Oleh : Riyulianasari
Persoalan banjir di Jakarta bukanlah persoalan baru, sejarah
mencatat banjir telah terjadi sejak jaman Belanda hingga sekarang tak pernah
berhenti, segala usahapun sudah dilakukan dari periode ke periode tak juga
berhasil
Pembangunan gedung atau pun jembatan tanpa memperhatikan
lingkungan merupakan salah satu penyebab terjadinya banjir di Jakarta. Surat
ijin mendirikan bangunan yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak lagi
memperhatikan keseimbangan alam. Tujuan pembangunan hanyalah untuk meraih
materi tentu saja bertambahnya pajak yang dipungut negara akibat dari
pembangunan tersebut. Walaupun ini dibantah langsung oleh Gubernur DKI Jakarta,
Anies Baswedan yang menyatakan, berdasarkan laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi
dan Geofisika (BMKG) hujan yang turun extrem di momen pergantian tahun ini adalah
yang selama kurun waktu 24 tahun terakhir.
Anies menjelaskan, pihaknya tidak ingin mencari-cari alasan apalagi
menyalahkan siapapun termasuk pembangunan infrastruktur yang saat ini sedang digenjot.
Pembangunan infrastruktur di Jakarta menjadi alasan bagi
kemajuan negara meskipun dengan cara berhutang kepada Cina atau menerima
tawaran hutang luar negeri seperti AS ataupun IMF, dengan alasan untuk
kesejahteraan rakyat dan untuk kepentingan rakyat.
Kebijakan pemerintah dalam membangun Jakarta sangat
berkaitan erat dengan ideologi Kapitalisme yang
berpihak kepada kepentingan pengusaha, sehingga pemerintah rela membuka
pintu pintu untuk masuknya investor
asing yang menanamkan modalnya di Indonesia sehingga semakin membuat sesaknya
Ibukota Jakarta dengan banyaknya pembangunan. Padahal pada akhirnya rakyatlah
yang menjadi korban banjir yang banyak
dirugikan, rusaknya harta benda bahkan korban meninggal akibat tersengat aliran
listrik pun terjadi setiap banjir melanda Jakarta. Janji janji kampanye untuk
membenahi Jakarta dan mengatasi banjir belum berhasil mengatasi persoalan
banjir di Jakarta. Bahkan saling menyalahkan diantara mantan gubernur DKI
Jakarta. Banjir pun terjadi di kota kota lain di Indonesia.
Begitulah kenyataannya, ideologi kapitalisme merusak cara
berfikir manusia, merusak alam semesta dan kehidupan, dan menyengsarakan bahwa
dapat membinasakan kehidupan, tidak ada keberkahan di dalamnya.
Ruang Air Direbut
Jakarta sejatinya merupakan daerah rawa. Namun, seiring
bertambahnya populasi manusia di ibukota dan perkembangan pembangunan,
rawa-rawa tersebut kini berubah tampilan menjadi permukiman dan gedung-gedung
tinggi.
Banjir di awal 2020 kemarin, mau tak mau tak bisa dilepaskan
dengan Ruang Terbuka Hijau dan Ruang Terbuka Biru yang semakin hari semakin
digerus oleh para pengembang.
Pemprov DKI menunjukkan sebuah peta bahwa saat ini 90 persen
lahan di DKI Jakarta sudah dibeton. Pada 2004 hingga 2006, Agung Podomoro Grup
secara agresif membangun 12 apartemen di kawasan barat, pusat, selatan dan
utara Jakarta. Saat ini total apartemen di Jakarta mencapai sekitar 234
apartemen yang tentunya secara masif pula menyedot air tanah dan berperan
mempercepat penurunan tanah (land subsidence).
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DKI Jakarta setiap
dekadenya semakin menguning. Jika melihat peta RTRW tahun 1980, DKI Jakarta
masih cukup banyak lahan hijau. Namun pada peta RTRW 1999-2005, kawasan hijau
makin berkurang dan berganti dengan kuning alias untuk permukiman. Pada peta
RTRW 2010-2030 nyaris semua kawasan di Jakarta menjadi kuning.
Untuk itu, cara lain yang bisa dilakukan Pemprov DKI menurut
Elisa adalah dengan mengembalikan sejumlah fungsi lahan yang saat ini
peruntukkannya sebagai gedung. Misalnya saja Mega Mall Pluit yang Hak Guna
Bangunan (HGB)nya akan habis pada 2025.
“Pemprov bisa mengembalikannya ke fungsi semula. Dulu itu
namanya Taman Tirta Loka. Kalau mau ya hancurkan saja. Itupun jika belum diubah
menjadi hak milik. Semoga tidak, ya. Pemprov bisa mengembalikan fungsi lahan
pada gedung-gedung yang HGB-nya akan segera habis," lanjut Elisa.
Baik Elisa maupun Bintang, enggan mengambinghitamkan
perubahan iklim sebagai satu-satunya penyebab banjir kendati terdapat anomali
curah hujan ekstrem hingga 377 mm/hari.
“Jika penanggulangan banjir sudah cukup baik, infiltrasi di
hulu maksimal, drainase dan RTB mumpuni di hilir, pompa jalan dengan baik,
risikonya bisa diminimalisir," ucap Bintang.
Maka pembangunan infrastruktur di dalam islam haruslah
memperhatikan keseimbangan alam dan fungsi hutan. Semua harus difungsikan
sesuai dengan sifatnya, tidak boleh manusia mengatur alam ini berdasarkan hawa
nafsu untuk meraih materi keuntungan semata, tetapi harus berjalan sesuai sifat
dan fungsi nya masing-masing, maka untuk mewujudkan aturan ilahi hanyalah
dengan membuang ideologi kapitalisme dan menggantinya dengan ideologi islam
yang diridhoi oleh Allah SWT.

No comments:
Post a Comment