Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Membingkai Cinta Yang Hakiki

Monday, February 10, 2020 | Monday, February 10, 2020 WIB Last Updated 2020-02-10T07:17:54Z
Oleh: Tri Melinda, S.Pd.I 
(Guru Bimbel)

Bagaimana kalau hidup kita itu tanpa cinta? Garing. Seperti itu kira-kira jawaban yang tepat. Orang akan jadi mudah tersinggung, kejam, dan tidak ada rasa empati dan perhatian pada orang lain. Tidak ada harmonisasi dalam hidup. Masing-masing akan sibuk dengan urusannya sendiri.

Cinta merupakan anugrah terindah yang diberikan oleh Allah yang selalu tertancap dalam hati manusia. Cinta itu suka atau senang dan cinta itu keinginan untuk memberi.

M.R. Kurnia di dalam bukunya “Inspiring Love”, mengutip dari Al ‘Alamah Abi Fadhl Jamalud Din Muhammad bin Mukram dalam kamusnya al hub (cinta) artinya adalah lawan dari benci. Al hub juga berarti pula al wadad dan al mahabbah. Semuanya berarti cinta. (lihat Lisan al ‘Arab jilid I, halaman 289)

Ustadz Rahmat Kurnia mengatakan bahwa cinta tidak dapat berdiri sendiri. Cinta memiliki beberapa komponen seperti; 1) yang mencintai, 2) yang dicintai, 3) cara mencintai. Mengenai cara mencintai dibagi menjadi yang tampak dan dapat disaksikan dengan kasat mata (mazahir) dan apa yang ada di dalam jiwa secara internal (dakhil). (MR Kurnia, Inspiring Love, meraih dan merawat cinta sejati).

Cinta yang hakiki itu adalah cinta kepada Allah dan Rasul. Ini adalah tingkatan cinta yang tertinggi. Cinta yang berbeda dari cinta kepada lawan jenis. Cinta kepada lawan jenis merupakan sifat fitrah yang Allah ciptakan atas manusia. Cinta kepada Allah dan Rasul merupakan wujud dari keimanan kepada keduanya. Sebab bagaimana mungkin cinta kepada keduanya akan tumbuh jika tidak meyakini Allah dan Rasul-Nya.

Cinta kepada Allah dan Rasul merupakan kewajiban. Bagaimanakah seseorang dikatakan telah mencintai Allah dan Rasul? Al Azhari berkata, “Arti cinta seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menaati dan mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya.” (Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah, halaman 36)

Cinta adalah keinginan untuk selalu mendapat ridho Allah SWT dan Rasul-Nya. Cinta adalah menaati keduanya dengan ketaatan yang sempurna. Lebih memilih melaksanakan segala perintah dibandingkan dengan kesenangan diri. Lebih memilih meninggalkan yang haram dibandingkan menuruti hawa nafsu. Oleh karena itu kenapa cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya merupakan bentuk cinta yang teringgi dan hakiki. Dan inilah cinta yang sebenarnya. Cinta kepada Allah sebagai pemilik alam semesta dan manusia pilihan Allah sebagai penyampai risalah-Nya. Cinta yang mampu mengorbankan apa saja tak terkecuali nyawa demi ridho keduanya.

Katakanlah: “ Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (TQS. Ali Imran[3]: 31)
Di dalam hadist Rasulullah SAW menyampaikan tentang keharusan kita mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya.

Dari Anas, sesungguhnya Rasulullah SAW. bersabda: Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah SAW. tentang kiamat. Ia berkata, “ kapan terjadinya kiamat ya Rasulullah?” Rasul berkata, “Apa yang telah engkau siapkan untuknya?” Laki-laki itu berkata, “ Aku tidak menyiapkan apapun kecuali sesungguhnya aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Rasul SAW. berkata, “Engkau bersama apa yang engkau cintai.” Anas berkata; Kami tidak pernah merasa bahagia dengan sesuatu pun yang membahagiakan kami seperti bahaginya kami dengan perkataan Nabi, “Engkau bersama dengan apa yang engkau cintai,” Anas kemudian berkata, “Maka aku mencintai Nabi, Abu Bakar, dan Umar. Dan aku berharap akan bersama dengan mereka karena kecintaanku kepada mereka meskipun aku belum bias beramal seperti mereka.” (Mutafaq’alaih)

Melihat bagaimana para sahabat Rasul amat dalam cinta yang mereka miliki kepada Allah dan Rasul-Nya, bisa dapat kita lihat dari perkataan-perkataan dan perbuatan mereka. Merekalah teladan pecinta sejati yang pernah ada.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update