Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menakar Ketahanan Keluarga di Tengah Pandemi

Saturday, April 18, 2020 | Saturday, April 18, 2020 WIB Last Updated 2020-04-18T04:17:39Z
Oleh : Fitria A, S.Si

Sudah sebulan lebih sejak Presiden RI mengumumkan 2 orang terinfeksi Covid-19. Tepatnya pada 2 Maret 2020. Hingga sampai saat ini wabah ini sudah tersebar di 34 propinsi dengan jumlah 4.557 kasus positif, 380 pasien sembuh dan 399 yang meninggal.

Sejak saat itulah segala ritme kehidupan berubah total. Sekolah diganti dengan belajar di rumah, baik itu dengan moda daring ataupun dengan memberikan kisi-kisi saja kepada orangtua agar membantu belajar anak-anak di rumah. Beberapa lembaga dan instansi menerapkan WFH (Work From Home) bagi karyawan dan pegawainya. Berbagai aktivitas lain juga berubah. Misalnya aktivitas belanja sambil jalan-jalan di Mall atau sekedar makan-makan di rumah makan atau cafe-cafe yang ada. Tak pelak hal ini mengakibatkan perputaran ekonomi berubah drastis.

Ditambah lagi menjelang ramadhan begini, biasanya masyarakat disibukkan dengan belanja-belanja keperluan puasa dan lebaran. Baik itu untuk konsumsi pribadi ataupun untuk membelikan sanak famili. Dengan keputusan adanya larangan mudik, otomotis berbagai kebutuhan yang sedianya akan dibeli, jadinya dbatalkan dengan alasan tidak mudik atau tidak saling silaturahmi. Ditambah dengan berkurangnya pendapatan juga akan mengurangi daya beli masyarakat.

Hampir 24 jam keluarga senantiasa bersama, jika di China selama masa lockdown warganya hanya di rumah saja banyak terjadi. "Jumlah pasangan yang bercerai melonjak jika dibandingkan sebelumnya (wabah menyebar)," kata Lu seperti dikutip Daily Mail Jumat (13/3/2020). Lu menerangkan, karena menghabiskan banyak waktu di rumah, mereka cenderung berdebat sengit dan secara terburu-buru memilih berpisah. Faktor lainnya adalah karena lambatnya penanganan, buntut dari tutupnya kantor pemerintah selama sebulan di saat karantina berlangsung. Tak hanya Dazhou, kantor pencatatan pernikahan di Xi'an, Provinsi Shaanxi, juga melaporkan tingginya pasangan yang ingin bercerai sejak dibuka pada 1 Maret. (https://www.kompas.com).

Tidak dipungkiri sejak seruan untuk di rumah saja, beberapa perusahaan yang tidak bisa membayar karyawan karena jumlah produksi menurun, memaksa untuk mengurangi jam kerja buruhnya atau bahkan melakukan PHK. Pedagang-pedagang kaki lima pun terdampak karena jarangnya warga yang keluar rumah untuk membeli. Tentu saja dengan angkutan-angkutan umum. Sehingga secara ekonomi, pasti banyak keluarga yang kemudian terdampak dengan berkurangnya penghasilan. Hal ini bisa menjadi pemicu pertengkaran dan berujung dengan perceraian.

Demikian juga dengan pembelajaran yang diterapkan sekolah dengan merumahkan siswanya bukan dengan nama libur, maka mau tidak mau orangtua yang biasanya menyerahkan tanggungjawab pendidikan kepada pihak sekolah, menjadi sibuk untuk membantu tugas-tugas anak yang tidak hanya membutuhkan waktu orangtua, namun juga pikiran, tenaga dan biaya. Jika kedua orangtua tidak mampu dan saling melempar tugas ini, hal ini pun bisa menjadi pemicu pertengkaran yang berujung pada perceraian. 

