By : Yeni Marlina, A.Ma
(Pemerhati Kebijakan Publik, Aktifis Muslimah)
Setiap orang adalah pemimpin, pemimpin bagi dirinya, bagi kelurganya, masyarakat bahkan negara. Dan setiap kepemimpinan akan diminta pertanggung jawaban kelak. Pemimpin atau "leader" memiliki visi dan misi selangkah diatas rata-rata yang dipimpin. Sejogyanya wajar kepemimpinan memiliki kriteria yang melekat dengan amanah kepemimpinannya.
Kepemimpinan skala negara adalah kepemimpinan yang tinggi. Posisi yang bisa mengatur seluruh rakyat, serta menjamin terealisasinya seluruh kebutuhan mereka. Seluruh rakyat merasa nyaman dan mendapat perlindungan darinya.
Memang sulit untuk menemukan sosok pemimpin ideal, terlebih lagi dimasa sekarang. Kehidupan semakin sulit, hajat publik kurang memadai dan keamanan menjadi barang langka. Wajar, karena ada kesenjangan jurang yang nyata antara rakyat dan pemimpin. Pemimpin melakukan apa yang diinginkan, sementara rakyat juga sibuk memburu kebutuhan hidup. Perlindungan tidak lagi menjadi harapan rakyat dari pemimpin yang sudah kadung sering mengecewakan.
*//Kisah Sosok Pemimpin Teladan Umat//*
Sepenggal kisah para pemimpin hebat harus dihadirkan ke tengah-tengah umat. Agar menstimulasi rasa rindu hadirnya sosok yang demikian. Para khalifah yang banyak silih berganti dimasa kejayaan Islam 13 abad lebih lamanya. Cukup menjadi gambaran betapa mereka telah menampilkan sosok-sosok agung yang bisa dibanggakan. Karena mereka punya dorongan yang sama bahwa memimpin adalah amanah dan dijalankan sesuai syariah. Sekalipun ditemui dimasa-masa tertentu ada kekurangan semata-mata karna aspek kemanusiaan. Bukan karena kelemahan syariah.
Rasulullah telah mencontohkan kepemimpinan sejak diutus menjadi nabi dan rasul, hingga masa awal kejayaan Islam. Mampu memimpin sebuah negara Islam di Madinah al-Munawarah. Tidak diragukan lagi bagaimana gaya kepemimpinan nabi Muhammad saw. Dan dilanjutkan pada masa kepemimpinan para khalifah, Khulafaur Rasyidin dan para khalifah yang banyak setelah itu. Masing-masing mereka memiliki kekuatan dan kepiawaian dalam kepemimpinan.
Mereka mencintai rakyatnya dan sebaliknya, rakyatnyapun cinta pada mereka. Sungguh bersama mereka rakyat menjadi aman dan nyaman, rasa rindu untuk bertemu dengan kehadirannya selalu ada di hati rakyat. Para pemimpin ini tentu memiliki kelebihan dalam kisah hidupnya.
Dikenal sosok pemimpin di masa Islam, seorang khalifah yang masih muda belia, Sultan Mahmed II atau yang mashur Sultan Muhammad al-Fatih yang memerintah di Dinasti Turki Utsmani. Putra dari pasangan Sultan Murad II dan Turki Hatun binti Abdullah. Yang hidup di masa setelahnya Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (pahlawan perang salib).
Sejak kecil
Muhammad al-Fatih mendapatkan pendidikan yang cukup baik dari orang tuanya. Agar kelak menjadi pemimpin yang baik dan tangguh. Belajar kepada ulama telah menghantarkan al-Fatih paham sekali dengan Al Qur'an. Tak heran sejak kecil al-Fatih sudah menghafalkan Al-Qur'an 30 juz, mempelajari hadits-hadits, mempelajari ilmu fiqih, matematika, ilmu falaq dan strategi perang.
Bahkan mempunyai kepakaran dalam bidang kemiliteran, dan menguasai 6 bahasa. Dikenal sebagai seorang pemimpin yang hebat, pilih tanding dan tawadhu. Inilah sosok yang menjadi jawaban atas Sabda Rasulullah SAW yang di riwayatkan dalam hadits Ahmad berikut ini :
"Kota Konstatinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan"
Muhammad al-Fatih berhasil menaklukan kota konstatinopel, di usia 21 tahun. Usia yang sangat muda untuk ukuran saat ini. Al-Fatih menyiapkan 4 juta tentara untuk mengepung wilayah barat dan laut berlangsung selama 50 hari. Hingga berhasil menyebrangi 70 kapal laut hingga akhirnya berhasil menaklukan konstatinopel.
Selama proses penaklukan selain kemahiran strategi perang Al-Fatih tak henti-hentinya memompa keimanan pasukannya akan janji dan pertolongan Allah. Kesholehan Al-Fatih mampu menguatkan jiwa dan raga umat Islam, sekaligus menggentarkan musuh-musuh dihadapannya.
