Oleh: Widya Astuti
(Aktivis Dakwah Kampus)
Prediksi kapan pandemi Covid-19 akan berakhir terus saja bertebaran. Ada yang memprediksi wabah berakhir di bulan Maret, bulan April, bulan Mei, bulan Juni, dan akhir tahun 2020. Bahkan ada yang memprediksi wabah akan bertahan hingga satu atau dua tahun ke depan.
Dilansir dari CNN Indonesia, Wabah virus corona di dunia atau 99 persen kasus corona akan selesai pada rentang Juli-September 2020, berdasarkan hasil riset dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA. Untuk Indonesia, 99 persen kasus virus corona akan berakhir Juni 2020. CNBC Indonesia menyebutkan bahwa sebuah universitas di Singapura, Singapore University of Technology and Design (SUTD) melakukan penelitian mengenai kapan berakhirnya pandemi Covid-19 di Indonesia. Dalam penelitian tersebut, ilmuwan tersebut menyebutkan 97% kasus di Indonesia akan selesai pada 6 Juni 2020 nanti. Sedangkan 100% kasus diperkirakan akan selesai pada 1 September 2020.
Namun, Epidemiolog dari Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjajaran (Unpad), Bony Wien Lestari menyanksikan pernyataan Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Letjen TNI Doni Munardo soal prediksi pandemi Corona akan berakhir pada Juni-Juli nanti. Bony mempertanyakan atas dasar apa prediksi tersebut dikeluarkan. Menurutnya, hingga saat ini angka pasein yang terkonfirmasi positif Covid-19 masih terus melonjak. "Sebagai seorang epidemiolog, saya akan bertanya atas dasar apa kemudian beliau bisa menyatakan bahwa pandemi akan berakhir Juni dan kondisi Indonesia mulai normal Juli. Hingga saat ini, masih menunjukkan tren peningkatan kasus positif, ODP dan PDP disertai perluasan kasus ke hampir seluruh kabupaten kota di mana sekarang 25 dari 27 kabupaten kota sudah terdampak Covid-19," kata Bony Kepada Liputan6.com, Sabtu (2/5/2020).
Bony yang merupakan anggota gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 di Jabar, menyampaikan bahwa justru timnya memprediksi bulan Juni adalah puncak pandemi, itu pun dengan asumsi zona merah memberlakukan PSBB dan tes massal dijalankan. Menurut Bony, indikator penurunan semestinya bukan hanya dilihat dari angka orang terinfeksi virus Corona di wilayah Jakarta saja. Semestinya juga di wilayah sekitar, bahkan seluruh Indonesia harus dites. Apalagi warga Jakarta yang terdampak cukup besar. Pekerja informal banyak yang bergantung pada bantuan pemerintah, sedangkan bansos penuh dengan polemik. Akhirnya mereka lebih memilih pulang kampung daripada hidup di Jakarta tak ada penghasilan dan tak dapat bantuan layak.
Nah, prediksi pandemi yang berakhir Juni bukanlah kabar yang tak menyenangkan hati. Tentu kabar ini memberikan harapan khususnya kepada warga yang tidak jelas nasibnya bahwa mereka bisa segera kembali beraktivitas secara normal. Namun, yang jadi pertanyaan adalah benarkah prediksi ini? Karena jika dilihat, LSI adalah lembaga yang kerap menuai kontroversi, jika kita berkaca pada masa lalu, pada saat pemilu. Masyarakat sering mempertanyakan hasil survei LSI yang cenderung memenangkan petahana. Begitu pun hasil berbagai survei lainnya yang terkesan “pesanan”.
Ditambah faktanya angka pasien yang terkena covid-19 terus saja mengalami peningkatan. Belum lagi kebijakan pemerintah yang terkesan plin plan dan tak serius mengatasi penyebaran wabah. Lihat saja, ketika banyak orang yang menyarankan lockdown untuk mengatasi penyebaran wabah malah pemerintah memberlakukan PSBB. Pemberlakuan PSBB pun terlihat longgar. Di buktikan dengan kebijakan pemerintah yang melarang warga untuk mudik, tapi pulang kampung dibolehkan. Banyak pihak berkomentar tentang kebijakan ini dan mengatakan kebijakan yang dikeluarkan terkesan lucu. Padahal tetap saja hal ini memberikan peluang besar tersebarnya wabah. Dan anehnya, kok pemerintah mengizinkan 500 TKA Cina masuk ke Sulawesi Utara? Bukankah hal ini memberikan peluang besar terjadi penyabaran wabah di Indonesia?