Lantas bagaimana agar hal ini tidak terjadi ketika pandemi ini mewabah di Indonesia?
Maka perhatian tidak boleh hanya tertuju bagaimana penanganan orang yang terpapar. Baik yang sudah positif, ODP maupun PDP saja. Namun penanganan baik itu secara ekonomi dan juga metode pembelajaran yang mudah difahami orangtua untuk disalurkan kepada anak-anak menjadi suatu hal yang menyenangkan sekaligus mendekatkan hubungan dalam keluarga penting untuk diperhatikan.

Hal ini tidak akan terjadi, jika orangtua tidak memahami filosofi bahwa tanggungjawab pendidikan ada di tangan orangtua. Sekolah atau lembaga pendidikan lainnya hanyalah membantu orangtua dalam mentransfer ilmu dan menanamkan kebiasan-kebiasan baik sesuai dengan agama kepada anak-anak. Sehingga ketika saat pandemi memaksa semua orangtua untuk berperan serta aktif terhadap tugas-tugas anak terutama yang masih duduk di bangku PAUD dan SD, maka yang ada di benak orangtua adalah kesadaran untuk semakin menyadari bahwa inilah saatnya orangtua benar-benar bertanggungjawab kepada anak dengan lebih utuh. Dengan menyadari pahala yang dijanjikan Allah SWT kepada orangtua yang memberikan pengajaran kepada anak-anaknya, juga akan memberikan motivasi yang kuat dengan rela dan ikhlas dengan segala kesulitan yang dihadapi ketika mengajari anak-anak.

Kondisi ekonomi yang berubah pun, juga tidak akan mengakibatkan cekcok dalam rumahtangga, jika masing-masing pasangan menyadari bahwa Rizki yang Allah berikan memang terserah yang membagi rizky. Ada kalanya melimpah adakalanya pas atau bahkan kurang. Pasangan suami istri harus menyadari bahwa saat ini memang rizky yang Allah berikan sedikit, dengan segera untuk menata ulang kebutuhan-kebutuhan yang hendak dibeli tidak seperti biasanya ketika penghasilan penuh. Ketika seseorang faham qodlo Allah, maka dia akan menyadari bahwa baik ada pandemi maupun tidak berarti hari ini atau bulan ini, memang Allah menggariskan rizki besarannya sekian. Apalagi juka ditambah dengan menyadari bahwa kondisi ini juga banyak yang mengalami. Kita tidak sendiri.
Di sisi lain, bagi masyarakat yang tidak terdampak karena memang gajinya tetap. Seperti PNS, TNI, POLRI atau juga pegawai-pegawai swasta yang tidak mengurangi gaji karyawan karena semua pekerjaan bisa dikerjakan dari rumah, maka ini merupakan kesempatan yang sangat luas baginya untuk membantu sesama yang terdampak. Hal ini sudah banyak di media televisi maupun media sosial maraknya aksi-aksi sosial semacam ini.

Namun, bagaimanapun Negara sebagai pengatur urusan rakyatnya seyogyanya tetap melakukan pemastian-pemastian kepada warga negaranya. Hal pertama yang harus dipastikan adalah memastikan setiap warga negaranya bisa makan di tengah pandemi. Kemudian memastikan setiap warganya memahami segala hal yang berkaitan dengan pandemi. Sehingga dengan kesadaran penuh akan melaksanakan setiap arahan-arahan dan menjauhi segala aktivitas yang berdampak pada semakin meluasnya orang yang terpapar. Berikutnya adalah memastikan setiap warganya mempunyai pondasi agama yang kuat sehingga berbagai ujian dan cobaan yang menimpa termasuk segala dampak akibat pandemi mampu dilalui dengan baik. Semua ini akan terwujud dan dapat dilalui dengan baik jika baik individu dalam keluarga maupun negara berpegang teguh pada tali agama Allah. Yakni aturan Islam. “Wa’tashimu bi hablillahi jami’an wa la tafarroqu”
Wallohu ‘alam bi showab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update