Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

KETIKA JILBAB DITAFSIRKAN SESUAI SELERA

Monday, February 03, 2020 | Monday, February 03, 2020 WIB Last Updated 2020-02-03T16:14:40Z
Oleh : IROHIMA

Ketika standar baku aturan hidup diambil alih oleh manusia sesuai dengan selera maka yang terjadi bukanlah kemaslahatan namun kekacauan d gakan kehancuran dimana mana.
Aturan hidup tentang kewajiban menutup aurat bagi para perempuan muslimah yang Allah turunkan melalui Rasulullah SAW dan termaktub dalam Al-Qur'an adalah sebuah perintah langsung dari Allah SWT untuk dipatuhi bukan untuk diperdebatkan atau dipertanyakan.

Pernyataan Sinta Nuriyah, istri dari seorang tokoh negeri ini tentang tidak wajibnya muslimah memakai jilbab sangat memprihatikan, bermula dari pengakuannya yang selama ini ia mengartikan ayat ayat Alquran secara konstektual bukan tekstual. Sinta juga mengatakan bahwa banyak kaum muslimin keliru dalam mengartikan ayat ayat Alquran karena sudah melewati banyak terjemahan dari berbagai pihak yang memiliki kepentingan pribadi. Senada dengan ibunya, Inayah Wahid bahkan merujuk pada istri istri ulama terdahulu  atau istri pendiri NU yang mengenakan selendang seperti ibunya dan juga RA Kartini yang tidak memakai hijab serta anggota keluarga kerajaan Saudi yang banyak tidak memakai jilbab.

Tentu pernyataan tersebut menimbulkan kontroversi, tak sedikit cibiran dan bullyan dialamatkan pada keduanya. Pernyataan Sinta Nuriyah tentu  disambut bahagia oleh kaum kufar, liberal dan moderat serta para pendukung 'jilbab tak wajib' di negeri ini, namun ini adalah opini yang menyesatkan dan merupakan pemahaman yang salah terhadap hukum Syara' tentang kewajiban jilbab, dan ini tentu berbahaya bagi orang awam.

Sinta Nuriyah bukanlah orang pertama yang membuat penafsiran ayat Alquran berbeda dengan kesepakatan ahli tafsir ataupun para ulama. Ayat Al-Qur'an tentang kewajiban menutup aurat ataupun ayat ayat lain yang menjelaskan tentang hukum Syara' sejatinya telah banyak diobok-obok, dipelintir, ditafsirkan sesuka hati demi kepentingan pribadi. Mirisnya pernyataan pernyataan yang jelas bertolak belakang dan menyalahi syariat tidak banyak ditindak lanjuti, penguasa lebih membiarkan opini nyeleneh bergulir ke tengah tengah masyarakat padahal sangat membahayakan bagi pemahaman umat.

Manusia cenderung mencari pembenaran atas apa yang  dilakukannya, berbagai dalil meski dhoif akan tetap digunakan meski bertentangan, semua demi syahwatnya terhadap dunia.Agama hanya dengan jadikan topeng dan alat mencapai tujuan, hukum syara dalam agama pun dipilih pilih sesuai selera, suka diambil, tak suka diabaikan. Agama tak lagi dijadikan standar baku dalam hidup dimana seharusnya hidup dijalani sesuai ajaran agama tapi kini agama dijalani sesuai kepentingan.

Islam datang untuk mengeluarkan manusia dari kehinaan, kebodohan dan kegelapan. Di jaman jahiliah, betapa kehidupan bangsa Arab terdahulu begitu terbelakang, memuja berhala, mengubur anak perempuan hidup hidup bahkan thawaf mengelilingi Ka'bah tanpa menggunakan pakaian.Islam datang memperbaiki semuanya, termasuk mengajari manusia cara berpakaian, dalam surah Al Ahzab ayat 59 Allah SWT berfirman:" Hai Nabi katakanlah kepada istri istrimu,anak anak perempuan mu dan istri istri orang mukmin :" hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu, dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

