Oleh: Shintami Wahyuningsih
Tak terasa kita sudah memasuki bulan Ramadhan. Hanya saja Ramadhan tahun ini memang berbeda dengan Ramadhan-Ramadhan sebelumnya yang sudah kita lewati, karena tahun ini kita dikepung oleh virus yang penularanya begitu dahsyat dan memaksa kita untuk berdiam diri dirumah. Sehingga berbagai aktifitas yang biasanya dilakukan berjamaah di masjid pun harus dilakukan didalam rumah, keramaian di subuh hari dimana suara anak-anak membangunkan sahur pun tidak terdengar di tahun ini.
Namun bukan berarti keberkahan bulan ini menjadi berkurang, bahkan bulan penghulu seluruh bulan ini , tetap menjadi bulan yang penuh dengan lipatan pahala yang dijanjikan Allah SWT kepada umatNya. Bulan yang penuh Rahmat dan Ampunan yang masih terus diburu oleh orang-orang beriman untuk menjadi salah satu yang mendapatkan keberkahannya.
Memang terasa berat ketika ingin memunculkan suasana keimanan secara mandiri dengan kondisi saat ini, dimana virus corona semakin besar penyebaranya, dan bukannya berkurang malah semakin bertambah, baik jumlah yang positif, meninggal dan juga wilayah yang menjadi zona merah.
Belum lagi kasus-kasus yang memang sudah terjadi sebelum wabah ini ada yaitu sulitnya memenuhi kebutuhan yang berupa hajatul ‘udowiyah ( kebutuhan pokok) . Maka ketika ditambah dengan adanya pandemi ini, berbagai fakta ancaman kelaparan semakin meningkat dan semakin menampakkan ketimpangan antara si kaya dan si miskin. Ini tidak hanya terjadi di Negeri ini tapi hampir di seluruh dunia, bahkan dikutip dari kumparan.com “ David Beasley, Direktur Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) mendesak pemerintah disetiap negara agar bertindak secepatnya demi menghentikan ancaman kelaparan yang bisa menimpa 265 juta orang di dunia ini akibat pandemi virus corona.
Termasuk Indonesia, menjadi salah satu negeri yang memiliki ancaman kemiskinan terbesar akibat pandemi ini. Sebelum pandemi saja lebih dari 22 juta orang yang kekurangan pangan, dan ini bisa bertambah 2 kali lipat jika penanganannya masih saja menggunakan sistem kapitalis yang justru merupakan akar dari munculnya kesenjangan sosial, ditambah wabah corona yang terus mengganas.
Akhir – akhir ini saja banyak bermunculan berita tentang kasus kelaparan, beberapa contohnya, di Muara Enim dua kakak beradik mengalami kelaparan, dan kisah seorang ibu rumah tangga di Serang-Banten yang meninggal akibat 2 hari kelaparan, bahkan ada yang mencuri karena kelaparan. Sungguh fenomena ini mengiris hati.
Hal ini membuktikan ada kesalahan dalam pengelolaan dan distribusi dari kekayaan yang dimiliki Negeri ini. Bukankah begitu banyak Sumber Daya Alam yang melimpah, dari tambang Emas, Batu Bara, Minyak Bumi Dan banyak lagi, belum lagi laut yang membentang luas, hutan dan tanah-tanah yang subur.
Ini menunjukkan bahwa tata kelola pangan tak hanya harus serius tapi juga harus cekatan, khususnya di kala pandemi. Artinya, meski ketersediaan pangan nasional diklaim cukup, tapi keteraksesan pangan oleh kalangan ekonomi bawah juga rendah.
Sudah selayaknya seluruh elemen negri ini merenung selagi kita berada dibulan yang penuh berkah ini, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah, serta introfeksi atas segala kesalahan yang terjadi saat ini.
Kenapa negeri ini terus menerus berada dalam kerisis baik kerisis pangan dan juga krisis iman. Mencoba untuk mencari solusi yang tuntas agar keluar dari segala permasalahan, bukanya semakin menikmati kegagalan ini. Dan bersikap tidak peduli.
Kondisi seperti ini tidak akan berakhir selama sistem pemerintahan yang digunakan adalah Kapitalis -Sekuleris yang sudah nyata penerapanya selama ini hanya membuat kita semakin terpuruk dan jauh dari suasana keimanan. Bahkan sekuleris telah nyata menyingkirkan peran agama dalam kehidupan, padahal jelas bahwa Islam tidak bisa dijauhkan dari kehidupan manusia. Karena Islam adalah ideologi yang memiliki aturan dalam segala bidang, termasuk urusan ekonomi dan penanganan krisis pangan.
Inilah mengapa hanya aturan Allah yang layak kita gunakan dalam rangka memberi solusi tuntas bagi pencegahan serta penanganan krisis pangan dan kelaparan. Hal ini berangkat dari sabda Rasulullah ﷺ berikut ini:
الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad).
Di dalam negeri, politik pangan Islam mekanismenya berupa pengurusan hajat pangan seluruh individu rakyat. Yakni menjamin pemenuhan pangannya, baik untuk konsumsi harian dan menjaga cadangan pangan untuk mengatasi bencana/paceklik seperti kondisi wabah corona saat ini.
Seorang pemimpin dalam sistem Khilafah Islam, yaitu Khalifah, akan mengupayakan agar setiap individu rakyatnya terpenuhi kebutuhannya. Dan ketika standarnya adalah hukum syariat, maka setiap individu juga akan mengedepankan sikap qana’ah dan tidak malah aji mumpung. Inilah bedanya kepribadian rakyat di bawah naungan Khilafah, yang sudah pasti akan sulit ditemukan dalam sistem kapitalisme-sekuler.
Maka sudah seharusnya kita berlomba-lomba untuk mendapatkan keberkahan Ramadhan dengan berjuang dalam penegakkan Islam Kaffah.

No comments:
Post a Comment