Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Vaksin Untuk Covid 19

Friday, March 20, 2020 | Friday, March 20, 2020 WIB Last Updated 2020-03-20T07:14:37Z

Abu Mush'ab Al Fatih Bala
(Pemerhati Politik Asal NTT)

Lock Down merupakan cara yang paling efektif untuk menghilangkan wabah CoronaVirus (Covid 19) yang berasal dari Wuhan China bila dilakukan secara sempurna. Lock down semestinya dilakukan pada akhir bulan November ketika wabah ini dikenal oleh seluruh dunia.

Setiap negara semestinya menutup akses dari dan menuju China. Agar tidak ada media yang bisa dipakai oleh Covid 19 untuk menyebarkan daya jangkit dan merusaknya. Namun sebagian negara terlambat menutup akses mobilitas ini.

Sebagian lagi terlambat melakukan lock down. Bahkan ada yang gagal paham dalam implementasi lock down. Lock down hanya berlaku bagi pelajar dan sebagian besar kantor dan bukan untuk seluruh wilayah.

Masih bebasnya akses keluar masuk WNA China, belum ditutupnya transportasi, kurangnya edukasi kepada masyarakat tentang tingkat bahaya dan pentingnya lock down diduga memberikan "celah" bagi Covid 19 untuk berkembang. Harapan masyarakat sekarang adalah semoga orang yang terbukti positif Corona bersedia mengisolasi dirinya tidak bercampur baur dengan masyarakat dan semoga pemerintah bersedia mengupayakan langkah antisipatif dan kuratif terhadap pasien Covid 19.

Selain upaya lock down harapan lainnya adalah semoga cepat ditemukan Vaksin yang bisa menangkal Covid 19. Memang untuk penyakit MERS yang virusnya adalah Corona jenis lama belum ditemukan vaksinnya sehingga diduga ada pesimisme dalam menemukan vaksin untuk Corona jenis baru: Covid 19.

WHO mengatakan vaksin untuk Covid 19 baru siap 18 bulan kemudian sejak viralnya wabah ini pada Desember 2019 berarti baru bisa diproduksi bulan Juli 2021. Amerika Serikat mengatakan sudah menyiapkan jutaan vaksin untuk Covid 19 dan siap dijual. Sayangnya vaksin asal AS ini lebih dilandasi oleh semangat kapitalisme dan masih memerlukan uji coba keberhasilannya.

Di Indonesia, wapres mengatakan di salahsatu media bahwa pemerintah akan menyediakan vaksin untuk mengatasi Corona. Semoga jika ditemukan vaksinnya jauh dari kepentingan bisnis tetapi murni untuk kesehatan dan nyawa masyarakat. Sedangkan di lain pihak Indonesia berencana untuk mengimpor alkes dari China yang tidak diberikan gratis kepada warga negara.

Yang paling diperlukan oleh masyarakat saat ini adalah titik terang pemberantasan Covid 19 yang salahsatunya bisa dilakukan dengan variolasi atau vaksinasi. Vaksin bisa segera ditemukan asal ada komitmen dan dukungan dari negara.

Seperti yang dicontohkan oleh Daulah Khilafah. Pada masa nya Kaum Muslimin dalam satu kepempinan sehingga potensi umat bisa dimaksimalkan. Negara menyeleksi mereka yang punya kemampuan untuk memajukan ilmu pengetahuan.

Para ilmuwan dibayar mahal melalui kas negara (baitul mal) untuk penemuan mereka. Ada ulama yang bukunya ditimbang dan dibayar dengan emas sebesar berat bukunya.

Sehingga para ilmuwan berlomba-lomba memajukan iptek karena kecerdasan mereka dihargai dengan materi yang setimpal. Di dunia kesehatan ada ulmuwa Ar Razi (Rhazez nama panggilannya di barat) adalah orang pertama penemu konsep dasar vaksin smallpox. Buku penelitiannya yang berjudul "Al Jadari wa Al Hasba" disimpan rapi di Perpustakaan Leiden University, Belanda.

Seorang yang bernama Lady Mary Wortley Montagu asal Inggris, Ia terkena wabah smallpox dan merusak wajah serta menyebabkan saudaranya meninggal di usia muda. Ketika suaminya diangkat menjadi duta Inggris di Turki, mereka pindah ke Turki dan ia melihat sendiri teknologi variolasi ini di Turki. Ia melakukan (imuniasi ini) pada anak-anaknya juga, lalu ia memperkenalkan metode ini ke dokter Inggris dan menjadi metode yang ampuh saat itu untuk mencegah wabah. Barulah metode ini dikembangkan oleh ilmuan Eropa setelahnya semisal Edward Jenner dan lain-lain (https://muslimafiyah.com/temuan-vaksin-oleh-ilmuan-islam.html).

Inilah kejayaan ilmuwan Islam dalam sistem Khilafah. Jadi berbicara tentang wabah bukan saja tentang social distancing tapi juga upaya pengobatannya via vaksin.

Para ilmuwan di dunia Islam banyak dan melimpah namun banyak dari mereka yang hengkang ke negara-negara Eropa maupun AS karena kemampuannya tidak dihargai. Bahkan banyak kepentingan politik tertentu yang merintangi prestasi ilmuwan Muslim.

Pada zaman milineal ini ada ilmuwan muda yang mampu menciptakan robot dan memenangkan olimpiade robot internasional, menemukan getah karet sebagai penghasil listrik, penemu kotak hitam beresonansi bunyi untuk menangkap nyamuk. Mereka memerlukan sebuah negara yang maksimal dalam menyediakan fasilitas penelitian termasuk dalam keadaan darurat corona seperti sekarang.

Ada penelitian yang telah melihat struktur protein dari Covid 19. Tinggal melakukan penelitian yang bisa menemukan vaksinnya.

Sistem Islam mampu menopang itu semua karena sistem Islam membuat negara mandiri bebas dari tekanan asing, riba, korupsi dan memaksimalkan dana untuk penelitian. Para ilmuwan Muslim bisa berkontribusi untuk segera mendapatkan vaksinnya. Pemimpin negara tinggal menyebarkan vaksinnya secara gratis tanpa harus meminta bantuan dari luar negeri. []

Bumi Allah SWT, 20 Maret 2020

#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update