Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Hindarkan Syirik Dari Pariwisata Indonesia

Wednesday, January 22, 2020 | Wednesday, January 22, 2020 WIB Last Updated 2020-01-22T14:08:30Z
By : Rianny Puspitasari, S.Pd., M.Pd.
rianny.agnyoto@gmail.com

Sektor pariwisata saat ini memang sedang menjadi primadona.  Banyak Negara berlomba-lomba mengembangkan sektor ini untuk menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.  Salah satunya Indonesia.   Beberapa tahun terakhir, Indonesia memang gencar mendorong kemajuan di bidang pariwisata ini.  Pemerintah  menghimbau daerah-daerah untuk memberikan fokus pada sektor yang dinilai bisa mendongkrak perekenomian negeri yang sedang bergoyang.

Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mencanangkan Sumedang sebagai kabupaten pariwisata di Indonesia.  Untuk mendongkrak pariwisata Sumedang, pada tanggal 31 Desember 2019 kemarin diadakan event pagelaran tari yang diklaim diikuti oleh penari terbanyak di dunia.  Pada hari tersebut sebanyak 5555 penari dari 270 desa di Sumedang berkumpul  di Waduk Jatigede dan bersama-sama menarikan Tari Umbul Kolosal yang merupakan tarian tradisional Sumedang.   Namun sayang, dalam pagelaran tersebut diketahui 6 orang kesurupan dan 78 orang pingsan. 

 Indonesia sendiri memang dikenal memiliki banyak tempat  wisata yang indah.  Bukan hanya wisata alam yang diandalkan, untuk sektor wisata sendiri tidak sedikit kebudayaan yang ditawarkan menjadi daya tarik wisata untuk menarik wisatawan.  Sayangnya, diantaranya juga ada budaya-budaya yang mengandung nilai kemusyrikan namun tetap dipertahankan bahkan harus dilestarikan atas nama pariwisata.  Tentu ini adalah sesuatu yang keliru.  Dalam Islam, aqidah adalah pondasi yang menjadi dasar dari keimanan.  Maka, hal-hal yang akan merusak aqidah tidak boleh dibiarkan, harus dihilangkan.  Orang kafir menyadari bahwa aqidah adalah kunci kekuatan umat, maka mereka berupaya keras melemahkannya.  Salah satu usaha yang mereka lakukan adalah menggiring opini bahwa budaya-budaya yang mengandung syirik kepada Allah bukanlah sesuatu yang berbahaya, justru harus dilestarikan  demi mengembangkan pariwisata.

Berikutnya, yang harus kita kritisi adalah penyesatan opini publik dengan menganggap bahwa pembangunan pariwisata bisa menghadapi kesulitan ekonomi akibat perang dagang China-Amerika Serikat.  Hal ini dikatakan oleh Staf Ahli Menteri PPN Bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan, Amalia Adininggar Widya bahwa di tengah kondisi global yang tidak menentu, sektor pariwisata dapat menjadi kunci pertumbuhan ekonomi suatu negara (monitorday.com).  Padahal jika dikaji lebih dalam, untuk memperbaiki perekonomian suatu negara, kita harus fokus dulu pada sektor-sektor strategis.  Pariwisata bukanlah termasuk sektor strategis.  Oleh karena itu, jika kita salah fokus maka perbaikan pun tidak akan bisa kita raih.

Indonesia adalah negeri yang kaya, baik barang tambangnya, potensi lautnya, juga potensi hutannya yang begitu luar biasa.  Pengelolaan dengan sistem yang salah membuat Indonesia tidak dapat merasakan kesejahteraan yang sebenarnya bisa didapat dengan kekayaan alam yang melimpah. 
 Bagaimana tidak, potensi besar yang dimiliki tadi malah diberikan secara mudah kepada asing.  Hal ini juga lah yang membuat kita terus terjajah secara tidak sadar, bukan penjajahan fisik namun penjajahan nyata yang tidak terasa.  Penerapan  sistem ekonomi kapitalistik membuat negeri ini terpuruk.  Rakyatnya sengsara di tengah kekayaan negeri yang melimpah.  Salah fokus dalam upaya perbaikan, tidak akan membawa pada penyelesaian, yang ada malah pengokohan penjajahan.

Sistem hidup buatan manusia yang diterapkan saat ini telah nyata membawa umat pada keterpurukan, berbeda dengan sistem buatan Sang Pencipta.  Islam sebagai dien  yang mengatur seluruh aspek kehidupan sesungguhnya memiliki sistem yang sempurna dan menyeluruh, termasuk dalam pengaturan sistem ekonomi.  Islam memandang pariwisata bukanlah sebagai sektor strategis yang mengharuskan sektor ini menghasilkan pendapatan besar bagi negara.  Dalam Islam, tempat-tempat pariwisata didorong untuk menjadi penguat iman dengan menjadikannya sarana untuk tadabbur alam dan semakin mengagumi kekuasaan Allah.  Jadi tidak ada pariwisata yang berbau syirik atau yang didalamnya mengandung maksiat bisa tumbuh subur apalagi dilestarikan.  

Dalam sistem ekonomi Islam, pengelolaan sumber daya alam adalah salah satu sektor strategis yang akan memberikan pendapatan besar bagi negara, sehingga haram diserahkan kepada asing.  Pengelolaannya wajib oleh negara untuk kesejahteraan warga negara.  Namun perlu diingat, sistem ekonomi Islam tidak bisa berdiri sendiri, ini berkaitan dengan penerapan sistem Islam yang lainnya seperti sistem pemerintahan, sistem pendidikan, sistem sanksi dan lain-lain.  Semua sistem ini hanya bisa dilaksanakan dibawah sebuah institusi yang mendasarkan asasnya pada Islam semata, yakni Daulah Khilafah Rasyidah.
Wallahu’alam bi ash shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update