Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Toleransi Semu; Buah Dari Sistem Kapitalisme

Wednesday, February 12, 2020 | Wednesday, February 12, 2020 WIB Last Updated 2020-02-12T08:08:53Z
Oleh : Sri Kuntari 
(Ibu Rumah Tangga)

Aksi perusakan terhadap Masjid Al Hidayah yang berada di Perum Agape, Kelurahan Tumaluntung, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), memicu reaksi keras umat Islam tak hanya di Sulut, tapi juga umat Islam di Poso Sulawesi Tengah dan beberapa kota lainnya di Sulawesi.

Ribuan umat Islam berdatangan ke Masjid Al Hidayah. Tak hanya dari kota-kota sekitar Sulut, tapi juga dari Poso, Sulawesi Tengah dan beberapa kota lainnya di Sulawesi.

Pemerintah mesti membuka mata siapa yang intoleran dan radikal. Ketika Islam menjadi korban, suara kecaman dari para tokoh Hak Asasi Manusia (HAM) sama sekali tak terdengar. Tetapi jika yang terjadi perusakan rumah ibadah nonmuslim dan aliran kepercayaan, mereka mati-matian memperjuangkan. Hingga tuduhan tak berdasar tak jarang menyasar pada beberapa gerakan Islam yang mereka anggap pelaku intoleran.

Mereka akan teriak intoleransi jika Islam yang dianggap sebagai mayoritas menekan minoritas. Sementara jika mereka yang minoritas sebagai pelakunya tidak ada sebutan intoleransi, hanya disebut terjadi kesalahpahaman.

Narasi toleransi yang dibangun Barat berdasarkan asas demokrasi dan HAM telah berhasil menjerat kaum Muslim pada pemahaman yang salah kaprah. Kaum Muslim akan dikatakan sebagai orang toleran jika mau melakukan apa yang diwacanakan Barat. Sebaliknya jika tak sejalan dengan mereka, lantas dikatakan intoleran atau radikal.

Ketidakberdayaan negara menyelesaikan berbagai kasus perusakan rumah ibadah, menjadi gambaran bahwa penguasa gagal memberi rasa aman bagi setiap warga negaranya dalam menjalankan kewajibannya sebagai umat beragama.

Maka, selama negeri-negeri kaum muslimin termasuk Indonesia masih menerapkan demokrasi sebagai sistem pemerintahannya, kerukunan umat beragama sulit untuk diwujudkan. Hanya Islam satu-satunya yang telah terbukti mampu menjaga kerukunan umat beragama dalam naungan Khilafah.

Ketiadaan Khilafah saat ini, justru banyak menimbulkan konflik. Karena saat Islam memimpin peradaban, konflik bisa diminimalisir.

Kaum muslim punya sejarah gemilang yang mencatat kerukunan umat beragama selama 14 abad lamanya. Di bawah naungan Khilafah ribuan bahkan ratusan ribu suku dan kabilah hidup dengan damai, rukun, dengan toleransi yang luar biasa. Belum pernah ada dalam sejarah peradaban mana pun, saat semuanya bersatu, kecuali di dalam naungan Khilafah.
Wallahu'alam bi shawwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update