By : Nurbaeti
"Wahai pamanku, demi Allah, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan ditangan kiriku, agar aku meninggalkan agama ini. Hingga Allah memenangkannya atau aku ikut binasa karenanya, maka aku tak akan meninggalkannya."
"Pergilah wahai anak saudaraku dan katakanlah apapun yang engkau sukai. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan dirimu kepada siapapun."
Takjub rasanya, tiap membaca percakapan antar Rasulullah dan Abu thalib ini. Betapa sang paman sangat mencintai rasulullah. Ia menjadi pelindung rasulullah yang siap dengan segala resikonya.
Permusuhan kaum Quraisy kepada Rasulullah telah membuatnya ekstra keras menjaga keselamatan Rasulullah. Ia sering terjaga di tengah malam demi memastikan tak ada orang yang menembus perlindungan nya pada anak saudaranya. Bahkan ia pernah berdiri ditengah Bani Hasyim, Bani Abdul Mutholib dan Abdi Manaf untuk meminta kesediaan mereka melindungi anak saudara mereka. Dan permintaan ini disanggupi mereka atas dasar menjaga kekerabatan kecuali Abu Lahab yang memilih memisahkan diri dan bergabung dengan orang orang Quraisy yang lain.
Beliau pun ikut dalam penderitaan yang diakibatkan pemboikotan terhadap Rasulullah dan pengikutnya. Kesepakatan yang berisi larangan untuk menikah, berjual beli, berteman, berkumpul, memasuki rumah, berbicara dengan mereka, kecuali jika mereka suka rela menyerahkan Rasulullah untuk dibunuh.
Ditengah pemboikotan yang telah membuat penderitaan panjang, Abu Thalib selalu disibukkan dengan kekhawatiran akan keselamatan Rasulullah. Ia sering meminta Rasulullah tidur di ranjangnya, agar ia tahu jika ada orang yang sembunyi-sembunyi hendak menikam Rasulullah. Dia benar benar ikut menjaga Islam dari serangan musuh musuhnya.
Sayangnya, akhir hidupnya membuat kita tersentak. Tidak seperti kisah kisah sahabat yang akhir hidupnya indah karena keyakinan yang teguh. Ia lebih memilih berada dalam keyakinan lama dan menolak hidayah yang datang. Kecintaannya pada Rasulullah tak mampu menyelamatkannya dari siksa.
Rasulullah bersabda,"Dia berada di neraka yang dangkal. Kalau tidak karena aku, tentu dia berada di tingkatan neraka paling bawah."
Betapa mahal sebuah hidayah. Bahkan orang yang hidup di masa Rasulullah pun belum tentu mampu menjemputnya. Betapa merugi orang orang yang didatangi hidayah namun ia enggan dan menepisnya. Alih-alih menjemput hidayah, ia justru menolak hidayah yang datang bertandang.
Betapa mahal harga sebuah keyakinan. Bahkan Rasulullah pun tak bisa meyakinkan sang paman. Sehebat apapun seseorang berdakwah, ia tak bisa menjadi jalan petunjuk tanpa izin Allah. Jangan sedih ketika orang orang yang kita sayang tak kunjung tertunjuki. Kita hanya bertugas menyampaikan. Biar Allah yang menyelesaikan. Allahlah yang menguasai segala isi hati. Amat mudah bagiNya untuk membolak balik hati.
Bersyukurlah orang yang mampu menangkap hidayah. Allah mudahkan hatinya menerima kebenaran. Hati yang bersih melapangkan jalan bagi hidayah masuk. Sementara Hati yang kotor menyumpal jalan hidayah datang.
Kadang hidayah tertolak oleh hati karena kesombongan. Merasa diri lebih hebat dari sang penyerbu kebenaran. Sekolahnya yang lebih tinggi, status sosial, kekayaan dan jabatan bukan jaminan hati mudah menunduk pada hidayah.
Jangan larut dalam rasa sedih ketika istri ulama justru menepis hidayah berhijab. Orang yang kita anggap sebagai permata umat justru membuat bingung umat. Rujukan kita Al quran dan As-Sunnah. Bukan kata kyai atau kata istri kyai. Tuhan kita Allah, bukan manusia. Kalau ada perbedaan dalam pendapat tentang sebuah Hukum Syara, kembalikan semuanya pada Allah dan Rasulnya dengan memahami hidayah dalam Alquran dan As-Sunnah. Allahu'alam

No comments:
Post a Comment