Oleh : Yanna Azzam
(Aktivis Muslimah)
Perayaan
menyambut tahun baru 2020 tidak hanya diwarnai dengan aneka konser musik,
panggung hiburan rakyat yang membentang luas, ramainya tiupan terompet,
petasan, kuliner, kostum yang gemerlap, serta acara huru hara lainnya. Tapi
Sambutan tahun 2020 juga diwarnai dengan hujan deras yang berujung rintihan dan
musibah.
Warga
Jabodetabek mendapatkan kado tahun baru dengan diguyurnya hujan deras sejak
Selasa sore (31/1) hingga Rabu pagi (1/1). Akibatnya, hampir seluruh wilayah
Ibukota lumpuh karena terendam banjir. Tercatat ada 63 titik banjir yang
menyebar di kawasan Jakarta. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menyatakan,
berdasarkan laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
hujan yang turun di momen pergantian tahun ini adalah yang paling ekstrem
selama kurun waktu 24 tahun terakhir. (nusantara.rmol.id)
Jakarta,
ibu kota negara yang merupakan pusat kota, pusat perdagangan, jasa dan
pariwisata, dengan pertumbuhan perekonomian yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi
ini diikuti oleh jumlah populasi yang semakin meningkat dan pemenuhan kebutuhan
yang juga meningkat. Kebutuhan akan fasilitas-fasilitas pendukung juga
meningkat seperti dibangunnya fasilitas umum, sekolah-sekolah, rumah sakit,
pasar dan pusat-pusat produksi untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa.
Infrastruktur
dan perumahan/pemukiman penduduk mulai banyak dibangun untuk memenuhi kebutuhan
masyarakatnya. Pembangunan infrastruktur dilakukan pemerintah baik melalui
swasta maupun BUMN. Kebutuhan menjadi alasan massifnya pembangunan
infrastruktur di Jabodetabek. Pembangunan massif dilakukan namun sistem rancang
perkotaan menggunakan sistem kedap air, sehingga tidak seimbangnya jumlah
bangunan atau infrastruktur dan tata kota dengan daerah resapan air menjadi
salah satu penyebab banjir yang ada di Jabotabek. Debit air yang banyak dan
tidak tertampungnya air karena minimnya resapan menjadi penyebab banjir. Maka
wajar apabila banjir diawal tahun ini menjadi banjir yang sangat ekstrem.
Pembangunan
infrastruktur yang tidak mengindahkan tata ruang kota, kebutuhan resapan air
dan hal lain yang menyebabkan kemudharatan tidak lepas dari sistim ekonomi
kapitalis yang menyerahkan pembangunan ini kepada orang-orang kapitalis yang
hanya mementingkan keuntungan semata. Mereka rela membuat orang lain menderita
demi meraup keuntungan yang banyak. Pembangunan infrastruktur dengan tidak
mengindahkan resapan air yang bisa menyebabkan tidak tertampungnya resapan air
demi keuntungan pribadi akan mereka buat asalkan mereka bisa membuat bangunan
yang luas dan megah. Dan semata-mata hanya urusan bisnis dan Keuntungan yang
banyak tanpa memperhatikan dampak lingkungannya dan hal-hal yang akan terjadi
di kemudian hari.
Populasi
yang meningkat akan membutuhkan pemenuhan kebutuhan yang meningkat, bukan hanya
kebutuhan dan fasilitas-fasilitas tambahan, kebutuhan primer akan perumahan
juga sangat dibutuhkan. Kemiskinan di Indonesia, khususnya di Jakarta menjadi
salah satu sebab tidak terpenuhinya kebutuhan akan perumahan ini. Sehingga
untuk memenuhinya mereka akan membangun perumahan/pemukiman di bantar sungai.
Dan karena lemahnya pendidikan yang mereka dapatkan dalam sistem kapitalis,
mereka tidak memperhatikan kondisi lingkungan, kebersihan dan keindahan
lingkungan sungai. Alhasil lingkungan sungai menjadi kotor, aliran air yang
tersumbat dan ini bisa menjadi penyebab banjir.
Islam
adalah satu-satunya solusi untuk mengatasi banjir. Mengapa? Karena Islam adalah
pandangan hidup yang bersumber dari pencipta alam semesta ini yaitu Allah.
Hanya Islam yang mempunyai peraturan dalam kehidupan yang juga berasal dari
pencipta alam semesta ini, yaitu Allah. Bukan peraturan yang dibuat oleh
manusia yang serba kurang dan terbatas, bukan peraturan yang dibuat untuk
kemaslahatan segelintir orang saja.
Bagaimana
Islam memberikan solusi atas permasalahan banjir ini? Pertama, hendaknya kita
ingat bahwa Allah adalah pencipta dan pengatur alam semesta ini berhak untuk
membuat dan menetapkan musibah (banjir) ini. Jika Allah telah memberikan
musibah ini, hal pertama yang harus kita lakukan adalah muhasabah. Kita harus
menyadari bahwa bencana ini merupakan bencana nasional, maka sebaiknya kita
muhasabah, apa yang salah dengan negeri Indonesia ini dan kita segera melakukan
taubatan nasuha. Di dalam Al-Qur'an, surat Al-A'raf ayat 96 disebutkan,
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah
Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya."
Kedua,
pola hidup bersih dan sehat harusnya
menjadi kebiasaan semua masyarakat di negeri ini. Memelihara lingkungan
dengan tidak membuang sampah sembarangan, memelihara saluran air bersih,
memperhatikan keseimbangan alam (antara bangunan dan resapan air harus
seimbang), membersihkan badan setiap waktu, merasa kurang nyaman jika ada hal
yang merusak lingkungan dan saling memberikan nasihat/kontrol lingkungan.
Ketiga,
yakni dengan membuang jauh-jauh pandangan dan pola pikir kapitalis sekuler.
Mulai berfikir untuk orang lain. Tinggalkan pola pikir individualis. Tinggalkan
pola pikir bahwa semua hal harus ada keuntungan yang didapatkan tanpa
memperhatikan dampaknya buat orang lain. Tinggalkan pola pikir instan, yang
bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Tinggalkan faham kebebasan yang
hanya mementingkan diri sendiri. Tinggalkan pola pikir memperkaya diri sendiri
tanpa memperhatikan hak-hak orang lain.
Maka
sungguh hanya Islam satu-satunya solusi terhadap permasalahan ummat, karena
Islam punya ciri khas di dalam memandang kehidupan. Seseorang yang didalam
dirinya sudah ada pola pikir dan pola sikap (mengamalkan Islam di dalam
dirinya), maka dia akan merasa tidak nyaman jika saudaranya belum seperti dia.
Maka jika Islam diemban oleh suatu negara, maka negara tersebut tidak akan rela
jika rakyatnya hidup menderita, kekurangan bahkan tidak bisa memenuhi kebutuhan
hidupnya. Negara akan turun tangan membantu dan meninggikan derajat rakyatnya.
Bukan hanya masalah banjir, akan tetapi semua permasalahan yang dihadapi oleh
negeri ini.
Wallahu'alam
bi ash shawab.

No comments:
Post a Comment