Oleh : Sumiati
Praktisi Pendidikan dan Member Akademi Menulis Kreatif
Beberapa minggu terakhir ini, dunia dikejutkan dengan wabah (corona) yang mematikan dan sudah menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Dilansir oleh Detik Finance. com, 03/03/2020. Meski sudah ada pelarangan layanan 1 dari Indonesia ke China dan sebaliknya, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan mencatat masih ada warga China yang berkunjung ke Indonesia.
Pemerintah China sendiri sudah mengumumkan larangan tersebut sejak 28 Januari 2020. Sedangkan Indonesia menerapkan pelarangan penerbangan alias travel ban sejak 5 Februari 2020. Berdasarkan data DJBC Kementerian Keuangan, penumpang asal China yang berkunjung ke Indonesia pasca pelarangan penerbangan yang diumumkan pemerintah Indonesia totalnya ada 881 orang.
Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga DJBC, Syarif Hidayat mengatakan jumlah kunjungan tersebut terus mengalami penurunan. Di mana ada 550 penumpang pada 5 Februari, lalu 258 pada 6 Februari, dan 3 penumpang di 8 Februari.
"Kita melihat di awal tahun relatif hampir sama, begitu dari mulai Imlek terjadi penurunan dan travel banned selesai tidak ada lagi, tapi trennya sendiri terjadi penurunan," kata Syarif di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (03/03/2020).
Di tengah kepanikan publik merespon pengumuman Corona, pemerintah menjual masker hasil sitaan dari penimbun. Pemerintah tidak mengambil langkah-langkah yang menghentikan sumber kepanikan masyarakat. Yakni menanamkan keyakinan publik bahwa pemerintah melakukan langkah antisipasi yang maksimal mengedepankan keselamatan rakyat dibanding kepentingan ekonomi. Bahkan cenderung menyalahkan kepanikan rakyat, sambil mengambil keuntungan materi dari situasi ini. Rezim hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Dengan tetap mengijinkan wisatawan dan pekerja dari China. Negara tidak peduli dengan kesehatan rakyatnya, sementara negeri lain sangat mementingkan hal ini. Sehingga penghentian visa bagi WNA segera diberlakukan.
Inilah dampak dari sebuah negeri yang menerapkan sistem kapitalis demokrasi. Rasa empati dan tanggung jawab kepada rakyat nyaris lenyap tidak tersisa. Berbeda dengan Islam. Dalam Islam ada aturan bagaimana cara melayani umat dan bertanggung jawab atas amanah yang dipikulnya.
Model karantina atau isolasi terhadap orang yang tengah menderita penyakit menular pernah dianjurkan Rasulullah saw. Wabah penyakit menular pernah terjadi di masa Nabi Muhammad saw. Wabah itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya.
Ketika itu Rasulullah saw. pun memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami lepra atau leprosy.
Dalam sebuah hadist, Rasulullah saw bersabda :
لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ
Artinya: "Jangan kamu terus menerus melihat orang yang menghidap penyakit kusta." (HR. Bukhari)
Nabi Muhammad saw. pernah memperingatkan umatnya agar jangan berada dekat wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar. Seperti diriwayatkan dalam hadits berikut ini :
إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا
Artinya: "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR. Bukhari)
Di zaman Rasulullah saw., jika ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha'un, Rasulullah saw. memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus, jauh dari pemukiman penduduk.
Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail, kemudian dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat. Para penderita baru boleh meninggalkan ruang isolasi ketika dinyatakan sudah sembuh total.
Tha'un sebagaimana disabdakan Rasulullah saw. adalah wabah penyakit menular yang mematikan, penyebabnya berasal dari bakteri Pasterella Pestis yang menyerang tubuh manusia.
Jika umat muslim menghadapi hal ini, dalam sebuah hadits disebutkan janji surga dan pahala yang besar bagi siapa saja yang bersabar ketika menghadapi wabah penyakit.
الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ
Artinya: "Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya)." (HR. Bukhari)
Selain Rasulullah saw., di masa khalifah Umar bin Khattab juga terdapat wabah penyakit. Dalam sebuah hadits diceritakan, Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, lalu ia mendapatkan kabar wabah penyakit.
Hadist yang dinarasikan Abdullah bin 'Amir mengatakan, Umar kemudian tidak melanjutkan perjalanan. Berikut haditsnya :
أَنَّ عُمَرَ، خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ، فَلَمَّا كَانَ بِسَرْغَ بَلَغَهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّأْمِ، فَأَخْبَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ " إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ "
Artinya: "Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilayah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad saw pernah berkata, "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Namun jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR. Bukhari).
Demikianlah Islam, bertanggung jawab atas kepentingan masyarakatnya.
Wallaahu a'lam bishshawab

No comments:
Post a Comment