By : Eka Trisnawati
berubah menjadi tinta yang membius
Menggoreskan kesaksian demi fulus
Menghizab darah rakyat jelatah yang tak berkelas
Saat itu mmulut-mulut singa kampus pun bungkam
Beku, Seribu bahasa ia terdiam
Suaranya tak lagi mencekam
Disumbat dengan undangan makan malam
Zaman telah mengikis Idealisme mereka
Dikandang singa itu semut-semut menjadi Raja
Masih kah akan terbuai?
Saat semua telah nampak mengelabui
Meski pada kursi miliaran mereka bersembunyi
Mata batin telah melihat dengan jeli
Bangkit dan angkat penamu
Penah peradaban yang akan mengubah dunia tanpa tipu-menipu
Letakkan gedgetmu ambillah Qur’anmu
Letakkan tongsismu ambillah bukumu
Simpanlah rokokmu ambillah cangkulmu
Tinggalkan kesenangan kejarlah keabadianmu
Tak ingatlkah Ali Bin Abi Thalib, Umar Ibnu Khathab
Shalahuddin Al Ayyubi, Abu Ubaidah Bin jarrah, Tariq bin Ziyad
Al Imam Asy Syafi’i?
Perjuangan dan dakwahnya menyeruak ke bumi
Bagaiakan kobaran api
Menghembus sampai ke ruas terdalam
Begitulah semangatnya menggema dan menghujam
Mari merenung sejenak
Lalu bangkit dan meneladani mereka
Tak ada pilihan lain kecuali berbenah
Bangkit dari melawan kebodohan
bangkit melawan kebobrokan dan pembodohan
Bangkit, melawan arus teknologi yang melenakan

No comments:
Post a Comment