Oleh : Widhy Marha
Pendidik Generasi dan Member Akademi Menulis Kreatif
Dalam menjalani kehidupan, kita sering kali harus berhadapan dengan orang lain. Bersosialisasi di tengah masyarakat dapat diwujudkan dengan interaksi antar sesama. Demi menjaga hubungan tetap baik, perlu memperhatikan cara berkomunikasi dengan benar.
Ada ungkapan Arab mengatakan, “barang siapa manis tutur katanya (perkataannya) banyaklah temannya.” Hal ini jelas menekankan bahwa dalam bertutur kata menentukan seberapa banyak hubungan yang bisa dibangun dan dengan siapa berteman. Dalam hal ini, nasehat-nasehat Rasulullah Saw juga sering mengingatkan kita untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan perkataan.
“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” Ini menjelaskan bahwa perkataan yang diucapkan semena-mena akan besar bahayanya.
Seperti perkataan “ngawur” dari seorang muslimah istri mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sinta Nuriyah yang mengatakan bahwa muslimah tidak harus memakai jilbab.
Dia menyampaikan pernyataan itu saat acara bersama Deddy Corbuzier yang diunggah ke Youtube pada Rabu, 15 Januari 2020. Di acara tersebut, ia juga mengatakan bahwa sang suami juga sependapat dengannya. Karena itu anak dan istri Gusdur tidak mengenakan jilbab secara syar'i.
Sebenarnya berjilbab atau tidak, itu hak keluarga bu Sinta Nuriyah. Dan mereka bertanggung jawab kepada Allah. Namun, beliau adalah istri tokoh agama. Setiap tindak tanduknya pasti disorot khalayak, maka jelas ini menjadi polemik dan kontroversi.
Mayoritas umat Islam tentu menolak. Semua ulama sepakat bahwa menutup aurat bagi muslimah adalah wajib. Bahkan, sebagiannya justru mewajibkan cadar. Aneh saja, jika ada tokoh yang merasa lebih paham dari ulama itu sendiri.
Namun, tidak sedikit yang menganggap pernyataan ini salah. Para liberalis tentunya, mereka merasa semakin di atas angin. Pasalnya pernyataan istri salah satu mendiang tokoh nasional ini sejalan dengan pemikiran yang mereka usung. Kaum liberal sudah sejak lama melakukan dejilbabisasi, dari mulai munuduh pemakai jilbab kurang vitamin D, jilbab menghasilkan limbah, hingga tuduhan kontekstual bahwa jilbab tidak sesuai zaman.
Begitu pun masyarakat yang sekuler, tentu menyambut baik pernyataan ini. Terlebih mereka memang alergi dengan syariat Islam. Mereka yang beranggapan jilbab bukan bagian dari budaya mereka sehari-hari. Jilbab yang dianggap budaya Arab, sebagai pembenaran atas mereka.
Tak bisa dipungkiri, ini adalah bagian dari pemikiran liberal yang berbahaya. Dengan mempropagandakan hijab, sama saja menistakan ajaran Islam. Inilah yang wajib diwaspadai.
Dalam Islam aurat wanita itu adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu‘anha, beliau berkata,
أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ
“Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah Saw dengan memakai pakaian yang tipis. Maka Rasulullah Saw pun berpaling darinya dan bersabda, “wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haidh (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya, kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya.” (HR. Abu Daud 4140, dalam al-Irwa [6/203] al-Albani berkata: “Hasan dengan keseluruhan jalannya”)
Jilbab itu lambang kehormatan muslimah. Wajib dikenakan bagi wanita Muslim saat keluar rumah, sebagai tanda pengenalnya bahwa dia seorang wanita mukmin, dan dia tidak diganggu (al-Ahzab : 59). Mengkampanyekan bahwa jilbab tidak wajib berarti mengajak muslimah untuk sesat dari agamanya sendiri.
Kaum liberal memang sudah biasa memframingkan ajaran Islam sesuka hati, dengan akal licik mereka. Tidak lain agar Islam semakin jauh dari kehidupan. Jadi, yang diambil hanya nilai-nilai Islam saja. Dengan pola yang sama, membenturkan syariat Islam dengan budaya.
Sehingga ayat-ayat Allah yang wajib ditaati mereka anggap sebaliknya boleh dilanggar, setelah makna tekstual dan kontekstualnya dipelintir sesuka hati. Sesuai dengan hawa nafsu mereka, jilbab yang sejak ribuan tahun lalu diwajibkan atas muslimah, mereka sebut tidak wajib.
Mereka mengatakan tafsir modern, tafsir kontekstual, tafsir budaya dengan bahasa ilmiah, agar umat percaya. Dan mengikuti pemikiran rusak mereka. Padahal siapa yang berhak diikuti selain perintah Allah dan RasulNya?
Dari Abu Dzar, ia berkata, ”Dahulu saya pernah berjalan bersama Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda, “Sungguh bukan Dajjal yang aku takutkan atas umatku.” Beliau mengatakan tiga kali, maka saya bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah selain Dajjal yang paling Engkau takutkan atas umatmu?” Beliau menjawab, para tokoh yang menyesatkan”. [Musnad Ahmad (35/222)]
Oleh karena itu, harus berhati-hati dalam merujuk sebuah pemahaman, apalagi terkait syariat Islam. Jika salah, hidup bisa berujung sesat. Sudah sesat, menyesatkan pula. Tidak ada yang didapat selain kecelakaan di dunia dan akhirat-Nya.
Dan segeralah bentengi dan hindarkan keluarga kita, sahabat serta handai taulan dari racun-racun pemikiran liberalisme, sekularisme, dan pluralisme. Terkhusus bagi saudari muslimah, kembalilah pada syariah Allah, lindungilah ayah, suami, anak laki-laki, dan juga dirimu dari azab Allah. Bersegeralah mengenakan hijab syar'i yang memuliakanmu di dunia sampai akhirat nanti. Bangunlah, hijrahlah sebelum engkau berhijab syar'i di dalam kubur.
Wallahu a’lam bishshawab.

No comments:
Post a Comment