Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sistem Sekuler Abai Terhadap Keselamatan Rakyat

Wednesday, February 05, 2020 | Wednesday, February 05, 2020 WIB Last Updated 2020-02-04T23:10:14Z
By : Dian
(Peduli Umat)

Mewabahnya virus corona di China saat ini menghebohkan dunia, pemerintah Indonesia tidak membatasi warga negara Indonesia melakukan perjalanan ke negeri tersebut. Kementerian Kesehatan tidak menutup akses atau melakukan pembatasan perjalanan dari daratan China baik melalui jalur laut maupun darat.

Kepala Kantor Kesehatan  Pelabuhan (KKP) Kelas I, Bandara Soekarno-Hatta, dr. Anas Ma'ruf di Gedung Kemenkes, Kuningan Jakarta Selatan, pada malam Rabu (22/1/2020) ia mengatakan kita tidak melakukan restriksi, atau pembatasan perjalanan orang, karena bisnis bisa merugi, dan Ekonomi juga bisa berhenti ucapnya.

Anas menjelaskan terdapat upaya yang dilakukan pihaknya sebagai pintu gerbang negara dalam upaya membentengi diri dari penyebaran penyakit mematikan ini. Hal tersebut seperti pengawasan terhadap penerbangan asal China, pengadaan fasilitas kesehatan seperti thermal scanner, health alert card, dan alat pelindung diri, serta membekali petugas dengan informasi terbaru.
(https://lifestyle.harianjogja.com/read/2020/01/23/508/1030165/wabah-corona-pemerintah-indonesia-tak-larang-warga-pergi-ke-china)

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan drg. Vansya Sitohang menambahkan langkah konkret yang dilakukan pemerintah adalah memberi informasi perjalanan (travel information) guna mengedukasi masyarakat mengenai situasi kedaruratan kesehatan dunia saat ini.

Travel information meliputi hal-hal perlu diketahui oleh pelancong. Informasi ini agar bisa diketahui orang banyak dan gampang dicari, yang terhubung dengan Kementrian Pariwisata, ucap Vansya.

Ketika semua negara waspada dan melakukan suatu tindakan pencegahan terhadap penyebaran virus corona yang semakin luas, namun tak membuat  Pemerintah Indonesia  mengambil tindakan pencegahan total dengan kebijakan travel warning atau larangan masuknya turis China, dan warga negara Indonesia yang melakukan perjalanan ke negeri China 

Justru didapati pernyataan pejabat bahwa tidak ada pembatasan masuk dan keluarnya wisatawan China karena bisa merugikan bisnis.

Adanya pernyataan tersebut semakin menunjukkan bahwa sistem kapitalis yang diterapkan negara saat ini  lebih memproritaskan negara,  dan pemerintah lebih mengutamakan untung dalam bisnis dibandingkan perlindungan total terhadap rakyatnya.

Sejatinya penularan virus corona yang mematikan ini, di khawatirkan akan menular ke warga negara Indonesia, dan bisa menjadi wabah di negeri ini, jika kebijakan askes perjalanan ini tidak ditutup.

Menghadapi meluasnya virus corona, sebenarnya pemerintah bisa belajar pada sejarah masa lalu. Seperti pada masa kekuasaan Umar bin Khattab Radhiallahu 'anhu satu persatu di negeri Hijaz terbuka. Irak  dan Persia  di Timur serta Mesir dan Syam di Barat semua tunduk di bawah satu kekhilafahan Islam .

Pada 17 H(639 M) di negeri itu muncul satu wabah penyakit (Tha'un) di Amwas, satu daerah di Palestina (Syam). Para  sejarawan muslim klasik hampir tidak ada yang melewatkan peristiwa wabah dahsyat ini ketika kepemimpinan Khalifah Umar.

Wabah Tha'un  yang menyebar di Amwar merupakan penyakit kulit mematikan. Sejenis penyakit Kusta atau lepra. Wabah ini sangat cepat menyebar di seluruh negeri Syam. Banyak manusia terjangkit sehingga dalam tempo singkat puluhan ribu jiwa meninggal dunia.

Menghadapi wabah tersebut, Islam mampu menanggulangi saat wabah menyerang suatu wilayah, Islam memiliki mekanisme khas berupa upaya rehabilitatif seperti yang diungkapkan Rasulullah Saw, sebagaimana yang dijelaskan dari Abdurrahman bin Auf ra, bahwa nabi Muhammad Saw bersabda, 
"Apabila kalian mendengar wabah tengah mendera suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Dan jika menyerang wilayah kalian, maka janganlah engkau melarikan diri darinya". (HR. Bukhari) 

Bahwa suatu ketika  Rasulullah Saw melarang seseorang untuk memasuki suatu wilayah yang terkena wabah penyakit, begitu pun masyarakat yang terkena wabah tersebut untuk tidak meninggalkan atau keluar dari wilayahnya. Ini merupakan cara mengisolasi agar wabah penyakit ini tidak menular ke daerah lain.

Sehingga jika ada wabah, maka Khalifah akan mengkarantina tempat itu, dan segera mengirim obat-obatan dan kebutuhan kesehatan, logistik lainnya.

Para ilmuwan di bawah Khalifah akan didorong untuk menemukan obat dan perawatan baru melalui penelitian dan pengembangan. Inisiatif cepat akan diambil untuk menemukan obat tanpa mencari keuntungan darinya.

Dalam Negara Islam akan memastikan perawatan kesehatan terbaik dan gratis untuk setiap warga negara, terlepas dari kaya dan miskin, ras atau agama. Masyarakat di masa itu menikmati perawatan dan kesehatan berstandar tinggi.

Kaum muslim melakukan penelitian-penelitan ilmiah di bidang kedokteran secara orisinal dan memberikan kontribusi yang luar biasa di bidang kedokteran. Tidak dapat dipungkiri, Rasulullah Saw adalah inspirator utama kedokteran Islam. Meski beliau bukan dokter, kata-katanya yang terekam dalam banyak hadits.
" Tidak ada penyakit yang Allah ciptakan. Kecuali Dia juga menciptakan cara penyembuhannya".(HR. al-Bukhari).

Sehingga wabah virus corona ini hanya dapat diselesaikan dengan kembali kepada sistem Islam, seperti apa yang diterapkan oleh Rasulullah Saw. Hanya dengan sistem Islam maka keselamatan semua umat akan terjamin, sebelum wabah ini menyebar ke seluruh negeri.

Nabi Muhammad Saw mendoakan keburukan kepada penguasa yang dzolim pada rakyatnya.
" Ya Allah, siapa saja yang memiliki hak mengatur suatu urusan umatku . Lalu ia menyempitkan mereka, sempitkanlah dia. Siapa saja yang memiliki hak untuk mengatur suatu urusan umatku, lalu dia memperlakukan mereka dengan baik, perlakukan dia dengan baik".(HR. Ahmad dan Muslim).

Sistem pemerintahan Islam mengambil tanggung jawab setiap orang di pundaknya sebagai kewajiban dari syariat, dan demi mencari keridhaan Allah SWT dan mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan rakyat. Dan dia akan selalu khawatir jika mengabaikan tanggung jawab ini, karena takut menghadapi pertanggung jawabannya kelak di hadapan Allah SWT.
Wallahu a'lam bish-shab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update