Sungguh aneh bila masih banyak kaum yang menentang syariat ini dengan mengatakan Islam begitu mengekang perempuan dengan jilbabnya. mengganggap jilbab dan Khimar adalah lambang kemunduran dan membuka aurat adalah lambang kemodernan, bila membuka aurat adalah sebuah peradaban yang modern dan tinggi mungkin binatang lah yang telah mencapai peradaban tinggi itu,karena binatang tak pernah menutup aurat. Tak faham kah mereka, justru Khimar dan jilbab tanda bahwa wanita begitu dimuliakan dan dijaga kehormatannya. Ada salah satu kisah yang menceritakan dahulu dimadinah kaum fasik sering keluar pada malam hari saat kegelapan menaungi jalan jalan di madinah. Mereka sengaja keluar untuk mengganggu para wanita.ketika mereka melihat wanita berjilbab mereka berkata"wanita ini merdeka" maka mereka menahan diri untuk tidak mengganggu, sebaliknya saat mereka melihat wanita yang tidak berjilbab, mereka berteriak" ini wanita budak" maka mereka pun mengganggu nya. Fenomena ini terjadi sampai sekarang, laki - laki cenderung segan melihat wanita yang aurat nya tertutup rapat, sebaliknya mereka akan lebih berani kepada wanita yang membuka auratnya.
Sungguh jilbab adalah busana pelindung perempuan dan pembeda antara wanita muslimah dan wanita kafir. jadi sangat mengherankan bila masih banyak orang yang mengadopsi cara berpakaian wanita zaman jahiliah di zaman sekarang.

Islam mengatur segala aspek kehidupan termasuk cara berpakaian. Tujuannya tak lain untuk kebaikan manusia itu sendiri.Dalam syariat, wanita diharuskan memakai jilbab dan khimar, definisi jilbab sendiri adalah pakaian panjang yang menutupi seluruh tubuh menjulur hingga ke bawah, pakaian yang bisa disebut jilbab harus memenuhi syarat panjang sampai ke bawah, longgar, tidak ketat, tidak tipis atau transparan dan tidak membentuk lekuk tubuh. Sementara Khimar adalah penutup kepala yang dijulurkan hingga dada.Banyak yang masih salah dalam memahami jilbab dan Khimar, pakaian yang panjang mesti tidak memenuhi kriteria disebut sudah menutup aurat. Selendang yang hanya menempel di kepala juga disebut sebagai kerudung. Makna jilbab sendiri adalah pakaian longgar, sampai ke bawah bukan yang menyerupai pakaian laki laki seperti celana panjang. Kerudung atau Khimar pun harus panjang sampai menutup dada, bukan selendang ataupun yang dililit dileher seperti fashion yang berkembang saat ini. Menutup aurat yang benar dan sesuai tuntunan nabi adalah yang sesuai syariat, karena dalam sebuah hadist Rasulullah SAW jelas menekankan bahwa aurat wanita yang boleh terlihat hanya muka dan telapak tangan.
HR Abu Daud dan Aisyah RA mengatakan :' Asma binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah SAW dengan memakai pakaian tipis. Rasulullah SAW kemudian berpaling darinya dan bersabda : Wahai Asma, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haid (baligh) tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini, beliau menunjuk muka dan kedua telapak tangannya.".
Hadist tersebut secara jelas menerangkan wanita yang sudah baligh  sudah terkena hukum wajib mengenakan jilbab, bukan wanita yang sudah baik seperti pernyataan banyak orang  yang mengatakan , berakhlak baik dulu baru memakai jilbab. Akhlaq dalam Islam memang utama, tapi akhlak yang paling buruk adalah menentang perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Panutan kita sebagai muslim adalah Rasulullah SAW,dan petunjuk hidup kita adalah Al-Qur'an, sebuah kitab suci yang tak akan  lekang oleh zaman,takkan tergerus oleh perkembangan teknologi manapun, yang akan relevan sampai hari akhir, Jadi sebuah kesalahan fatal bila kita merujuk hukum Syara' pada sesuatu yang lain selain Al-Qur'an. Apalagi merujuk pada budaya yang tak syar'i,pada tokoh terkenal, ataupun publik figur. Karena sejatinya bertaklid pada yang demikian hanya mencari pembenaran atas hawa nafsunya yang tak ingin diatur Syara' dan tak ingin berislam secara kaffah, dan memisahkan agama dari kehidupan, dan tak ingin bersegera taat pada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Wallahu alam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update