(Aktivis peduli negeri dan generasi)
Terulang kembali, Tenaga Kerja Asing (TKA) Cina datang lagi ke lndonesia. Bagaimana respon masyarakat ? Tentu masyarakat menolak, karena wabah covid 19 muncul pertama kali di Cina dan ada kekhawatiran mayoritas dari mereka masih membawa virus tersebut. Masyarakat ingin penguasa segera mengatasi pandemi bukan malah melindungi TKA yang berpotensi menimbulkan permasalahan.
Anggota DPD-RI Dapil Sultra, Wa Ode Rabia Al Adawia Ridwan menegaskan, menolak kedatangan 500 Tenaga Kerja Asing (TKA). Apalagi, kedatangan mereka rencananya mulai pekan ini secara bertahap.
"Saat ini, pemerintah kita harusnya fokus penanganan pandemi Covid-19, abaikan yang bisa menimbulkan polemik," ujar Rabia, Minggu (3/5/2020). Liputan 6.com.
Ditengah pandemi, seharusnya perhatian penguasa adalah mengatasi wabah agar segera tuntas. Apalagi dampak corona menyebabkan adanya PHK dimana-dimana, ekonomi mandeg, masyarakat banyak kehilangan pekerjaan, tapi mengapa penguasa justru melegalkan TKA masuk ke lndonesia? Hal ini menunjukkan konspirasi penguasa dan pengusaha terus berjalan, rakyat yang jadi korban.
Menurutnya, 49 TKA Cina yang pernah datang saat pandemi Covid-19 di Sultra sudah sangat meresahkan. Apalagi, akan masuk 500 TKA saat Sultra sudah dikategorikan sebagai daerah rawan terpapar Covid-19.
"Harusnya dukungan fasilitas kesehatan dan bantuan kebutuhan pokok lebih diutamakan. Jika TKA ini datang, maka akan menimbulkan keresahan dan bukan tidak mungkin gejolak sosial," ujarnya.
Dia menambahkan, Sultra masuk kategori Zona Merah Covid-19. Beberapa kepala daerah di Sultra sudah mengambil langkah berani membatasi pergerakan orang dari luar dan warga yang akan keluar, justru seharusnya diapresiasi pemerintah pusat. (3/5/2020). Liputan 6.com.
Ini bukti konspirasi yang hanya menguntungkan para kapital. Kebijakan yang diambil justru menjadikan negara tidak mandiri dan tentu merugi. Kapitalisme menjadikan negara korporatokrasi, artinya negara dikendalikan segelintir para kapital besar yang didukung kebijakan penguasa.
Islam sebagai Solusi Solutif
Islam sebagai agama sekaligus petunjuk hidup yang sempurna mempunyai mekanisme menyelesaikan pandemi tanpa konspirasi apalagi intervensi.
Negara dalam lslam mampu mengatasi berbagai permasalahan baik dalam kondisi normal atau saat ada wabah. Dampak pandemi yang paling terasa adalah bidang ekonomi. Dalam Islam, negara akan tetap bisa mengatasinya karena sumber daya alam yang melimpah sejatinya milik umum/rakyat maka tidak boleh dimiliki individu atau perusahaan.
Negaralah yang harus mengelolanya dan akan dikembalikan lagi kepada rakyat untuk memenuhi hajat mereka. Praktis, jika terjadi pandemi, negara tidak akan kesulitan untuk menerapkan kebijakan lockdown dengan mencukupi kebutuhan rakyat tanpa harus menggadaikan kedaulatan negara.
Dalam buku The Great Leader of Umar bin Khattab, kisah kehidupan dan kepemimpinan Khalifah kedua, diceritakan ketika terjadi krisis ekonomi parah pada masa kepemimpinannya, Umar ra segera mengeluarkan kebijakan untuk menanggulangi krisis ekonomi secara cepat, tepat dan komprehensif. Khalifah Umar bin Khattab langsung memberi makanan kepada orang-orang Badui dari Dar ad-Daqiq, sebuah lembaga perekonomian yang berada pada masa pemerintahan Umar. Lembaga ini bertugas memberi tepung, mentega, kurma dan anggur yang berada di gudang kepada orang-orang yang datang ke Madinah sebelum bantuan dari Mesir, Syam dan lrak datang. Dar al-Daqiq kian diperbesar agar bisa membagi makanan kepada puluhan ribu orang yang datang ke Madinah selama sembilan bulan, sebelum hujan tiba dan memberi penghidupan.
Apa yang dilakukan oleh Khalifah Umar ra. menunjukkan kecerdasan beliau dalam membuat keputusan, mengatur dan mengelola struktur pemerintahan dibawahnya sehingga bisa cepat, sigap dan tuntas dalam menanggulangi krisis ekonomi.
Lembaga-lembaga pemerintahan yang langsung berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan rakyat, baik yang bergerak dalam bidang finansial atau yang lainnya, langsung diminta bergerak cepat. Khalifah sendiri yang bekerja dalam posko-posko tersebut, memastikan semua berjalan optimal. Gambaran kepemimpinan dari orang yang amanah serta didukung sistem yang baik menjadikan negara kuat. Tak mudah pihak lain melakukan intervensi yang berujung adanya konspirasi.
Pandemi berupa tha’un juga pernah terjadi pada masa kepemimpinan Umar Bin Khattab di wilayah Syam, dengan sigap Umar memerintahkan masyarakat yang tinggal disitu tidak boleh keluar dan orang yang diluar wilayah tersebut dilarang masuk. Dalam waktu yang singkat wabah bisa diatasi dan tidak menyebar di luar wilayah terdampak.
Sejarah telah membuktikan ketika lslam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan akan menuntaskan berbagai permasalahan dengan cepat bahkan bisa menghilangkan konspirasi yang bisa menghancurkan negeri. Semoga negeri ini bisa belajar dari sejarah dan seharusnya bisa menerapkan lslam yang agung.
Allahu a’lam
No comments:
Post a Comment