yang mengeluhkan banyaknya tugas selama pembelajaran daring hingga membuat anak-anak stres (republika.co.id, 18/3/2020). Belum lagi masalah lain berupa kendala teknis karena keterbatasan kuota dan jaringan. 

Di tengah keputusasaan melawan badai Corona yang hingga kini belum menampakkan kapan akan berakhir, muncul opsi baru untuk hidup berdamai dengan virus Corona. Ini tentu saja sebuah pilihan yang sangat apatis. Mengingat kurva Covid-19 belum melandai, sementara masyarakat dipaksa hidup normal dengan berdalih New Normal Life. Sama artinya masyarakat disuruh berperang tanpa senjata. Bisa dibayangkan, berapa juta nyawa yang saat ini dipertaruhkan dengan kebijakan yang sejatinya lebih ditujukan untuk mengakomodir kepentingan perusahaan-perusahaan kapital yang bisnisnya nyaris hancur akibat kebijakan lockdown dan social distancing. 

Memilih hidup berdamai dengan virus Corona pada saat sekarang menjadi kekalahan telak negara-negara kapitalis sekaligus kegagalan sistem tersebut memberikan solusi terbaiknya. 

Menyongsong Kembalinya Peradaban baru
Sungguh Covid-19 teah membuka mata hati dunia, bahwa sistem kapitalisme telah gagal memberikan jaminan kesehatan, kesejahteraan, keamanan, sekaligus kehidupan yang layak. Di tengah keputusasaan dan kebingungan dalam mencari solusi, harapan baru itu justru diusung oleh sistem Islam. Dalam menghadapi pandemi, Islamlah yang memperkenalkan konsep lockdown, yakni mengunci area terdampak sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah dan Khalifah Umar bin Khattab sewaktu menghadapi wabah Tha’un. Bahkan juga menerapkan strategi 3T (test, tracing, treatment) untuk memutus mata rantai penyebarannya. Islam juga memberikan tindakan preventif berupa penyediaan sanitasi yang baik, menerapkan kebiasaan hidup sehat, mengonsumsi makanan yang halal dan thayyib, yang semua ini langsung di bawah kontrol negara. 

Sistem Islam dalam naungan Khilafah berhasil menunjukkan pada dunia, betapa tangguhnya sistem kesehatan yang dimiliki. Yakni dengan mendirikan rumah sakit modern antara lain di Kairo, Damaskus, dan Baghdad yang dilengkapi dokter spesialis terbaik, dengan kapasitas yang mampu menampung hingga ribuan pasien (Tarikh al-Bimaristanat Fi al-Islam, Dr Ahmad Isa Bik). 

Demikian pula sistem ekonominya yang bebas ribawi dan ditopang oleh sistem moneter emas dan perak, terbukti tangguh saat menghadapi krisis dan bebas dari inflasi. Sejarah pernah mencatat prestasi gemilang peradaban terbaik dunia dalam naungan Khilafah Islam selama 1300 tahun. Salah satunya adalah yang tertuang dalam buku The Preaching of Islam karya Thomas Walker Arnold. Kiprah Khilafah Islam terbukti mampu mengayomi semua warga, baik muslim maupun non muslim, apapun warna kulit dan rasnya. Mereka hidup berdampingan secara harmonis, saling bekerja sama membangun peradaban yang bermartabat dan mulia.

Diakui ataupun tidak, badai Covid-19 ini berhasil menelanjangi kebobrokan sistem kapitalisme. Maka suatu keniscayaan jika kini masyarakat dunia menginginkan sebuah perubahan dengan sistem yang baru dan tentu saja yang lebih baik dari sebelumnya. Dan sistem terbaik itu hanya dimiliki oleh Islam. Yakni sistem yang berasal langsung dari Sang Pencipta dan implementasinya sudah pernah dirasakan kegemilangannya selama 1300 tahun dalam naungan Khilafah Islam. Dengan demikian, sudah saatnya kini umat bangkit untuk mewujudkanya kembali[] 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update