Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Narasi Sesat Solusi Gender Terhadap Kekerasan Pada Perempuan

Monday, March 30, 2020 | Monday, March 30, 2020 WIB Last Updated 2020-03-29T23:13:01Z
By :  Anggun

Sejak Deklarasi Beijing Platform for Action (BPFA) digelar 25 tahun lalu, kaum feminis kian gencar mengampanyekan konvensi CEDAW (Convention on Elimination of All Forms Disciminations Againts Women).

Sampai saat ini, kekerasan merupakan salah satu isu hangat yang massif diopinikan pegiat gender. Hal ini disebabkan, setiap tahun kekerasan terhadap perempuan jumlahnya terus meningkat.

Dilansir dari laman Lokadata.id., "Menurut Catatan Tahunan (Catahu) tahun 2020 Kominisi Nasional Anti-Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), sepanjang 2019 perempuan yang mengalami kekerasan mencapai 431.471 orang. Angka ini naik sebanyak 6,2 persen dari 2018 yang sebanyak 406.178 orang".

Dapat disimpulkan, dalam waktu 12 tahun, kekerasan yang dialami perempuan meningkat sebanyak 792 persen, atau hampir 8 kali lipat.

Kekerasan yang banyak menimpa kaum hawa diantaranya kekerasan fisik, kekerasan seksual dan kekerasan ekonomi. Kekerasan tersebut kerap terjadi baik di ranah domestik (keluarga dan rumah tangga), komunitas dan ranah publik.

Fakta yang terjadi di masyarakat, kekerasan fisik dan seksual paling banyak terjadi di ranah domestik. KDRT atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga mendominasi tingginya angka kekerasan yang diterima perempuan. Selain itu, kasus perkosaan, pelecehan seksual dan kekerasan seksual dalam rumah tangga semakin hari jumlahnya merangkak naik.

Menurut ide kesetaraan gender, akses profesi yang terbatas, diskriminasi, agama, sarana, kesempatan, aturan adat dan rendahnya pendidikan dianggap sebagai penyebab kekerasan kaum perempuan masih marak terjadi.

Oleh sebab itu, kaum feminis gencar mengopinikan ide bagaimana menciptakan pemerataan kesempatan pendidikan, lapangan pekerjaan, perlindungan hukum dan jaminan hak partisipasi politik yang setara bagi laki-laki maupun perempuan.

Namun sejatinya, berbagai kekerasan yang masih banyak dialami perempuan adalah buah simalakama ide kesetaraan gender itu sendiri. Gaya hidup liberal membuat kaum hawa mendewakan kebebasan.

Saat ini terjadi pergeseran pemahaman dan fungsi perempuan sebagai istri dan ibu. Perempuan yang seharusnya melahirkan dan mendidik generasi penerus yang unggul dan pembangun peradaban, saat ini tengah dalam kondisi yang memprihatinkan.

Sistem kapitalisme membuat kaum perempuan bersifat materialistis. Saat ini kedudukan perempuan beralih fungsi karena disibukkan dengan karier dan urusan mencari nafkah, hal tersebut memicu konflik rumah tangga dan berujung kekerasan dalam rumah tangga.

Tanpa disadari, seorang istripun melakukan KDRT seperti tidak bersyukur terhadap pemberian dan kebaikan suami. Gaya hidup hedonis dan materialistis membuat para istri menuntut sesuatu yang tidak mampu dilakukan suami.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Allah tidak akan melihat istri yang tidak bersyukur kepada suaminya, padahal ia selalu membutuhkannya.” (HR. Al Bazaar dan Al Hakim)

Sistem sekulerisme yang memisahkan agama dengan kehidupan membuat perempuan miskin pengetahuan tetang agama. Kewajiban menutup aurat dianggap tradisi kuno kearab-araban. Menjadi ibu rumah tangga, melahirkan dan mendidik anak dianggap mengekang. Semua dilakukan atas nama kebebasan hingga rela menabrak aturan Allah swt.

Saat ini industri periklanan didominasi kaum perempuan. Eksploitasi tubuh, tenaga dan pikiran kadang tidak disadari oleh perempuan. Justru kemolekkan tubuh dengan nilai jual tinggi dianggap prestasi.

Fenomena yang terjadi, meniti karier bukan semata-mata alasan ekonomi. Tapi lebih karena ingin menunjukan eksistensi diri dalam pergaulan. Imbasnya, pergaulan bebas di tempat kerja membuat perempuan rentan mengalami pelecehan dan kekerasan.

Dari kasus di atas solusi yang ditawarkan kesetaraan gender terbukti gagal mewujudkan kemuliaan bagi perempuan. Karena, kekerasan tidak hanya melanda kaum perempuan tapi dirasakan juga laki-laki dan anak-anak. Ini semua merupakan dampak sistemik dari penerapan sistem pemerintahan yang karut-marut oleh penguasa.

Kondisi perempuan di tengah wabah covid 19 seperti sekarang ini ternyata tidak banyak mendapat perlindungan. Ketidakpastian kebijakan membuat wanita tetap harus keluar mencari nafkah tanpa jaminan kesehatan dan keselamatan.

Padahal, idealnya untuk memutus penyebaran virus warga harus self isolation dan social distancing di rumah. Tapi nyatanya masih banyak perempuan yang keluar menjadi ojek online, keliling menjajakan makanan dan para kepala keluarga butuh tetap pergi bekerja.

Begitulah nasib wanita yang hidup di bawah sistem rusak kapitalisme. Beda sekali dengan sistem islam yang memuliakan wanita.

Solusi terbaik menyelesaikan problematika perempuan adalah dengan mengembalikan perempuan pada fitrahnya. Islam tidak melarang wanita bekerja keluar di ranah publik karena hukumnya mubah. Dengan syarat tidak meninggalkan tugas utamanya di ranah domestik.

Tugas utama mencari nafkah bagi perempuan dan keluarga dibebankan kepada laki-laki. Allah Swt. berfirman dalam alquran surat albaqarah ayat 233: "Kewajiban para ayah memberikan makanan dan pakaian kepada keluarga secara layak".

Sehingga, kaum perempuan tidak perlu repot-repot keluar bekerja mencari nafkah. Dan dengan pemahaman agama yang mumpuni antara suami-istri akan saling menghargai hak dan kewajiban masing-masing. Oleh karena itu, kekerasan tidak akan terjadi. 

Pihak yang paling bertanggungjawab atas jaminan hidup seluruh rakyat adalah negara. Negara wajib menyediakan lapangan kerja bagi kaum laki-laki dan memastikan semua kebutuhan pokok rakyat bisa terpenuhi. Kebutuhan pokok mencakup sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan yang layak dan gratis. 

"Pemimpin atas manusia adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus". (HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Tentunya seluruh problematika yang terjadi pada jutaan perempuan adalah masalah terstruktur yang hanya bisa diatasi dengan solusi paripurna pembenahan sistem kehidupan, pemerintahan, pendidikan, kesehatan dan perekonomian yang revolusioner bukan kesetaraan gender. Wallahu alam. 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update