By : Dian
(Aktivis Muslimah)
Masalah yang terjadi di dunia termasuk di Indonesia akibat dampak dari wabah virus corona atau covid-19, membuat ketidaknyamanan di masyarakat. Sesungguhnya jauh sebelum virus ini menyerang Indonesia, negeri ini sudah sering mengalami berbagai masalah masa-masa sulit. Sebagaimana kita lihat kesehatan yang mahal, tingkat kemiskinan yang meningkat, PHK besar-besaran dan masih banyak sederet problem lainnya.
Masalah ini pun semakin meningkat saat virus corona masuk ke Indonesia. Banyaknya kriminalitas yang terjadi selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan, kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pokok, bahkan sebagian masyarakat mengalami depresi, hingga bunuh diri.
Sebagaimana dilansir, Tempo.co - Jakarta - Kriminalitas yang terjadi selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI semakin meningkat. Secara nasional, Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia mencatat ada kenaikan kasus sebesar 11,80 persen dari pekan-15 hingga pekan-16 di tahun 2020.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Yusri Yunus, mengatakan tingkat kejahatan saat PSBB di Jakarta lebih tinggi jika dibandingkan dengan priode pada tahun 2019. Menurutnya pergeseran kejahatan ada dimana-mana, bahkan aksi pencurian minimarket lebih dominan.
Sebagaimana kejahatan pencurian dan perampokan di minimarket yang terjadi di Alfamart Jalan Al Wutso, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur pada hari Kamis, tanggal 16 April 2020. Bahwa pelaku terdiri dari empat orang, yakni YS (14), Ali Akbar (32), Ali Rudini (45) dan seorang lagi masih buron. Alfamart dilaporkan mengalami kerugian Rp. 150 juta. (https://fokus.tempo.co/read/1335238/tren-kriminalitas-meningkat-saat-psbb-berjalan)
Bahkan dimasa-masa yang sulit, masyarakat kembali resah dengan pembebasan para napi di lapas dengan dalih mengurangi resiko penyebaran covid-19 di dalam sel bui. Dilansir, Jakarta - CNNIndonesia - Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI) Reza Indragiri menyoroti pembebasan napi lewat asimilasi dan integrasi untuk mencegah penyebaran covid-19.
Sementara Pengamat Sosial Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun mengatakan corona memang berimbas pada semua aspek kehidupan masyarakat. Namun Ia juga menyeroti pembebasan napi saat pandemi corona, menurutnya sekitar 15 atau 20 persen napi yang dibebaskan memiliki kecenderungan untuk kembali berbuat jahat. (https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200424151758-12-496997/corona-kriminalitas-dan-ragam-imbas-sosial-masyarakat)
Adapun masalah seorang pria bunuh diri usai sebulan terkena PHK. Sebagaimana dilansir, Jakarta, CNNIndonesia - Seorang pria berinisial (JT) ditemukan meninggal dunia karena gantung diri di sebuah kamar kos yang berlokasi di Kembangan, Jakarta Barat, pada hari Selasa, tanggal 21 April 2020. (https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200421164153-12-495772/seorang-pria-di-jakbar-bunuh-diri-usai-sebulan-terkena-phk)
Sungguh miris berbagai dampak sosial wabah terhadap maraknya kerusakan di tengah masyarakat berupa kriminalitas, perselisihan, hingga bunuh diri. Namun tindakan penanganan masalah yang masih kontraproduktif. Misalnya asimilasi napi.
Inilah bukti ketidak seriusan pemerintah dalam menangani covid-19 hingga menuai kegagalan. Bukannya menyelesaikan masalah malah menambah masalah baru yang semakin memperkeruh kondisi negeri ini. Corona telah mengepung negeri, ditambah lagi masyarakat di kepung oleh potensi kriminalitas yang tak kalah ngeri dari covid-19.
Semua yang terjadi semata-mata pijakan pengambilan kebijakan yang sekuler dan berorientasi menyelesaikan dampak hanya fisik semata. Buah dari penerapan sistem kapitalis yang mana dalam sistem tersebut, menganggap aturan Sang Pencipta tidak boleh ikut andil untuk mengatur urusan kehidupan. Sehingga kebijakan dari produk tersebut tidak sempurna dan dipastikan akan membawa kehancuran.
Sistem kehidupan sekuler dalam hukum sanksi yang tidak memberi efek jera terhadap pelakunya, menyebabkan manusia ringan dalam melakukan kejahatan. Sehingga penjara penuh diisi oleh para penghuni baru sedangkan penghuni lama yang dibebaskan mengulang kembali kejahatannya. Itulah penerapan sistem kapitalis yang sangat berbeda dengan sistem Islam.
Dalam sistem Islam mampu melahirkan pemimpin yang amanah dalam mengurusi dan menjaga rakyat juga melaksanakan seluruh syariat Islam. Sebab hanya syariat Islamlah yang mampu memberikan mashlahat dan penjagaan yang sempurna pada seluruh umat.
Sehingga dari penerapan itu, umat hidup dalam kebaikan dan kesejahteraan. Dengan terpenuhinya hak-hak mereka, terjaga dari kejahatan dari pihak-pihak yang ingin menghendaki keburukan. Islam juga mampu menyelamatkan napi dari covid-19 dan mengembalikan fitrah keimanannya.
Kepemimpinan Islam yaitu seorang pemimpin adalah sebagai pengurus (ra'in) dan penjaga (junnah), Islam tidak hanya mengurus urusan ibadah mahdhoh saja, tetapi Islam mengatur seluruh aspek kehidupan. Sehingga Islam mampu melahirkan masyarakat yang kuat keimanannya dan memiliki ketahanan metal dan fisik untuk menjalani hidup di masa pandemik.
Islam juga pernah mengalami masa-masa sulit, negara Islam dan kepemimpinannya selalu hadir sebagai pengurus dan penjaga rakyat, menjadi yang terdepan dalam menyelamatkan umat, membela dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Sebagaimana telah diteladani oleh baginda Rasulullah SAW dan para penggantinya. Beliau rela berlapar-lapar dan berpakaian buruk demi mendahulukan kepentingan rakyatnya.
Dengan demikian sudah saatnya kita kembali pada syariat Islam secarah kaffah, dalam bingkai Daulah Khilafah. Karena hanya dengan aturan dari Allah SWT maka seluruh umat akan hidup sejahterah.
Wallahu A'lam Bish-Shawab.