Oleh : Aniyatul Ain
(Pendidik)
Saya tergelitik ketika membaca berita di media online yang berjudul “Jadilah Sarjana Intelektual, Bukan Sarjana Tukang” (Vivanews, 21/12/2019). Di berita itu, Profesor Mahfud MD menggugat Pendidikan Tinggi. Beliau mengatakan, “Dunia Perguruan Tinggi (PT), saat ini sedang menjadi ‘terdakwa’ dari kekacauan tata kelola pemerintahan dan munculnya korupsi di mana-mana”. Menurutnya, gugatan itu dilayangkan pada PT karena umumnya pelaku korupsi adalah sarjana yang merupakan produk dari PT. Pelaku korupsi umumnya sarjana tukang. Keahliannya bisa diperdagangkan sesuai pesanan.
Gugatan Sang Profesor, memang patut kita renungkan. Jebolan universitas tidak menjamin seseorang berintegritas. Padahal, amanat UU Nomor 12 Tahun 2012, Pendidikan Tinggi bertujuan: (1) Berkembangnya potensi mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa. (2) Dihasilkannya lulusan yang menguasai cabang ilmu pengetahuan dan/atau teknologi untuk memenuhi kepentingan nasional dan peningkatan daya saing bangsa. (3) Dihasilkannya ilmu pengetahuan dan teknologi melalui penelitian yang memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora agar bermanfaat bagi kemajuan bangsa, serta kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia. (4) Terwujudnya pengabdian kepada masyarakat berbasis penalaran dan karya penelitian yang bermanfaat dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Menurut saya, tidak amanahnya para jebolan universitas yang mengakibatkan kacaunya tata kelola pemerintahan dan mengguritanya kasus korupsi, tidak lain karena mereka kurang “menggenggam” norma agama sebagai pegangan hidup. Kok bisa? Bukankah amanat UU Nomor 12 Tahun 2012 di atas, tujuan PT adalah membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME? Ya, secara individu mereka memang beriman, tapi sistem kehidupan yang dijalani saat ini malah memisahkan agama dari kehidupan (sekuler). Agama dipersempit hanya untuk ibadah spiritual dan ingat ajal! Adapun ketika menjalankan roda kehidupan, manusia kembali tenggelam dalam kesenangan. Tidak mengindahkan perintah Tuhan (Allah SWT). Bagaimana tidak? Nafas kehidupan di negeri ini, kental dengan aroma materialistik. Segala sesuatu diukur berdasarkan materi. Asas manfaat juga lekat dalam setiap perbuatan. Seseorang akan terdorong melakukan sesuatu, jika di sana mengandung manfaat. Bahkan, standar kebahagiaan pun dipatok, dari seberapa besar materi yang diperoleh. Mengerikan bukan? Manusia-manusia zaman sekarang menjadi “hamba” materi. Maka tidak heran, sarjana-sarjana kita setelah lulus, pikirannya dominan soal “fulus”. Karena sistem kehidupan kapitalis ini, yang menarik mereka pada pusaran ambisi memperbanyak kekayaan, bukan seberapa banyak memberi manfaat bagi semua orang. Ditambah, biaya politik di negeri ini yang tidak murah, maka jalan pintas memperkaya diri dengan korupsi, menjadi hal yang lumrah.
Tentu berbeda dalam paradigma Islam. Sebagai sebuah agama dan sistem hidup, Islam memiliki seperangkat aturan yang sempurna dan paripurna. Islam bukan hanya sekedar diimani, tapi diterapkan dalam kehidupan. Kurang lebih 13 abad lamanya, sejarah mencatat peradaban Islam tegak berdiri. Aturan-aturan Islam yang menyeluruh membawa dunia Islam terdepan memimpin peradaban. Terkait sistem pendidikan, ilmuan-ilmuan Muslim banyak menorehkan mahakarya yang bermanfaat untuk umat. Kehebatan mereka diakui lintas zaman. Ini tidak lepas dari peran negara yang mengintegrasikan iman dan aturan (hukum-hukum Islam) di sendi-sendi kehidupan. Para intelektual Muslim terdidik dari sistem pendidikan yang berasaskan akidah Islam. Kurikulum dan tujuan pendidikan juga didesain dengan asas akidah Islam. Harapannya, output dari sistem pendidikan Islam ini: manusia-manusia yang “mengkristal” kepribadian Islamnya. Yaitu kepribadian yang memiliki pola pikir dan pola sikap islami. Berpikir dan bersikap hanya berstandarkan Islam semata, bukan hawa nafsu.