Sungguh jika dicermati, pemerintah benar-benar tak serius menyelamatkan nyawa rakyat dan mengatasi wabah. Jika serius, tentu bukan kebijakan seperti ini yang diambil. Pengizinan 500 TKA Cina masuk ke Sulawesi Utara terlihat seperti pemerintah lebih mengutamakan penyelamatan ekonomi dibandingkan dengan nyawa rakyat. Bisa dilihat, kemana pemerintah berpihak. Hal ini memang sudah lumrah atau menjadi ciri khasnya sistem demokrasi kapitalis yang penguasanya tidak peduli dengan nasib rakyat dan tidak serius mengurusi mereka.
Kebijakan pemerintah yang sering kali mengecewakan dan tidak berpihak pada rakyat akhirnya membuat rakyat berjalan sendiri-sendiri. Tingkat kepatuhan rakyat pun pada pemerintah sudah terkategori akut. Seruan untuk tidak keluar rumah seringkali dilanggar dan diacuhkan. Ya, wajar saja rakyat seperti ini, toh kebutuhan mereka tidak dipenuhi segera oleh pemerintah. Adapun bantuan atau sembako yang diberikan tidak mencukupi ditambah lagi proses administrasinya yang sulit dan berbelit-belit. Maka yang terjadi ya rakyat tetap keluar rumah, bekerja agar mereka tetap bisa bertahan hidup.
Terlepas dari prediksi kapan berhentinya wabah, semestinya pemerintah fokus terhadap penanganan saat wabah dan bagaimana penanganannya terhadap korban. Angka kematian yang tinggi akibat virus jangan sampai disusul dengan angka kematian akibat kelaparan. Karena bagaimana pun banyak warga terdampak yang sangat butuh pertolongan. Melihat realitas yang terjadi bisa disimpulkan bahwa prediksi bulan Juni wabah selesai adalah prediksi yang jauh panggang dari api. Hasil penelitian ini alih-alih membuat tenang warga, yang ada malah menambah problem baru yaitu peremehan terhadap wabah. Jika masyarakat sudah menganggap remeh wabah ini, mungkinkah wabah ini segera berakhir?
Islam menjadikan rakyat adalah unsur utama yang harus diselamatkan. Rakyat ibarat gembalaan yang perlu dijaga dan dirawat. Sehingga saat terjadi wabah seperti ini, Islam pun menjadikan rakyat sebagai acuan utama. Tugas seorang pemimpin muslim adalah sebagai pelayan rakyat. Ia akan melayani rakyat dengan maksimal dan tidak melanggar hukum syariat. Keimanannya kepada Allah SWT akan menghantarkannya kepada pengambilan keputusan yang tepat sesuai dengan Islam. Dan dengan keimanannya pulalah, membuat dirinya senantiasa bertawakal kepada Allah dalam menghadapi wabah ini.
Penguasa di dalam Islam memahami bahwa rakyat adalah tanggung jawabnya. Apapun yang dibutuhkan rakyat maka sudah seharusnya disegerakan untuk dipenuhi. Apalagi disaat kondisi wabah pandemi, tentu harus lebih ekstra lagi perhatian dan pengurusan terhadap rakyat. Menjadi seorang pemimpin di tengah wabah harus berani mengambil risiko. Tanpa mempertimbangkan masalah materi, yang utama rakyat terselamatkan. Karena standar kebahagiaan seorang muslim adalah rida Allah, maka pemimpin muslim akan menjadikan rida Allah sebagai tujuan. Oleh karena itu, ia akan langsung memutuskan lockdown agar wabah tak meluas menyerang masyarakat.
Pemimpin seperti ini sangatlah kita rindukan. Dan akan kita temukan jika diterapkan aturan Islam secara kaffah (menyeluruh) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka sudah saatnya kita upayakan diterapkan syariat Islam dalam sebuah institusi negara yaitu khilafah Islamiyyah agar keberkahan dari langit dan bumi Allah curahkan kepada kita dan wabah ini segera diangkat. Jangan lagi bertahan dalam sistem demokrasi kapitalis atau sistem kufur yang jelas tidak mampu memberikan solusi tuntas atas setiap permasalahan.
Selama rezim dan ideologi yang menaungi negeri ini berpegang teguh pada kapitalisme sekuler, pandemi akan semakin tak terkendali. Saatnya sampaikan pada umat, hanya Islam dengan sistem khilafahnya yang akan menyelamatkan umat manusia dari segala macam marabahaya. Insyaallah masalah ini akan segera teratasi.
Jadi, kapan pandemi ini akan berakhir? Wallahu 'alam. Hanya Allah yang tahu.

No comments:
Post a Comment