Oleh : Pebyyanti
(aktivis Muslimah Bangka Belitung)
Sejak terjadi wabah corona melanda Indonesia dan seluruh dunia. Semua aktivitas dirumahkan, termasuk para pekerja. Masyarakat kehilangan pekerjaan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) dimana-mana. Masyarakat semakin tak tentu arah, sebagian besar para pekerja yang terkena PHK. Mereka tak mungkin harus bertahan hidup di perantauan tanpa pemasukan. Akhirnya mereka pulang ke kampung halaman masing-masing. Meskipun mereka masih ragu mau pulang atau tidak. Seandaikan pulang, mereka pasti akan membahayakan keluarga di kampung. Tapi jika mereka tetap bertahan di perantauan tanpa pekerjaan, mereka akan mati kelaparan dikala pandemik ini.
Akhirnya banyak para pekerja yang tinggal di emperan kota karena sudah tak mampu untuk bayar indekos.
Terakhir, belakangan ini pemerintah membuat kebijakan larangan mudik dan membolehkan pulang kampung asal memenuhi protokol resmi. Nah, kira-kira dimana bedanya mudik dan pulang kampung? Definisi terbaru menurut pemerintah mudik itu adalah kegiatan pulang kampung sementara dan akan kembali ke kota. Misalnya mereka yang ingin berkumpul bersama keluarga disuasana Ramadhan atau lebaran. Sedangkan pulang kampung menurut pemerintah adalah kegiatan kembali kekampung dan tidak akan kembali ke kota. misalkan mereka yang bekerja di suatu daerah dan setelah banyak terkena imbas PHK. Mereka pulang ke kampung halaman tanpa pasti kembali atau tidak ketempat perantauan.
Sebenarnya mudik ataupun pulang kampung keduanya sama-sama mempunyai resiko atau membahayakan keluarga yang ada di kampung tersebut. Karena, mereka berpindah dari zona merah ke zona aman. Protokol pulang kampung yang ditetapkan pemerintah adalah dengan (1) mengisi formulir keterangan diri dan tujuan kepulangan, (2) memiliki rekomendasi dan izin kepala desa, (3) dipersyaratkan untuk tidak kembali ke kota, (4) Menjalani pemeriksaan kesehatan, (5) menjalani isolasi mandiri. Mereka yang di izinkan pulang kampung adalah bagi pekerja migran dan yang kena PHK. Setelah mereka sampai di tempat tujuan, pemerintah akan memberikan bantuan sosial dan pelatihan.
Meskipun mudik sudah dilarang tapi masih banyak yang ngotot ingin mudik.
Juru bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati dalam konferensi pers mengatakan selama larangan mudik berlaku, pihaknya akan mengambil pendekatan persuasif ketimbang represif.
Tahap awal pemerintah akan mengedepankan cara-cara persuasif yang melanggar akan diarahkan untuk kembali ke asal perjalanan. Tahap kedua yang melanggar, selain diminta kembali ke asal juga dikenai sanksi sesuai undang undang yang berlaku termasuk denda.
Pemerintah juga telah memutuskan untuk menghentikan sementara penerbangan komersil dan carter baik untuk tujuan di dalam maupun luar negeri mulai 24 April sampai 1 Juni.
Namun, larangan tersebut tidak berlaku untuk pimpinan atau lembaga tinggi negara, tamu negara, perwakilan organisasi internasional, dan untuk pemulangan WNI atau WNA yang terkena dampak virus corona.
Pemerintah yang sekuler sekarang ini, memberikan solusi yang hanya sesuai dengan kebermanfaat atau keuntungan bagi mereka saja dan tidak ada tanggungjawab dalam menangani masalah ini. Masyarakat semakin tak tentu arah tujuan, tempat mengadu sudah tak ada.
Berbeda dengan pemerintahan islam yang selalu mengambil solusi dari Al-Qur’an dan Assunah. Setiap ada masalah atau problematika kehidupan, islam adalah solusi satu-satunya yang sesuai dengan fitrah dan memuaskan akal. Contohnya dimasa khalifah Umar bin Khattab pernah mengalami wabah yang berbahaya. Khalifah Ummar sebagai pemimpin pada masa itu dalam mengayomi masyarakatnya mengambil tindakan yang tegas, arah yang jelas dan bertanggungjawab penuh dengan memulang kampungkan bangsa badui ke daerah asal mereka. Pemulangan Arab Badui dilakukan seusai terjadinya wabah. Namun, selama wabah terjadi mereka mendapatkan fasilitas kebutuhan yang layak dari Khalifah Ummar. Khalifah Ummar memfasilitasi semua kebutuhan dan memberikan perhatian penuh kepada Arab Badui terutama orang-orang yang kebutuhan khusus dalam perjalanan pulang kekampungnya, khalifah umar juga memastikan bangsa badui sampai dengan selamat ketempat tujuan. Dalam kisah ini meriwayatkan khalifah Ummar betul-betul memberikan bukti nyata tindakan penuh tanggung jawab memulangkan Arab Badui. Pertimbangan Ummar jelas arah dan tujuannya.Pertama, untuk mengurangi kepadatan kota Madinah, dan kedua yaitu agar bangsa badui mempunyai mata pencaharian yang berbeda dengan orang-orang Madinah dan tidak sangat produktif jika bangsa Badui meninggalkan kotanya. Ketiga, untuk menjaga bahasa bangsa Badui agar tidak ada kerusakan bahasa. Nah, sudah jelas bukan bahwa islam akan memberikan yang terbaik untuk umatnya dari hal yang terkecil sekalipun sampai hal yang paling besar.
