Nama : Ummu Zhafran
Pegiat Opini, Member Akademi Menulis Kreatif
Tak terasa berbilang minggu seruan #dirumahaja menggema. Tepatnya sejak pandemi virus Corona menyapa Indonesia. Tak hanya negeri ini, dunia pun tak luput dilanda wabah yang penyebarannya luar biasa. Dampaknya merembet hingga ke mana-mana. Mulai sekolah yang diliburkan, transportasi publik yang dibatasi dan segala yang sifatnya berkerumun tak lagi dibiarkan begitu saja.
Di antara imbas yang terberat, tak lain goyahnya sendi-sendi ekonomi secara fatal. Sebab tak bisa dielakkan ekonomi merupakan penggerak roda kehidupan berbangsa yang vital. Setidaknya menurut ideologi kapitalisme yang mendominasi dunia saat ini.
Sinyal keruntuhan kapitalisme begitu telanjang di depan mata. Salah satunya dari International Monetary Fund (IMF). Menurut lembaga keuangan dunia ini, virus Covid-19 telah mendorong ekonomi global ke dalam resesi. Seluruhnya akibat negara-negara yang terimbas -tentu yang menerapkan kapitalisme- harus merespons dengan pengeluaran stimulus yang sangat besar untuk menghindari kebangkrutan dan gagal bayar utang. Diperkirakan butuh sekitar 2,5 triliun dolar Amerika untuk dapat melewati krisis dan menyelamatkan diri. (liputan6.com, 6/4/2020)
Sebelumnya, bursa saham global penopang ekonomi non real pun jatuh. Para ekonom dari perusahaan keuangan kakap, Goldman Sachs Group Inc dan Morgan Stanley sudah pula menganalisis senada dengan IMF.
Bahkan hingga pekan lalu, nilai saham yang terhapus dari pasar saham di Amerika Serikat mencapai setidaknya sekitar US$8 triliun atau sekitar Rp132 ribu triliun. (tempo.co, 24/3/2020)
Berikutnya bak efek domino, pertumbuhan ekonomi Asia di tahun 2020 juga menuju collapse. IMF memprediksi Asia bakal "terhenti". Ini pertama kalinya terjadi dalam 60 tahun terakhir. Kembali, pandemi corona (COVID-19) dituding jadi pemicu. (cnbc.com, 16/4/2020)
Akankah dunia menuju titik nol, dengan tumbangnya peradaban yang dibangun kapitalisme? We will see.
Runtuhnya Kapitalisme, Sebuah Keniscayaan
Tanda-tandanya semakin dekat. Wajar saja, sebab sejak awal prinsip-prinsip utama Kapitalisme minus realitas. Dalam ekonomi, misalnya Kapitalisme sangat bergantung pada prinsip “kelangkaan relatif” yang menunjukkan bahwa sumber daya yang tersedia di pasar tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang yang menginginkan sumber daya tersebut.
Nyatanya, dunia memiliki sumber daya yang jauh lebih banyak daripada yang dapat dikonsumsi orang pada waktu tertentu. Melansir dari organisasi internasional Oxfam menyebutkan, sekitar 500 juta orang di dunia meluncur ke jurang kemiskinan.
Pasalnya, pendapatan dan konsumsi rumah tangga yang tertekan seiring dengan kian rendahnya aktivitas perekonomian, lalu lintas barang dan jasa di tengah pandemi. (kompas.com, 9/4/2020)
Jelas terlihat bukan jumlah sumber daya alam yang terbatas namun distribusinya yang cacat dan rusak yang menyebabkan kemiskinan.
Lebih jauh, Kapitalisme juga tegak di atas premis yang keliru. Premis bahwa manusia di dunia ini bebas dari segala batasan yang diberikan dan aturan Allah. Hingga berasumsi bahwa Tuhan (jika memang ada) tak berperan dalam kehidupan. Bahkan gagap dalam menjawab persoalan pelik dalam hidup manusia.
Sungguh asumsi yang keliru luar biasa. Terbukti bahwa Tuhan secara aktif terlibat dalam kehidupan manusia. Ini adalah fakta yang diakui oleh hampir semua orang di dunia yang mengakui adanya para nabi dan rasul, di samping keberadaan Tuhan itu sendiri.
Kenyataan bahwa Allah menunjuk nabi dan rasul membawa risalah syariat harusnya cukup membuktikan Allah Maha Pengatur. Tapi tidak, kapitalisme dengan asas sekularismenya justru menolak campur tangan Tuhan dari kehidupan.
Satu hal lagi yang mengirim sinyal terparah bakal ambruknya kapitalisme, yaitu ekonomi gelembung (bubble economics) yang ditandai adanya bursa saham, pasar uang, dan riba. Hal ini memungkinkan kekayaan suatu negara bisa berkali lipat lebih besar dari ukuran perekonomian yang sebenarnya. Padahal semua hanya ilusi. Ibarat busa sabun, banyak dan besar namun amat rapuh.
Dalam bukunya, A New Democracy: Alternatives to a Bankrupt World Order, Hurry Shutt, menulis bab berjudul “Capitalist Crisis and Threat to US Hegemony.” Shutt mengungkap berbagai krisis yang ditimpakan oleh kapitalisme pada dunia pasca Perang Dingin berakhir.
Krisis ekonomi, runtuhnya kekuasaan sipil di berbagai negara, meningkatnya angka pengangguran, degradasi moral, hancurnya nilai-nilai keluarga dan kemiskinan, telah menyeret ideologi Barat ini ke titik yang paling rendah alias nol.
Layaknya kurva parabola, dinantikan pengganti yang mampu mengangkat kembali peradaban dunia ke level yang bermartabat dan benar sesuai tuntunan Pencipta.
Siapa Dia?
Di balik wabah akibat Covid19, ada hikmah yang bisa dipetik. Sudah tentu melihatnya harus dengan kacamata iman. Keberadaan organisme yang tak kasat mata namun sanggup membombardir dunia tak ayal bikin banyak orang mulai kembali di jalan Allah. Sadar penuh akan Rabb yang Maha Kuasa lagi Maha Berkehendak.
Dunia pun berbondong-bondong menghadapkan wajah pada Islam dan syariat-Nya yang mulia.
Terlebih kebangkitan intelektual dan politik di Dunia Islam sejak dulu hingga detik ini melaju tak tertahankan. Para peneliti Barat pun mengakui bahwa bangkitnya Islam kaffah adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Islam sebagai ideologi dianggap layak untuk menggantikan posisi kapitalisme yang diusung Amerika. Mereka menilai Islam berpotensi memimpin dunia. (NIC Report, Mapping the Global Future, 2004)
Jika mereka bisa begitu yakin, bagaimana dengan kita yang mengimani Allah dan Rasulullah Saw beserta risalah yang dibawa beliau?
Sederhana. Cukuplah Kalam Allah yang Maha Benar,
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diredai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada menyekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS An Nuur :55) Wallaahu a'lam


No comments:
Post a Comment