Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Waspada dengan Istilah Islami yang Disalahartikan

Tuesday, February 04, 2020 | Tuesday, February 04, 2020 WIB Last Updated 2020-02-03T22:50:08Z
Oleh. R. Raraswati
(Freelance Author dan Muslimah Peduli Generasi)

Adanya pernyataan bahwa “muslimah tidak wajib berhijab atau berjilbab” oleh istri presiden RI ke-4, membuat masyarakat awam bingung.  Pernyataan tersebut juga meresahkan umat muslim yang selama ini membina masyarakat untuk melaksanakan syariat Islam termasuk berhijab. 

Dalam kebingungan masyarakat dan keresahan umat muslim, justru muncul kampanye "No Hijab Day" pada tanggal 1 Februari. Kelompok yang mengatasnamakan ‘Hijrah Indonesia’ adalah pembawa racun menyesatkan ini. Pernyataan Sinta Nuriyah Seolah memuluskan jalan  untuk mewujudkan misi para liberalisme. Mereka mengambil istilah Islami  dengan memakai kata ‘Hijrah’ dalam menamai kelompoknya meskipun gerakannya bertentangan dengan ajaran Islam. Sesungguhnya,  hijrah dalam Islam berarti berpindah dari keadaan buruk menuju keadaan yang lebih baik. Namun pengertian tersebut mengalami pergeseran makna karena digunakan oleh kelompok liberal yang secara tegas menentang
 syariat Islam.

Dilansir di MySharing.com (30/1) bahwa mereka mengadakan kampanye “No Hijab Day” setiap tanggal 1 Februari. Kampanye ini dilakukan sejak tahun 2014 yang dipelopori oleh Yasmine Mohammad yang digelar melalui media sosial. Bahkan pada 1 Februari 2020 kemarin, mereka mengadakan sayembara “Hari Tanpa Hijab” dengan mengajak para muslimah agar membuka hijabnya untuk berfoto.

Dalam penjelasannya, Hijrah Indonesia menulis, “Karena itulah, Hijrah Indonesia mengajak Anda para perempuan Indonesia baik Muslim maupun bukan Muslim untuk meramaikan #NoHijabDay dengan menayangkan foto-foto Anda berbusana dengan nuansa Indonesia dengan memperlihatkan kepala Anda tanpa memakai hijab/jilbab/niqab/cadar/kerudung dan semacamnya di akun media sosial Anda, baik instagram, facebook, maupun twitter dan blog Anda dengan hashtag #NoHijabDay dan #FreeFromHijab pada 1 Februari 2020”. Akan dipilih 3 orang pemenang terbaik versi kelompok ‘penyebar kemaksiatan’.

Ustaz Willyuddin A.R. Dhani dari Komunitas Cinta Tauhid dan Cinta Qur’an, Bogor. Ustaz Dhani yang juga aktivis Islam Nasional ini berpesan, bahwa “No Hijab Day” adalah ajakan dari setan-setan dari golongan manusia, dan jangan ikuti kampanye mereka, karena sesungguhnya mereka itu hanya akan mengajak golongannya untuk menjadi calon penghuni neraka”, kata Ustaz Dhani kepada MySharing melalui keterangan tertulisnya, Kamis (30/1).Ustaz Dhani mendasarkan ini pada (QS. Al-An’am 6: 70) yang artinya:

“Tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Qur’an agar setiap orang tidak terjerumus (ke dalam neraka), karena perbuatannya sendiri. Tidak ada baginya pelindung dan pemberi syafaat (pertolongan) selain Allah. Dan jika dia hendak menebus dengan segala macam tebusan apa pun, niscaya tidak akan diterima. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam neraka), disebabkan perbuatan mereka sendiri. Mereka mendapat minuman dari air yang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.”

Maka kampanye "No Hijab Day" harus kita tolak. Karena jelas melanggar bahkan melecehkan syariat Islam. Dan sesungguhnya perintah menutup aurat bagi muslimah sudah sangat jelas dalam Al Qur'an:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya:

 Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (TQS. An-Nur:31)

Dengan demikian, masyarakat perlu berhati hati dalam menyikapi sebuah gerakan atau kampanye yang menggunakan istilah Islami. Karena banyaknya pihak yang menyalahartikan kata untuk menghancurkan umat muslim.

Wallahu a’lam bish-shawwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update