Lain lagi dengan sosok khalifah Umar bin Kattab pada masa khalifah al-rasyidin. Pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab, umat Islam di sekitar Madinah ditimpa bencana kelaparan yang telah menyebabkan wabah penyakit dan kematian.
Kelaparan dan penderitaan rakyat itu dirasakan oleh Umar sebagai penderitaan bagi dirinya. Karena itu, beliau bersumpah tidak akan mengecap daging dan minyak samin. ''Bagaimana saya dapat mementingkan keadaan rakyat, kalau saya sendiri tiada merasakan apa yang mereka derita,'' begitu kata Khalifah Umar yang amat berkesan pada waktu itu.
Suatu ketika, Umar bin Khathab pernah berkata, ''Kalau negara makmur, biar saya yang terakhir menikmatinya, tapi kalau negara dalam kesulitan biar saya yang pertama kali merasakannya.'' Sampai seorang sahabat pernah berkata, bila Allah tak segera mengakhiri bencana itu, maka Ali adalah orang pertama yang mati kelaparan.
Teladan kepemimpinan Umar bin Khathab ditemukan kembali pada sosok Umar bin Abdul Aziz, di masa pemerintahan Bani Umayyah tahun 717-720 M. Istri Umar bin Abdul Aziz, ketika menjawab pertanyaan orang-orang yang datang bertakziah atas wafatnya pemimpin teladan ini, istrinya menceritakan, ''Demi Allah, perhatiannya kepada kepentingan rakyat lebih besar daripada perhatiannya kepada kepentingan dirinya sendiri. Dia telah serahkan raga dan jiwanya bagi kepentingan rakyat.''
Rasulullah bersabda, ''Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban (di hadapan Allah) tentang kepemimpinannya.'' Maka, betapa tak terpujinya para pemimpin yang hanya berorientasi melanggengkan kekuasaan dan melupakan penderitaan rakyatnya.
Dan masih kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz ada yang lebih menarik,,rakyat miskin hampir tidak ada ditemui. Dibuktikan dengan sudah tidak adanya rakyat yang mau menerima zakat. Sampai-sampai sang khalifah meminta para amilnya untuk terus bekeliling mencari mustakiq. Sungguh sosok kepemimpinan yang luar biasa dalam pengaturan ekonomi umat.
Kemudian keunggulan yang dimiliki oleh khalifah al-Mu'tashim Billah, khaligah ke delapan dinasti Abbasiyah. Kota Amuriyyah yang dikuasai oleh Romawi kala itu berhasil ditaklukan oleh al-Mu'tashim. Pada penyerangan itu sekitar 3.000 tentara Romawi tewas terbunuh dan sekitar 30.000 menjadi tawanan. Hanya untuk menyelamatkan seorang wanita muslimah yang ditawan di sana. Wanita tersebut menyeru, "Wahai Muhammad, wahai Mu'tashim!" Setelah informasi itu terdengar oleh khalifah, ia pun segera menunggang kudanya dan membawa bala tentara untuk menyelamatkan wanita tersebut sekaligus menaklukannya. Seraya mengatakan,"Kupenuhi seruanmu,wahai wanita!".
Keputusan dan sikap tegas seorang khalifah walau hanya untuk seorang rakyatnya. Membuat sang khalifah begitu berwibawa mengemban amanah memimpin. Dan banyak lagi kisah-kisah yang merindu dari kalangan pemimpin di masa keemasan Islam.
Sikap luar biasa yang tertanam pada para pemimpin ini bukan tanpa sebab dan tujuan. Keimanan, ketaqwaan dan kesholehan mereka menjadi sebab begitu hati-hatinya dalam menjalankan amanah kepemimpinan. Untuk tujuan semata-mata menggapai ridho Allah subhahu wa ta'ala. Keputusan dan ketawadhuan mereka dituntun oleh syari'at bukan oleh hawa nafsu dan kepentingan sendiri apalagi untuk kepentingan bangsa asing. Karna model kepemimpinan Islam sangat berdaulat tidak tergantung pada yang lain.
Tampak perlindungan mereka terhadap rakyatnya melebihi diri mereka sendiri.
Ini hanyalah sepenggal kecil sejarah pemimpin Islam dimasa lalu, bukan sembarang sejarah. Namun sejarah yang akan berulang kembali karena Allah telah berjanji akan kembali memenangkan umat Islam.
*/Mengembalikan Kerinduan yang Hilang//*
Sosok langka bahkan hampir tak ditemui di masa sekarang, sudah hampir se-abad silam tepatnya 99 tahun hijriyah kekosongan kepemimpinan Islam membuat umat Nabi yang mulia ini menjadi rebutan para penguasa serakah yang mementingkan kekuasaan daripada rakyat.
