Oleh: Citra Dewi Anita
(Owner Sweet Shaley Cookies)
“Alhamdulillah segala puji bagi Allah atas beribu ribu kenikmatan yang Allah berikan. Alhamdulillah anak-anak dalam keadaan sehat, tubuh sempurna tanpa satu cacat, keluarga yang utuh; Ayah, ibu dan semua yang selalu bersama. Makanan yang berlimpah ruah, bahkan ada sisa. Kemudahan rezeki dari Allah. Hati pun jadi tenang, Alhamdulillah.
Pernahkah kita merasakan puas dengan keadaan kita? Ah, tenang saja, semua sudah aman. Cukup menikmati dengan keadaan yang ada, yang penting saya dan keluarga aman, hati menjadi tenang. Sementara melihat yang sedang susah, cukup merasa kasihan, cukup merasa iba. Tapi, bukankah semua ini ujian juga ujian?
Seringkali kita berfikir bahwa ujian itu berupa kesusahan, kemiskinan, ditimpa musibah, menderita suatu penyakit, anak-anak yang nakal anak anak yang tidak sempurna tubuhnya atau penyandang disabilitas, kesulitan mencari ekonomi, dan lainnya.
Dua nikmat ini, sehat dan waktu luang seringkali dilalaikan oleh manusia – termasuk pula hamba yang faqir ini.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)
Ternyata kenikmatan juga merupakan ujian dari Allah. Banyak sekali manusia yang tidak sadar bahwa ujian yang paling berat adalah ujian yang berupa kenikmatan. Sering sekali kita berfikir bahwa semua kenikmatan adalah karunia dari Allah. Ternyata tidak sepenuhnya benar.
Ujian dari Allah pun ada yang berupa kenikmatan dan kesusahan sebagaimana Allah berfirman :
وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةً۬ۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ
Artinya: “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kami-lah kalian dikembalikan.” (QS. Al-Anbiyaa’ [21]: 35)
Dalam ayat lain, Allah Ta’ala juga berfirman:
فَأَمَّا ٱلۡإِنسَـٰنُ إِذَا مَا ٱبۡتَلَٮٰهُ رَبُّهُ ۥ فَأَكۡرَمَهُ ۥ وَنَعَّمَهُ ۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكۡرَمَنِ (١٥) وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبۡتَلَٮٰهُ فَقَدَرَ عَلَيۡهِ رِزۡقَهُ ۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَـٰنَنِ (١٦) كَلَّاۖ بَل لَّا تُكۡرِمُونَ ٱلۡيَتِيمَ (١٧)
Artinya: “Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: ‘Rabbku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak (demikian).” (QS. Al-Fajr [89]: 15-17)
Bagaimana Allah Ta’ala menguji hamba-Nya dengan memberikan kemuliaan, nikmat, dan keluasan rezeki, sebagaimana pula Allah Ta’ala mengujinya dengan menyempitkan rezeki. Dalam ayat ini Allah Ta’ala mengingkari orang yang menyangka bahwa diluaskannya rezeki seorang hamba merupakan bukti pemuliaan Allah Ta’ala kepadanya dan disempitkannya rezeki adalah bentuk dihinakannya seseorang.
Kebanyakan manusia berpaling jika ditimpa kenikmatan sebagai salah satu contoh:
Orang yang kaya sering kali merasa sombong (walaupun tidak semua orang kaya) sedangkan orang miskin jarang sekali merasa sombong.
Orang yang memiliki istri yang cantik/ suami yang tampan lagi kaya, anak-anak yang sukses berpendidikan tinggi, sekolah di sekolah favorite. Ini bukan hanya nikmat dari Allah, ini semua pun adalah ujian dari Nya. Apakah ukuran sukses Allah? Bukan sukses urusan dunia dan apa yang ditampakan di dunia, melainkan kelak apa yang ditampakan di akhirat kelak.
Oang yang kesehariannya disibukan dengan kemudahan mencari uang, mengumpulkannya, bisa mempunyai banyak tabungan, bisa berhaji, dan bisa tenang. Ternyata, bisa jadi ini adalah ujian. Apakah ia lupa dan tenggelam dalam waktunya untuk mencari uang sehingga buta akan ilmu agama yang jadi bekal hidup di akhirat kelak?
"Kebanyakan manusia berpaling jika ditimpa nikmat."
Meyakini dalam hati bahwa nikmat yang diterima semata-mata pemberian Allah seperti inilah sikap seorang mukmin. Dia tidak menisbatkan nikmat kepada kekuatan, kepintaran, keberaniannya, dan semisalnya. Adalah Nabi Sulaiman tatkala singgasana Ratu Saba’ bisa didatangkan di hadapannya dalam tempo sekejap, maka beliau berkata:
“Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).” (An-Naml: 40)
Jangan pernah tertipu dengan nikmat sehat dan nikmat keluangan waktu bahkan sang khalifah Umar bin Khottob mengatakan,
إنِّي أَكْرَهُ الرَّجُلَ أَنْ أَرَاهُ يَمْشِي سَبَهْلَلًا أَيْ : لَا فِي أَمْرِ الدُّنْيَا ، وَلَا فِي أَمْرِ آخِرَةٍ .
“Aku tidak suka melihat seseorang yang berjalan seenaknya tanpa mengindahkan ini dan itu, yaitu tidak peduli penghidupan dunianya dan tidak pula sibuk dengan urusan akhiratnya “
Cukuplah tulisan ini menjadi pengingat kepada saya pribadi untuk selalu mensikapi bahwa semua milik Allah. Semoga Allah selalu memberi kita taufik dan hidayah-Nya untuk memanfaatkan dua nikmat ini yaitu sehat dan waktu luang dalam ketaatan. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang tertipu dan terperdaya.
Wallahu’alam bishowab

No comments:
Post a Comment