Para lulusan PT di sistem pendidikan Islam adalah generasi yang matang, baik secara pemikiran maupun perbuatan. Mereka memahami, bahwa orang yang berilmu adalah yang paling takut kepada Tuhannya. Maka, ia tidak akan gegabah dalam berperilaku. Disinilah hakikat ilmu yang sebenarnya. Dipelajari untuk menghilangkan kebodohan, menyibak tabir kehidupan bahwa manusia sebagai subjek kehidupan adalah hamba Allah SWT. Sehingga manusia sadar, hadirnya ia di dunia adalah untuk menghamba pada-Nya, bukan pada sesuatu yang “fana”. Output pendidikan yang seperti ini, ketika menjalani kehidupan tentu tidak akan bertindak serampangan. Karena menyadari dunia hanya tempat persinggahan. Hasil pendidikan semacam ini tentu tidak akan terpikir untuk menguras habis kas negara dengan jalan korupsi. Apalagi menjadi biang kerok kacaunya tata kelola pemerintahan karena buruknya attitude. Mereka justru berlomba-lomba menjadi manusia penebar rahmat dan pemberi manfaat ke banyak orang. Karena mereka ingat pesan teladan utama yaitu baginda Muhammad SAW dalam sebuah sabdanya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Ad-Daruquthni).
Sistem pendidikan Islam juga diformulasikan untuk menghasilkan output yang menguasai IPTEK. Islam tidak anti ilmu pengetahuan dan teknologi. Justru teknologi dikembangkan dengan pesat menggunakan prinsip kemanusiaan. Tidak seperti di sistem kapitalis, penguasaan teknologi malah untuk “menjajah” negeri lain. Mengeruk kekayaan dan eksploitasi tiada henti.
Berikut adalah deretan nama-nama intelektual Muslim output sistem pendidikan Islam yang karyanya dapat kita nikmati sampai sekarang, walaupun kita sudah berbeda zaman dengannya. Diantaranya, Al-Khawarizmi (hidup pada masa Bani Abbasiyah, sangat terkenal di masa kekhalifahan Al-Makmun abad 9 M): pakar matematika, penemu angka nol, algoritma, aljabar. Semua dedikasi ilmunya beliau tuangkan dalam kitab Al-Jabr wa Al-Muqabalah. Al-Khazini, pakar fisika dan astronomi terkemuka. Beliau menulis sebuah buku tentang mekanika, hidrostatatik, dan fisika dengan judul Kitab Mizan Al-Hikmah, buku yang berisi tentang teori gaya tarik bumi (gravitasi). Ibrahim ibn Habib Al-Fazari, beliau pakar astronomi, orang pertama yang membuat astrolabe, yaitu sebuah alat yang digunakan untuk memprediksi posisi matahari, bintang serta benda-benda angkasa lainnya. Ibnu Sina (Avicena, 981-1037 M), pakar kesehatan dan kedokteran yang terkenal dan terpenting di dunia Islam, karya beliau yang fenomenal Qanun (Canon). Manshur ibn Muhammad, ahli bedah Muslim yang menulis kitab Tashrih Al-Manshuri, berisi gambar organ tubuh manusia yang sebelumnya tidak pernah ditemukan dalam buku-buku ilmuwan Yunani. (Shahib Al-Kutb dalam Warisan Peradaban Islam, tahun 2002).
Demikian nama-nama intelektual Muslim berikut mahakaryanya. Saya tidak bisa menuliskan secara keseluruhan dalam ruang yang terbatas ini, tersebab banyaknya ilmuwan Muslim yang lahir dari sistem pendidikan Islam. Oleh karenanya, tidak cukup hanya menggugat lulusan PT yang menjadi terdakwa kacaunya tata kelola negeri ini. Namun, gugatlah sistem pendidikan sekuler saat ini. Sudah kah ia berhasil mendidik generasi di negeri ini menjadi manusia yang beradab? Jika belum, mari benahi bersama dengan tawaran alternatif sistem pendidikan Islam seperti yang saya jelaskan di atas. Wallahu a’lam.
Data Diri Penulis:
Aniyatul Ain, S.Pd adalah seorang pendidik, IRT, menulis artikel, puisi, tinggal di Tangerang. Alumnus UPI Bandung ini seorang pendiam yang selalu “berteriak” dalam diam (dalam tulisan). Akun media sosial, Facebook: Aniyatul Ain. Alamat e-mail: aniumihisaam@gmail.com

No comments:
Post a Comment