Oleh : Hasnani,
Aktivis dan Mahasiswa,
Butiran debu terbang membawa pilu, tipu daya dunia begitu halus nan sutra menggoda indah menggerogoti jiwa dan raga. Hingga lupa akan tujuan.
Tak kuat menahan teriknya matahari, puluhan penari pada even Tari Umbul Kolosal di Waduk Jatigede Kabupaten Sumedang dengan jumlah peserta 5.555 orang, satu persatu jatuh pingsan dan beberapa di antaranya mengalami kesurupan, selasa (31/12/2019).
Sedikitnya ada enam orang yang mengalami kesurupan dan 78 orang lainnya jatuh pingsan saat mengikuti Tari Umbul Kolosal di Waduk Jatigede (kompas.com 31/12/2019)
Penari yang mengalami kesurupan rata-rata disembuhkan oleh ustadz atau orang pintar lainnya di lokasi.
Tari umbul kolosal sendiri merupakan tradisi warisan leluhur yang wajib dilestarikan sebagai bentuk ketidaksenangan warga terhadap penjajah Belanda. Budayawan Sumedang Tatang Sabana mengatakan bahwa tari Umbul mulai ada sekitar tahun 1940-an di Dusun Patugpug, Desa Cijambeng Kecamatan Paseh. Ciri khas tari Umbul ada pada gerakan pinggul yang menonjol, mengandung misteri dan berbau mistis termasuk angka 5.555 di Tari Umbul Kolosal yang memiliki makna tersendiri.
Seperti yang kita ketahui, menjamurnya tempat wisata berbau mistis menjadi salah satu paket penasaran dan menantang hingga ramai diminati bagi wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Ditambah lagi dengan menyajikan berbagai bumbu seperti mitos dan misteri sebagai kepercayaan masyarakat dan diwariskan turun-temurun
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir mengatakan “Tari Umbul menjadi salah satu aset potensial dalam menunjang sektor pariwisata di kabupaten Sumedang dan bentuk apresiasi kepada seniman daerah yang mendukung Sumedang dangan mempromosikan objek wisata di sekitar Waduk Jatigende. Sekaligus memberikan hiburan kepada masyarakat dari dalam dan luar Sumedang.
Disisi lain, pariwisata di Indonesia dianggap sangat berpotensial untuk menjadi ladang keuntungan dan solusi dalam menghadapi dampak perang dagang yang memanas antara China dan Amerika Serikat. Sehingga langkah pemerintah yang fokus pada pembangunan infrastruktur dan memperbaiki tempat-tempat wisata sebagai investasi yang menguntungkan dan bisa menutupi defisit negara yang sumber pembiayaannya jelas dari hutang.
Dunia Internasional turut mendikte Negara Indonesia untuk menggencarkan sektor pariwisata dengan landasan liberalisasi yang menjadi ruh kapitalisme menggiring masyarakat dunia menjadikan wisata sebagai lifestyle. Apalagi lembaga kapitalis barat seperti United Nations Woirld Tourism Organization, G20.
UNESCO turut memprovokasi dunia agar melibatkan diri dalam bisnis yang menggiurkan ini. Dampaknya para kapitalis Barat semakin mudah dan leluasa mengeruk kekayaan negeri ini.
Inilah salah satu bentuk strategi penjajah kapitalis barat. Mereka tidak akan berhenti mengeruk kekayaan negeri ini selama negara masih di dikte lembaga dunia dan negara besar lainnya, ataupun aliran utang yang dislogankan sebagai investasi tidak akan bisa lenyap selama yang berkuasa adalah rezim antek asing. Imperialisme kapitalisme akan lenyap ketika kekuasaan negeri muslim berada dalam naungan khilafah. Negara mendapatkan pemasukan sumber utama dari pos fai-kharaj, kepemilikan umum dan pos sedekah. Beda halnya ketika yang berkuasa adalah antek rezim asing maka pariwisata pun dijadikan sumber devisa utama sehingga permisif demi menggenjot pemasukan.
Islam menempatkan tujuan utama pariwisata adalah sebagai sarana dakwah dan di’ayah (propaganda). Menjadi sarana dakwah agar manusia takjub ketika melihat keindahan alam sehingga menjadi takafur, dan di'ayah (propaganda) adalah untuk membuktikan kepada siapapun bahwa keagungan Islam serta kegemilangan peradaban Islam)l sehingga tercipta negara yang mandiri, mulia dan tangguh. Sehingga mampu lepas dari cengkraman tangan-tangan asing.
Wallahu a'alam bish Shawab

No comments:
Post a Comment