Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dilema Sekolah di Rumah

Saturday, April 18, 2020 | Saturday, April 18, 2020 WIB Last Updated 2020-04-18T15:53:55Z
Oleh: Kara

Wabah yang melanda dunia, dan tidak terkecuali Indonesia pun ikut mengalaminya yaitu wabah Covid-19. Virus ini membuat panik sejagat raya, pasalnya, virus ini mudah sekali menyebar dan rentan menyerang orang lanjut usia, dan orang yang memiliki riwayat penyakit pernafasan beresiko lebih tinggi. 

Jumlah kematian akibat Covid-19 kian hari kian meningkat, butuh kewaspadaan untuk menanganinya dengan cepat dan tepat. Akibat dari Covid-19 ini, semuanya berubah secara spontan, para pekerja dirumahkan dan bekerja dari rumah, pabrik banyak yang tutup, UKM pun libur, tidak ketinggalan para pelajar dari tingkat PAUD sampai jenjang perguruan tinggi pun diliburkan dan belajar dari rumah.

Bahkan informasi terakhir bahwa proses belajar di rumah bagi siswa-siswa diperpanjang hingga 22 April. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Lampung memperpanjang libur sekolah hingga 22 April 2020. Hal itu sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19 (Lampungpost.co, 27/03/20).

Perpanjangan libur sekolah ini pun memicu kegagapan bagi para ibu yang belum siap dan ibu yang berkarir. Bagi ibu-ibu yang belum siap membimbing dan bagi ibu yang berkarir, biasanya dari pagi sampai sore dihabiskan untuk bekerja sehingga menyerahkan pendidikan putra putrinya hanya di sekolah. Namun, akibat covid-19 ini pun mereka mau tidak mau harus terjun membantu putra putrinya belajar di rumah. 

Apakah tidak ada masalah? Nyatanya, banyak sekali para ibu yang berkeluh kesah akan kondisi ini. Dengan segala drama yang terjadi saat proses membimbing belajar di rumah, para ibu menjadi pusing, stres, bahkan tingkat kemarahannya pun meningkat. Keadaan ini pun seperti menohok fitrah seorang ibu, yang wajib membimbing putra-putrinya. Ini pun menunjukan tidak adanya kesiapan untuk membimbing anak dalam menuntut ilmu. 

Banyak para orang tua hari ini menyerahkan pendidikan seluruhnya kepada sekolah, tidak sedikit orang tua menyalahkan sekolah atau guru ketika hasil yang didapat kurang memuaskan untuk mereka. Sekolah dituntut sempurna dalam mendidik putra-putrinya, tidak hanya dalam ilmu sains dan teknologi, namun dalam membimbing akhlak tidak jarang orang tua menyerahkan seluruhnya kepada sekolah tanpa membimbingnya di rumah karena kesibukan pribadinya. 

Dari wabah dan keadaan ini menjadi lebih tergambar betapa sulitnya mendidik dan membimbing putra-putri. Jadi, ketika pendidikan seluruhnya diserahkan kepada guru sungguh sangat tidak etis, karena tugas mendidik anak yang utama ada pada ibu. 

Sejatinya dalam Islam ibu berperan sebagai madrasah al-ula  (Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya), ibu sejatinya adalah sekolah pertama dan sekolah utama bagi anak-anaknya. Karena, dari seorang ibulah bisa lahir anak-anak hebat, anak yang cerdas, ilmuwan, ulama, dan lain sebagainya. Banyak kisah para ulama yang menceritakan kehebatan seorang ibu dalam membimbing anaknya, sehingga anaknya pun menjadi generasi emas yang berguna bagi agama dan dunia. Seperti kisah Ibunda Imam Asy-Syafi'i yang membesarkan, mendidik, dan memperhatikannya hingga kemudian Muhammad bin Idris asy-Syafi’i menjadi seorang imam besar. 

Selain itu, kisah Muhammad Al-Fatih penakluk Konstantinopel, setelah shalat subuh, Ibu Sultan Muhammad al-Fatih mengajarinya tentang geografi, garis batas wilayah Konstantinopel. Ia berkata, “Engkau wahai Muhammad akan membebaskan wilayah ini. Namamu adalah Muhammad sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ. Muhammad kecil pun bertanya, “Bagaimana aku bisa membebaskan wilayah sebesar itu wahai ibu? Dengan Alquran, kekuatan, persenjataan, dan mencintai manusia”, jawab sang ibu penuh hikmat." (https://kisahmuslim.com/5227-ibunda-para-ulama.html). 

Kisah di atas adalah gambaran kisah bahwa di balik anak yang hebat ada ibu yang cerdas dan siap membimbing. Menjadi seorang ibu tidaklah mudah, perlu ilmu. Layaknya sekolah, ibu sejatinya adalah ‘gudang ilmu’, ‘pusat peradaban’ dan ‘wadah’ yang menghimpun sifat-sifat akhlak mulia. Hanya dari ‘sekolah’ semacam inilah lahir anak-anak yang shalih, cerdas, alim, berakhlak mulia, memiliki semangat jihad yang tinggi dan seluruh sifat-sifat agung mukmin bertakwa.

Dari keadaan ini semoga menjadikan instrospeksi dan pelajaran berharga, baik bagi para ibu maupun calon ibu, bahwa membimbing putra-putri tidaklah mudah, butuh persiapan, dan butuh pengorbanan demi generasi cemerlang yang akan menjadi penerus peradaban. 

Wallahu'alam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update