Oleh : Layli Hawa
Dunia tengah digegerkan dengan keberadaan virus baru yang disebut dengan corona, yang muncul dari kota Wuhan, provinsi Hubei, China sejak 31 Desember 2019 lalu. Berdasarkan penuturan resmi dari Pemerintah Cina, virus tersebut pertama kali muncul dari wilayah Wuhan dan telah menyebar cepat.
Otoritas China mengumumkan peningkatan total kematian akibat virus corona, dari sebelumnya berjumlah 82 orang meningkat menjadi 106 orang.
Melansir Xinhua, selain itu, lebih dari 4.515 orang lainnya telah terkonfirmasi positif terinfeksi virus tersebut.
Virus corona yang tersebar di China dan wabah SARS di tahun 2003 memiliki dua kesamaan. Keduanya berasal dari keluarga virus corona dan ditularkan melalui hewan ke manusia. Menurut peneliti, virus corona merupakan penyakit zoonosis. Artinya, mereka disebarkan ke manusia dari hewan.
Bagaimana tidak, pusat kota Wuhan memiliki pasar makanan laut Huanan Seafood Market yang menjual berbagai hewan liar yang tak lazim. Diantaranya, mulai dari anak serigala, rubah hidup, buaya, salamander raksasa, ular, tikus, landak, hingga kelelawar yang diperjualbelikan secara bebas. Dan muncul dugaan virus mematikan ini disebabkan dari sup kelelawar, sebuah makanan populer di Wuhan.
Bermula dari kota Wuhan, China, kini virus corona telah menyebar ke 16 negara. Jerman, Amerika Serikat, Perancis, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Thailand, Australia, Nepal, Vietnam, Malaysia, Kanada, Kamboja, dan Sri Lanka. Selain negara-negara itu, wilayah milik China yang ada di luar China daratan, yaitu Hong Kong dan Macau. Mereka telah mengonfirmasi adanya virus tersebut ditempat masing-masing.
Untuk mengantisipasi penyebaran virus ini beberapa negara telah telah melakukan evakuasi warganya dari Wuhan dan kota-kota lainnya di China. Diantaranya, Amerika Serikat, Rusia, Perancis. Bahkan untuk waktu tertentu mereka akan menutup konsulat di Wuhan.
Namun tidak dengan Indonesia, justru pemerintah provinsi Sumatera Barat menerima 174 turis asal kunming, China di bandara Internasional Minangkabau di Padang pada minggu (26/1) lalu.
Pemerintah Indonesia juga melalui kementerian kesehatan mengatakan tidak akan menutup akses atau melakukan pembatasan perjalanan dari dan ke daratan China melalui udara, laut dan darat pasca penyebaran kasus virus corona yang masif dari Wuha , Hubei, China.
"Kita tidak melakukan restriksi, pembatasan perjalanan orang, karena bisnis bisa merugi, ekonomi bisa berhenti." Kata Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) kelas 1, Bandara Soekarno-Hatta, dr. Anas Ma'ruf di Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan pada Rabu, (22/1/2020) malam.
Dalam berita di laman Tribunnews.com, seorang perempuan asal Manado, yang berprofesi sebagai tour guide ke Tiongkok dan Wuhan diduga terjangkit virus corona. Hingga kini, ia masih diperiksa intensif di RSUP Prof. Kondou Manado, Sulawesi Utara.
Bagaimana Islam memandang penyebaran virus corona yang berasal dari makanan?
Allah telah menganugerahkan manusia memiliki potensi hidup (khaasiyyatul insan) yang diantaranya bahwa manusia memiliki kebutuhan jasmani (hajatul udhuwiyyah) yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah kebutuhan makan dan minum. Allah pula telah menentukan bagaimana manusia mengatur kebutuhan jasmaninya agar tepat dan menyehatkan bagi tubuh.
Dalam firman-Nya Allah memerintahkan untuk makan makanan halal dan thayyib (baik) dalam surat Al-Maidah ayat 88, yang artinya :
“dan makanlah makanan yang halal lagi baik (thayib) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya”
Dan Allah melarang manusia memakan makanan haram yang membahayakan tubuh. Seperti hadits yang berbunyi :
"Tiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram maka api neraka lebih utama membakarnya. (HR. Ath-Thabrani)."
Munculnya virus corona di Wuhan, China, jelas karena manusia mengabaikan perkara makan yang telah Allah gariskan. Akibat pengaruh sistem liberal, yang bebas melakukan apapun termasuk dalam urusan perut tanpa melihat sisi layak/tidak, halal/haramnya. Selama bisa memenuhi perut kosong, apapun bisa dimakan. Itulah prinsip hidup para liberalis. Tapi itu semua harus mereka bayar, yaitu Allah memberikan peringatan melalui virus corona yang mematikan.
Bagaimana seharusnya sikap pemerintah dalam mewaspadai virus agar tidak menjangkiti warganya?
Seperti yang diketahui, pernyataaan bahwa pemerintah menerima turis China dengan alasan bisnis dan ekonomi sangat disayangkan. Bagaimana tidak, ini sangat berbeda dengan pengaturan Islam yang mengambil tindakan cepat tepat dalam menangani pencegahan virus mematikan agar tidak tersebar ke daerah lain. Seperti yang disabdakan Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam.
"Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari)
Sistem Kapitalis telah membuat penguasa disibukkan dengan untung rugi yang dikaitkan dengan duniawi. Yang melahirkan pemimpin hanya berpacu pada kuntungan yang harus didapat oleh negara bagaimanapun caranya. Dalam hal ini bahwa pemerintah masih bergantung pada China, sebagai negara penyumbang investasi besar, tanpa melihat bahwa negara telah mengorbankan rakyat sekalipun itu adalah penyakit menular yang mematikan.
Inilah yang berbeda dengan Islam. Sistem Islam tegak di atas landasan keimanan kepada Allah Swt. Segala sesuatu disandarkan bahwa apapun yang terjadi adalah ketentuan Allah SWT. Dan memiliki tindak pencegahan sebelum wabah menyebar dan pengobatan jika terlanjur menyebar.
Tidak ada penyakit yang bisa menular kecuali atas izin Allah. Ini terbukti dengan satu tempat di muka bumi ini yang sampai sekarang belum pernah tersentuh wabah penyakit dengan jumlah korban masif. Yakni, Madinah.
"Sesungguhnya Kota Madinah itu dipagari oleh para malaikat, di setiap jalan masuknya terdapat dua malaikat yang menjaganya. Tidak masuk di dalamnya wabah tha'un dan tidak juga Dajjal." [HR. Bukhari dan Imam Ahmad].
Maka, tidak ada yang Allah ridhoi di dunia ini kecuali ketundukan manusia kepada sang pencipta. Jika penduduk bumi menaati perintah dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah turunkan berkah kepada suatu negeri. Namun jika tidak, tunggulah sampai Allah menunjukan kekuasaan-Nya.
Semoga Allah menjaga bumi Allah dan negeri ini dari segala wabah penyakit dan sejenisnya.
اَللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّاالْغَلَآءَ وَالْبَلَآءَ وَالْوَبَآءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَآئِدَ وَالْمِحَنَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بَلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً اِنَّكَ عَلَى كُلِّى شَيْئٍ قَدِيْرٌ. آمين

No comments:
Post a Comment