Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Berdamai dengan Corona, Mungkinkah?

Friday, May 29, 2020 | Friday, May 29, 2020 WIB Last Updated 2020-05-29T16:55:20Z
Oleh: Yunanda Indah
Aktivis Dakwah Kampus

Sejak penguasa ruwaidhah ini menduduki tampuk kekuasaan, publik tak henti-hentiinya dibuat bingung dengan kebijakan yang dikeluarkan. Mulai dari perbedaan substansi makna mudik dan balik kampung sampai seruan damai untuk hidup berdampingan dengan covid-19. Seolah rakyat diminta untuk legowo dengan seruan penguasa, padahal faktanya covid-19 sudah banyak menelan korban.

Dilansir oleh CNN Indonesia,co (09/05/20), Presiden Jokowi mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan di tengah situasi penanganan penyebaran covid-19 yang belum genap dua bulan di Indonesia. Jokowi meminta agar masyarakat untuk bisa berdamai dengan corona sampai vaksin tersebut ditemukan, ungkap Jokowi melalui akun resmiya.

Pernyataan tersebut langsung menjadi sorotan media. Pasalnya, hal tersebut bertentangan dengan yang disampaikan dalam pertemuan virtual KTT G20 pada maret lalu. Secara terbuka pada acara tersebut, Jokowi menyampaikan akan  mendorong pemimpin-pemimpin negara dalam G20 untuk bekerja sama melawan corona, terutama upaya untuk penemuan anti virus dan obat covid-19. Diksi yang digunakan pada acara tersebut adalah ‘perang’ melawan corona. Lidah tak bertulang adalah perumpamaan yang tepat untuk mengklaim cara kerja rezim hari ini, kemarin lawan sekarang damai.

Pernyataan damai dengan corona yang dimaksudkan oleh Jokowi langsung direspon oleh Anggota Komisi IX DPR RI, Muchamad Nabil Haroen, menurtnya ada dua perspektif dari pesan Jokowi untuk berdamai dengan corona yang disampaikan.

Pertama, pemerintah harus lebih serius dalam penanganan covid-19. Terlihat beberapa hal yang masih inkonsisten  dan tidak terkoordinasi, misal kebijakan antara kementrian yang tidak sinkron membuat masyarakat kebingungan, ungkap Gus Nabil sapaan karibnya.

Kedua, Jokowi menyampaikan dalam konteks agar masyarakat Indonesia bersiap pada tahap yang lebih serius di fase pandemi ini. 

Setelah digencarkan narasi ‘berdamai dengan corona’ , nampaknya kebijakan PSBB, lockdown, stay at home tidak bisa lagi dikendalikan lagi pergerakannya. Mulai dari jalanan, Bandara, pasar dan tempat keramaian lainnya mulai dipadati oleh masyarakat sebagaimana keadaan sebelum masa pandemi. Ini menunjukan bukti bahwasanya rezim saat ini tidak serius dalam penanganan wabah.

Dilansir dari Tribunnews.co, (10/05/20), Wakil ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid juga menyoroti pernyataan Presiden Jokowi untuk perang melawan covid-19 saat konferensi virtual negara-negara G20, Ia mengungkapkan seharusnya pernyataan tersebut dibarengi dengan kebijkan dan perintah kepada kemenristek dan kemenkes serta lembaga lainnya untuk melakukan koordinasi dan kerjasama untuk penemuan vaksin covid-19 serta mendukung dengan anggaran riset di Kemenristek, bukan malah memotongnya.

Pernyataan Jokowi pun juga membuat resah Dokter Eko Ketua ARSSI Cabang Kota Bekasi, ia mengungkapkan bahwasanya pernyataan berdamai dengan corona menurut Jokowi takutnya diartikan oleh sebagian masyarakat ya sudah kita terima saja. Melihat kenyataan ini, seolah pernyaataan tersebut diungkapkan rezim tanpa usaha yang memadai. pasalnya tenaga medis yang berdiri di garda terdepan akhirnya berjatuhan satu persatu disebabkan kurangnya fasilitas kesehatan. Eko menilai berdamai dengan corona dapat diartikan sebagai dancing with covid-19.

Hal ini menjadi bukti bahwasanya rezim yang berdiri bukan untuk kepentingan rakyat sudah hilang rasa empatinya. Itulah kenapa baru-baru ini sempat viral di jagat media sosial dengan tagar #IndonesiaTerserah, hal tersebut merupakan bentuk ketidakterimaan pihak tenaga medis terhadap kebijakan pemerintah mengenai PSBB, social distanting, dll yang sudah nampak kelonggarannya. Tenaga medis dibiarkan berdiri di garda terdepan melawan covid-19 sedangkan rezim hanya bisa bermain diksi di tengah air mata kerinduan tenaga medis kepada sanak keluarganya.

Hal semacam ini sudah dianggap tabu di sistem saat ini. Bukan hanya saat covid-19 menyerang, sebelumnya pun pemerintah sudah menunjukkan ketidakpekaan terhadap rakyat. Bagaimana mungkin covid-19 yang sudah menelan banyak korban diajak berdamai oleh orang nomor satu Indonesia. benar saja, pemimpin plin plan hanya akan melempar diksi ambigu kepada masyarakat.

Berbeda halnya dengan islam untuk mengani wabah yang sudah memasuki pandemi. Islam memili konsep sempurna untuk menekan arus wabah agar tidak memakan banyak korban lagi. Salah satunya adalah mengunci daerah yang terkena wabah, sebagaimana dalam hadis Nabi SAW “ Apabila kamu mendengar ada wabah di suatu negeri, maka janganlah kamu masuk ke negeri tersebut. dan apbila kamu berada di negeri yang terkena wabah maka janganlah kamu keluar darinya.” (HR Muslim). Ini merupakan konsep sempurna yang diajarkan islam untuk penganan wabah seperti covid-19.

Selayaknya khalifah Umar bin khatab yang gesit menangani krisis perekonomian selama terjadi wabah. Mungkinkah sosok yang penuh dengan pencitraan berdiri sebagai Pahlawan sehari saja? Sosok pemimpin dalam islam layaknya Khalifah Umar hanya berpegang teguh dengan Syariah Allah bukan blusukan. 

Hal seperti ini hanya di dapati apabila negara menerapkan syariah Islam secara kafah di tiap lini kehidupannya, maka baldatun tayyibun ghafur akan tercipta.

Wallahu’alam bi as-shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update