Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Makna Lain Seruan Berdamai Dengan Corona

Friday, May 15, 2020 | Friday, May 15, 2020 WIB Last Updated 2020-05-15T14:50:47Z
Oleh: Ulli Annisa S.Pd
(Pengajar di Pendidikan Vokasi)

Sensasi, kata tersebut cocok dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah saat ini. Setelah pulang kampung vs mudik lalu ricuh bansos  yang mendorong aparat tingkat grass root protes. Kini, pemerintah kembali melempar wacana yang membuat geleng kepala. Yakni Presiden Joko Widodo menyerukan agar seluruh masyarakat Indonesia untuk hidup damai dengan corona. Statement tersebut kontradiktif dengan seruan Presiden yang mengajak untuk melawan corona Maret lalu. 

Jagat maya langsung merespon statement Presiden dengan tulisan bahkan dengan meme menggelitik bahkan petinggi Partai Keadilan Sejahtera meresponnya dalam cuitan di twitter . Tentu dengan tujuan yang sama yakni mempertanyakan maksud dari statement tersebut. Penggunaan diksi damai tentu menimbulkan tanya di tengah masyarakat. Apakah pemerintah menyerah dalam menangani wabah corona? Atau hanya sekedar kata-kata filosofis. 

Untuk kesekian kalinya istana turun gunung untuk meluruskan apa statement Presiden. Deputi Bidang Protokol, Pers dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin menjelaskan bahwa maksud Presiden adalah virus mematikan ini akan terus ada sebelum vaksin ditemukan,sementara roda perekonomian tetap harus jalan, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Kurang lebih masyarakat diminta kembali produktif atau menjalankan kembali roda perekenomian. (vivanews.com 8/05/2020)

Pemerintah Lepas Tangan 
Selain inkonsitensi yang ditunjukan oleh pemerintah dengan menyerukan hidup damai dengan corona yang berefek pada kebingungan di tengah masyarakat luas, seruan tersebut juga mengindikasikan bahwa pemerintah bersiap untuk lepas tangan dalam penanganan wabah ini. Lepas tangan dalam pengendalian wabah corona, berlepas tangan dari memfasilitasi tenaga medis dalam medan pertempuran menghadapi corona bahkan lepas tangan dari tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan masyarakat luas. 

Tentu sikap pemerintah yang demikian bukanlah hal yang baru. Kebijakan darurat sipil hingga kebijakan PSBB merupakan isyarat bahwa pemerintah mencari beribu cara agar tidak bertanggung jawab atas  pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat serta penjaminan atas keselamatan masayarakat. 

Sikap pemerintah yang demikian merupakan hal yang wajar dalam iklim kapitalisme yang menjadi motor penggerak pemerintahan. Kapitalisme meniscayakan pemerintah tidak memprioritaskan masyarakat. Prioritas dalam kapitalisme adalah untung rugi. Terbukti  dalam kebijakan  pemerintah dalam seruan hidup damai dengan corona merupakan jalan untuk menghidupkan mesin-mesin industri serta perputaran uang demi segelintir elit kapitalis bukan demi rakyat. 

Beda Sistem Islam Dengan Sistem Kapitalisme
Dari mulai asas, standar hingga pelaksanaanya Islam berbeda jauh dengan kapitalisme. Dalam sistem Islam, prinsip yang dijalankan selain menerapkan Kitabullah dan as Sunnah adalah memprioritaskan keselamatan masyarakat serta menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat. Hal tersebut terbukti dalam catatan sejarah yang menunjukan bahwa dalam kasus penanganan wabah pada masa itu. Sebagai contoh pada masa kekhilafahan yang dipimpin oleh Umar bin Khattab ra, dibuat mekanisme yang focus dalam penanganan wabah serta menyelamatkan masyarakat.

Pertama, berdasarkan sabda Rasulullah SAW diterapkannya kebijakan lockdown bagi daerah yang sedang terjangkit wabah
"Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari)

Kedua, Amirul Mukminin Umar bin khattab ra membuat kebijakan terkait dengan distribusi bantuan. Setiap perangkat negara menjalankan setiap arahan dari khalifah umar, dipastikan kebijakan satu dan lainnya saling berkaitan. Khalifah umar pun mengajak pejabat negara untuk fastabiqul khoirot untuk memberikan bantuan kepada masyarakat yang terkena wabah dan yang terdampak. 

Ketiga, melakukan pendataan dengan tingkat akurasi yang tinggi, sehingga dipastikan tidak ada satupun warga negara yang terlewat. 

Keempat, mengelola bantuan dari daerah lain. Dalam situasi minim logistik, Amirul Mukminin Umar ra menyeru para wakilnya di Iraq dan Syam untuk mengirimkan bantuan. Tak lama Abu Ubaidah memenuhi seruan khalifah, beliau datang dengan 4000 ekor unta dengan muatannya. Amru bin Ash datang dengan 1000 ekor unta beserta tepung dan lemak. Lalu Muawiyyah bin Abu Sufyan mengirimkan 3000 unta dan Saad bin Abi Waqqash mengirmkan 300- ekor unta beserta tepung , mantel,selimut dan bahan pangan. Bantuan tersebut dikelola oleh Amirul Mukminin Umar ra dengan menunjuk orang terpercaya untuk melakukan distribusi bahkan Umar sendiri ikut dalam pendistribusian tersebut.

Kelima, Umar ra menghentikan hukuman bagi pencuri yang kelaparan serta memberhentikan terlebih dahulu pungutan zakat.

Terakhir , tak hanya meminta bantuan dari daerah lain, Umar ra pun mengajak seluruh masyarakat untuk taqqarub kepada Allah. Mengajak masyarakat untuk senantiasa menjauhi maksiat.

Maka amat sangat berlebihan bahkan cenderung mengada-ngada jika kepemimpinan hari ini dikatakan mirip dengan kepemimpinan Amirul Mukmini Umar ra. Karena setiap kebijakan yang diberlakukan pemerintahan Indonesia berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan oleh Umar. Maaf jika boleh dikatakan seperti membandingkan apel dan bengkuang. Jauh.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update