Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ibu, Pendidik Pertama dan Utama

Monday, April 06, 2020 | Monday, April 06, 2020 WIB Last Updated 2020-04-06T12:47:05Z


Oleh : Pri Afifah
Komunitas Generasi Islam dan Peradaban, Member Akademi Menulis Kreatif (AMK)

Dalam rangka mengantisipasi penyebaran virus corona jenis baru atau Covid-19 di lingkungan sekolah, sejumlah sekolah dari mulai jenjang TK, SD, SMP, dan SMA diliburkan. Sebagai gantinya kegiatan belajar mengajar dilakukan di rumah. Siswa tetap mendapatkan tugas dari guru, meski berada di rumah. Sekilas menyenangkan, karena siswa lebih santai belajarnya. Tidak harus formal belajar di sekolah seperti biasanya. Orang tua juga akan lebih mudah mengontrol anak-anaknya.

Namun, hal itu seperti mimpi di siang bolong. Pada kenyataannya banyak ibu yang tidak siap melakukan kegiatan belajar mengajar di rumah. Banyak faktor penyebabnya, misal ketidakmampuan ibu untuk mengajarkan tugas sekolah anak, tidak terpenuhinya fasilitas belajar mengajar yang lengkap, seperti kepemilikan gadget dan kuota.

Banyak pula kendala yang harus dilewati oleh para orang tua dalam pendampingan anak. Ketidakmampuan dalam mendidik karena tidak memiliki ilmu, tidak selaras visi misi keluarga dengan sekolah, waktu yang terbatas bersama anak, juga rasa malas yang menghinggapi ibu menjadi kendala dalam pendampingan belajar. Sehingga, pola pendampingan anak tidak berjalan optimal.

Ibu adalah madrasah pertama dalam proses pendidikan anak-anaknya. Ia membawa peran penting dalam kehidupan. Jika ia salah dalam mendidik, menanamkan akidah, mengajarkan akhlak, tentu akan menjadi awal kehancuran. Maka sudah selayaknya untuk menjadi ibu tangguh perlu dukungan dari berbagai pihak. Suami, keluarga besar, bahkan negara.

Dalam Islam, wilayah kepemimpinan seorang ibu ada di rumahnya, kelak ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.

“Wanita adalah pemimpin dalam rumah tangganya, dan bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya.” (HR. Bukhari)

Ketika kondisi saat ini memaksa para ibu tetap berada di rumah, maka tidak perlu panik apalagi sampai stres mendampingi anak sepanjang harinya. Islam sudah menetapkan bahwa peran ibu di dalam rumah begitu mulia. Ia diberi tanggung jawab terhadap pengasuhan anak. Mulai dari kehamilan, menyusui, serta pengasuhan. Ini adalah tanggung jawab utama seorang ibu dalam keberlangsungan sebuah generasi.

Maka betapa pun banyaknya aktivitas seorang ibu, tetap kewajiban utamanya adalah sebagai ummu warabbatul bayt (ibu dan pengatur rumah tangga). Baik sebagai istri dari suaminya, maupun ibu dari anak-anaknya.

Aktivitas seorang ibu di rumah, mengasuh, mendidik anak-anaknya adalah aktivitas yang alami bagi setiap ibu dalam Islam. Jadi, meskipun dalam situasi wabah Covid-19 ini kemudian memindahkan aktivitas belajar anak ke rumah adalah aktivitas yang alami. Ibu tidak perlu menyesuaikan diri lagi, karena sejatinya pendidikan anak dimulai dari rumah. Jikalau peran utama seorang ibu sudah dipahami, maka dalam kondisi apapun ia telah siap mendampingi anak. Hanya perlu kesiapan lebih besar dalam kondisi wabah seperti ini.

Namun, disaat kita hidup dalam sistem kapitalis, dimana negara tidak taat dengan aturan Allah Swt. Maka kebijakan ini menjadi beban tersendiri bagi sebagian orang. Dalam sistem kapitalis, seorang ibu tidak utuh menjadi pendidik dan pengurus rumah tangga saja. Kebanyakan ibu harus membantu perekonomian keluarganya. Maka kebijakan ini akan menjadi beban baginya. Di dalam sistem ini pula, memaksa sebagian kaum ibu untuk bekerja, sehingga memberikan beban ganda bagi para ibu.

Berbeda halnya dalam negara khilafah, perempuan berhak diberi nafkah yang layak secara sempurna, sehingga para perempuan tidak perlu bekerja meski dalam batas-batas yang dibolehkan. Seorang suami diberi tanggung jawab untuk memberikan nafkah kepada istrinya secara layak. Jika suami tidak mampu karena sakit atau meninggal, maka beban nafkah akan ditanggung oleh ayahnya. Seorang ibu tidak diwajibkan untuk bekerja guna mencukupi kebutuhannya, sehingga ia dapat secara sempurna menjalankan peran utamanya mendidik dan menjaga generasi.

Wabah ini tidak tahu kapan akan berakhir, anak-anak akan tetap bersekolah di rumah sampai ada batas waktu penentuan berakhirnya darurat Covid-19. Aktivitas ini akan berat bagi ibu, tetapi ibu harus senantiasa sadar bahwa aktivitas di rumah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt. Ini adalah saat yang tepat untuk lebih dekat dengan anak-anak. Karena di dalam rumah bukan semata-mata menghindari wabah, tetapi lebih dari itu, yaitu balasan surga bagi para ibu yang bertakwa.

Wallahu a'lam bishshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update