Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sistem Sekuler Kapitalis Suburkan Masyarakat Stress

Monday, February 10, 2020 | Monday, February 10, 2020 WIB Last Updated 2020-02-10T09:17:56Z


Oleh: Junari S.I.Kom

Dalam sebuah pemikiran yang sehat tentu hasil dasar dari tingkah  laku dan melahirkan akal yang sehat, tetapi sangat jauh berbeda ketika pemikiran tidak sehat lagi  tidak sejalan dengan realitas yang ada, seperti pengembangan berfikir yang mengarah kepada jati diri,  hal yang menjadi aneh di anggap lumrah atau biasa biasa saja akan tetapi dampak yang terjadi adalah kerusakan otak yang terjadi disebababkan salahnya mencerna informasi, mitos yang dianggap sebagai kebenaran, karena yang ditimbulkan suatu hal yang melenceng, banyak yang terjadi bukan hanya di awal tahun 2020 ini, akan tetapi di tahun sebelumnya juga, sudah ditemukan berbagai ekspresi yang tanpa memikirkan akal sehat dalam menangani kehidupan, kehadiraan suatu kepercayaan untuk membangkitkan pola berfikir seseorang terhadap apa yang terlihat,

Beberapa waktu lalu, publik dihebohkan oleh keberadaan Keraton Agung Sejagat di Purworejo. Dua orang mengaku sebagai raja dan ratu. Mereka adalah Toto Santoso yang menyebut diri Sinuhun dan ratunya, Fanni Aminadia. Dari pemeriksaan polisi, Toto mengaku menerima wangsit dari leluhur dan Raja Sanjaya keturunan raja Mataram untuk meneruskan pendirian Kerajaan Mataram di Kecamatan Bayan, Purworejo. Ia pun meyakinkan pengikutnya, jika ingin bernasib lebih baik maka harus bergabung dengan Keraton Agung Sejagat. "Berbekal penyebaran keyakinan dan paham apabila bergabung dengan kerajaan akan bebas dari malapetaka dan perubahan nasib ke arah yang lebih baik," ujar Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel di Mapolda Jateng.

Cerita buruh tani yang rela keluarkan Rp 2 Juta untuk Ikut Kirab Keraton Agung Sejagat hingga saat ini diketahui jumlah pengikut KAS mencapai 450.000 orang. Tak hanya di Purworejo, pengikut tersebar di sejumlah daerah seperti Klaten dan Sumatera. Para pengikut diiming-imingi jabatan 'menteri' namun harus menyetor iuran dalam jumlah beragam, hingga ratusan juta rupiah.

Dalam perkembangan penanganan penyidikan di polisi, pengikut Keraton Agung Sejagat diketahui wajib membayar uang Rp 3 juta untuk masuk sebagai anggota kerajaan. Uang itu digunakan sebagai biaya pendaftaran. Setelah membayar uang pendaftaran, kitaeraton menjanjikan para anggota akan mendapat gaji dalam bentuk dolar tiap bulan.

Bukan hanya itu saja kemunculan yang menghebohkan tetapi kehadiran Keraton Agung Sejagat tak ubahnya dengan munculnya Lia Eden yang mengaku sebagai nabi, serta pendiri Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) Ahmad Musadeq.

Selain dari itu Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan kepolisian tengah menelusuri keberadaan kelompok Sunda Empire-Earth Empire (SE-EE) yang hangat diperbincangkan di media sosial. Kata Ridwan, kemunculan Sunda Empire juga menunjukkan banyak orang stres saat ini. digemparkan dengan keberadaan Keraton Agung Sejagat, kini muncul kelompok yang menamakan Sunda Empire-Earth Empire (SE-EE). Kelompok ini turut menjadi sorotan oleh warganet.

Definisi sebuah keraton bukanlah hal mudah karena harus memiliki sejarah identitas, tradisi hingga rakyat atau abdi. Apalagi, Keraton Agung Sejagat menyebut sebagai penerus Kerajaan Majapahit yang sudah runtuh berabad-abad silam. "Mungkin jalan pikirannya [pencetus Keraton Agung Sejagat] bisa dianggap orang 'sakit' yang ingin menyembuhkan orang 'sehat'. Mereka ini dibawa oleh fatamorgana," kata Edward kepada CNNIndonesia.com, Selasa (14/1).

Berbagai kemunculan yang menghebohkan diakibatkan oleh kebebasan berfikir dan di dukung oleh hak asasi manusia dalam menerapkan tingkah laku, inilah dampak apabila agama di batasi dalam kehidupan sehari hari, sebagai dasar lemahnya ideology yang di emban, pemikiran sekuler kapitalis memisahkan agama dari kehidupan, agama tidak boleh mengatur persoalan bernegara dan pemerintahan. Persoalan ini seakan menambah warga dalam jumlah yang banyak dalam kesakitaan berfikir, tentu hal yang demikian bukan solusi di atas masalah, tetapi menambah masalah di dalam masalah, itulah ketika peran agama dicampakan, tanpa mencampuradukkan peraturan agama di dalam perilaku sehari hari, sekuler kapitalis sudah menujukan lemahnya bagi pengembannya.

Dalam berbagai kejadian yang ada tentu tidak jauh dari pemerintah yang mengatasi sebuah problem yang ada, kehadiran orang orang yang mengakui dirinya sebagai raja dan ratu bukan dianggap biasa, bahkan pemikiran ini harus segera diatasi karena dapat membawa dampak yang mematikan bagi yang pembercayainya, bukan hanya kemuncuran kraton saja tetapi kehadiran seorang yang mengaku dirinya nabi, ini patut dipertanyakan kebebasan berekspresi dalam sebuah Negara membawa dampak yang kurang sehat, di sebabkan banyak orang yang mengiginkan sebuah perilaku atau tidakan tampa ada teguran keras dari yang bersangkutan dengan hukum.

Apabila Negara mengembangkan ideologi islam tentu sangat membantu dalam urusan mengatur mulai dari aspek bermasyarakat atau hubungan bernegara, dan hubungannya dengan Allah, semua peraturan sudah di atur, sudah sepantasnya, manusia menjadikan ALLAH  sebagai pembuat hukum dengan dibawah naungan islam yakni seseorang pemimpin yang menerapkan aturan islam agar hukum-hukum terlaksana dengan sempurna. Wa’allaahu a’lam bishowab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update