Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ketika Kapitalisme Menjadi Biang Keladi

Tuesday, February 04, 2020 | Tuesday, February 04, 2020 WIB Last Updated 2020-02-04T01:16:14Z


Oleh : Nuni Toid
Pegiat Dakwah dan Member Akademi Menulis Kreatif


Sungguh malang nasibmu, Nak!
Terbaring lemah tak berdaya
Senyum ceriamu telah hilang 
Hanya duka lara yang kau rasakan

Sebait puisi itu  menggambarkan keadaan saat ini. Dimana seorang anak kecil yang malang  menjadi korban penganiayaan orang tuanya sendiri. Penganiayaan itu bukan tanpa sebab. Akibat tekanan ekonomi yang menghimpit, sepasang suami istri menjadi gelap mata hingga tega menganiaya buah hatinya yang masih berumur tujuh tahun.

Dilansir oleh detikNews (22/1/2020), Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Bandung sudah melakukan tindakan terhadap Muhamad Rizky Anugerah (7) yang diduga menjadi korban penganiayaan. Bocah malang tersebut dinyatakan mengalami cacat seumur hidup. "Hasil rumah sakit anak itu akan cacat seumur hidup dan perlu penanganan lebih lanjut," kata Kasi Perlindungan Hak Anak DP2KBP3A Kabupaten Bandung Ade Baharudinata saat ditemui di kantornya.

Kasus penganiayaan MR mendadak viral dalam beberapa hari ini di sosial media. Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bandung, Nina Setiana mengatakan, kasus MR sebenarnya telah terjadi beberapa tahun lalu. "Kasus penganiayaannya telah lama, dulu Pemkab Bandung telah membantu Lintas sektoral yang turun, " tutur Nina (ayobandung.com, 22/1/2020).

Tindakan penganiayaan yang dilakukan terhadap MR terungkap karena tekanan ekonomi yang menghimpitnya. Terungkap bahwa penghasilan orang tua Rizky hanya Rp 40-70 ribu /hari. Padahal  harus merawat 8 anaknya. Menurut ketua P2TP2A, Kurnia Agustina, ibu kandung Rizky hanyalah seorang buruh yang sehari-harinya membantu suaminya mencari nafkah. Dari  hasilnya bekerja mungkin mendapat uang sekitar Rp 30 ribu per hari.  Sementara suaminya (ayah kandung Rizky) bekerja sebagai tukang ojek atau pekerja serabutan dengan penghasilan sekitar Rp 40-70 ribu. (Tribun Jabar.id, 23/1/2020).

Kekerasan terhadap anak bukan kali ini terjadi. Begitu banyak kasus penganiayaan terhadap anak  terjadi di negeri yang mayoritas berpenduduk muslim ini. Dari yang ringan, mengakibatkan cacat seumur hidup hingga menimbulkan kematian. Mirisnya, kebanyakan kasus penganiayaan ini dilakukan oleh orang terdekat bahkan orang tua kandung anak.

Tindakan kekerasan terhadap anak dilatarbelakangi berbagai faktor antara lain:  salah pengasuhan terhadap anak; adanya pandangan bahwa orang tua memiliki kekuasaan penuh sehingga anak tidak punya hak untuk bersuara bahkan  hak hidup; permasalahan ekonomi serta  stres dari luar, seperti pengangguran, terkena PHK dan kerja yang serabutan dengan minimnya penghasilan sedangkan biaya hidup semakin mahal, turut menjadi faktor penyumbang terjadinya kekerasan. Faktor lain yang tak kalah pentingnya adalah kurangnya keimanan yang kokoh pada diri orang tua.

Faktor-faktor tersebut terjadi akibat  penerapan sistem kapitalisme di negeri ini. Sistem kapitalisme  meniscayakan gagalnya fungsi negara sebagai pengayom masyarakat dalam mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Pembangunan ekonomi dalam sistem kapitalisme tidak seimbang, lebih berpihak pada pemilik modal, baik asing maupun aseng. Negara berperan hanya sebagai regulator dan fasilitator. Dalam penyediaan berbagai kebutuhan ekonomi rakyat, negara terkadang justru berposisi sebagai pihak penyedia barang maupun jasa pengusaha. Sehingga rakyat harus membeli dengan harga yang mahal. Selain itu pembangunan yang tidak merata sampai ke pelosok-pelosok kampung dan desa-desa terpencil membuat kesenjangan ekonomi makin melebar. Yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin. Belum lagi lapangan pekerjaan yang semakin sulit didapat karena banyak perusahaan mem-PHK besar-besaran karyawannya. Akibatnya banyak pengangguran yang memunculkan persoalan baru dengan tingginya angka kriminalitas. 

Di negeri penganut kapitalisme ini, korupsi pun semakin menggurita dan terang-terangan. Penegakkan hukum semakin jauh dari harapan. Di sisi lain para pengayom negeri sibuk dengan kedudukan dan  jabatannya tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Inilah gambaran pemimpin yang tidak  amanah dan tidak mampu mewujudkan kehidupan rakyatnya menjadi lebih baik.

Berbeda dalam Islam, Pemerintah adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat. Rasulullah  saw bersabda :
"Seorang Imam adalah pemelihara dan pengatur urusan  (rakyat) dan ia akan diminta pertanggungjawabannya terhadap rakyatnya" (HR Bukhari dan Muslim).

Maka seseorang yang terpilih atau dipilih sebagai pemimpin semestinya memikul tanggung jawab yang berat untuk memberikan kesejahteraan dan rasa aman kepada rakyat. Seorang pemimpin dalam mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 
Pertama, menjamin setiap anggota masyarakat dapat terpenuhi kebutuhan pokoknya seperti : Pakaian, makanan, perumahan, pendidikan, kesehatan dan jaminan keamanan. Kebijakan ini langsung diarahkan kepada setiap individu dengan tujuan untuk memecahkan masalah kemiskinan yang menimpa individu 
Kedua, meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan mendorong perekonomian mereka. Negara melalui kebijakan ekonomi harus memberikan akses yang seluas-luasnya kepada masyarakat dalam hal permodalan, sumber daya dan pemasaran.

Demikianlah bila syariat Islam diterapkan secara kafah dalam segala sendi kehidupan, maka akan tercipta kesejahteraan dan kebahagiaan bagi umat. Dan Islam pun akan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Wallahu a'lam bi shshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update