Apa yang kita saksikan hari ini adalah gambaran nyata kepemimpinan yang tidak siap merelakan jiwa dan raganya untuk membela rakyat.
Sebelum wabah Covid-19 melanda dunia. Kita saksikan betapa beratnya penderitaan umat Islam, semoga tidak dilupakan kasus Palestina, Uighur, Patanni, Myanmar bahkan India. Darah kaum muslimin tertumpah membasahi kota-kota mereka tanpa akhir, kehormatan para wanita muslimah tak lagi terjaga.
Di negeri ini segala kecurangan, ketidakadilan hukum, pengelolaan aset negara yang tidak menguntungkan, bahkan mafia koruptor terus menggurita. Sementara rakyat semakin sulit menghadapi beban hidup, pengangguran bertambah. Sementara aset-aset negara dikuasai para pemilik modal, asing dan aseng.
Kini, menghadapi wabahpun pemimpin tak tampil bijaksana. Sementara hari-hari rakyat harus menangis dengan berita duka sanak keluarga karna korban Corona.
Nyatanya perlindungan terhadap kesehatan rakyat tidak tersedia dengan baik, sampai para petugas medispun harus bekerja dengan alat seadanya, merekapun ikut jadi syuhada. Sementara jumlah korban terus bertambah, terhitung hingga Sabtu, 28 Maret 2020 sebanyak 1.046 kasus 87 meninggal dan 46 dinyatakan sembuh -Covid19.go.id. Angka yang sangat fantastis dalam waktu beberapa minggu saja.
Nampaknya langkah "Social Distancing" atau "Physical Distancing" tidak cukup untuk mengurangi penularan.
Himbauan berdiam di rumah tidak efektif, karena tidak diiringi dengan antisipasi bagaimana agar kebutuhan tetap terpenuhi. Rakyat tentu tidak tahan kelaparan, dibelakang pencari nafkah ada anggota keluarga yang tidak bisa hanya diminta bersabar karena mereka butuh hidup.
Pemimpin sholeh dan bertaqwa tentunya tidak rela membiarkan rakyatnya terus terjangkit virus yang membahayakan. Bukankah negara memiliki banyak dana yang bisa menjamin kebutuhan hajat hidup orang banyak, bukankah sudah diatur dalam Undang-Undang.
Pasal 55 ayat 1 UU No.6/2018 : "Selama dalam karantia wilayah, kebutuhan hidup dasar orang dan makanan hewan ternak yang berada di wilayah karantina menjadi tanggung jawab pemerintah pusat".
Ternyata realitanya tak ada dana yang bisa dicairkan. Lalu bagaimana pengaturan keuangan negara selama ini??,,,menjadi tanda tanya. Inilah buah pahit sistem ekonomi berbasis kapitalis.
Kredibilitas seorang pemimpin menentukan kelayakannya untuk mendapat kata-kata rindu dari rakyat. Sikap yang dicontohkan oleh para khalifah di masa Islam, kondisi-kondisi paceklik, bencana alam atau wabah penyakit yang melarang penduduk untuk keluar-masuk wilayah. Seluruh kebutuhan mereka di tanggung negara. Negaralah yang akan mengatur pendistribusiannya. Hingga rakyat tidak perlu bersusah payah tinggal mengikuti arahan dan keputusan pemimpin.
Sosok yang mendekatkan hatinya pada rakyat. Menimbulkan kecintaan satu sama lain sebagaimana di gambarkan dalam hadits dari 'Auf Ibn Malik, berkata : Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:
"Sebaik-baiknya pemimpin kalian ialah orang-orang yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian, juga yang kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian. Sedangkan seburuk-buruk pemimpin kalian ialah orang-orang yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga yang kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.
'Auf berkata: Kami berkata: Ya Rasulullah, bolehkah kita memberontak kepada mereka? Beliau saw. bersabda:
Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah kalian."
(HR Muslim).
*//Penutup//*
Tibalah saatnya bagaimana mengulang kembali sejarah perjalanan panjang para pemimpin bijaksana. Keteladanannya sepanjang zaman, yang akan mengukir kembali peradaban agung dimasa yang akan datang. Pemimpin yang mengikuti Manhaj Nubuwah. Hadits bisyarah Rasulullah sebagai dasar keyakinan bagi hamba-hamba yang beriman :
«ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ» أخرجه أحمد عن حذيفة بن اليمان رضي الله عنه
"Kemudian ada khilafah yang mengikuti manhaj kenabian’ (HR Ahmad dari Hudzaifah bin al-Yaman ra).”
Untuk itu, seruan berjuang kembali menegakan hukum-hukum Allah dimuka bumi adalah sebuah kewajiban. Tinggalkan sistem Kapitalis yang semakin menyengsarakan menuju sistem Islam yang diridhoi Allah SWT.
أَفَحُكْمَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yaqin." (QS al-Maidah : 50).
Wallahu alam bi Shawab.[]

No comments:
Post a Comment