Oleh : Dede Arnisah
(Aktivis Dakwah Lubuk Pakam)
Naluri keibuan semakin kritis dimakan sistem kapitalis. Bagaimana mungkin jiwa seorang ibu yang memiliki kasih sayang lebih didalam dirinya justru lari dari fitrahnya? Hal ini mungkin saja terjadi, mengingat tingginya kasus-kasus yang berhubungan langsung dengan hilangnya naluri keibuan di zaman ini.
KOMPAS.com - Kasus kematian NP, bocah perempuan berusia 5 tahun yang menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan di Sukabumi, Jawa Barat, oleh ibu dan dua kakak angkatnya menjadi perhatian semua pihak.
Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait mengatakan, skandal inses, pemerkosaan, dan pembunuhan bocah lima tahun oleh ibu dan kakak angkat di Sukabumi, merupakan kejadian luar biasa.
Sungguh luar biasa. Suatu kejadian yang skenarionya diperankan langsung oleh ibu dan dua kakak angkatnya. Sudah diperkosa malah lanjut melayangkan nyawa. Dimana nalurinya sebagai ibu? Setega itukah seorang ibu melakukan aksi biadabnya? Dimana akal cerdas dan hati nuraninya?
Merdeka.com - Untuk melengkapi berkas perkara, Dewi Regina Ano menjalani rekonstruksi ketika menghabisi kedua anak kembarnya Angga Masus dan Anggi Masus, Jumat (11/10). Dewi memperagakan sebanyak 25 adegan dalam rekonstruksi yang digelar oleh penyidik Polres Kupang Kota.
Lagi-lagi kasus ini diperankan oleh seorang ibu. Seorang ibu yang mengandung hingga melahirkan anak kembarnya seketika mampu melenyapkan keduanya. Sirnanya naluri keibuan dibalik kebodohan. Ketika amarah dikuasai oleh nafsu, hilanglah perangai seorang ibu.
JAKARTA–Seorang ibu NP (21) menggelonggong anaknya ZNL (2,5) dengan air galon hingga tewas. Nh mengaku menyiksa anaknya lantaran stres diancam akan diceraikan oleh sang suami.
“Istrinya stress diancam diceraikan apabila anaknya ini dalam kondisi kurus tidak bisa gemuk,” kata Kanit Reskrim Polsek Kebon Jeruk AKP Irwandhy Idrus kepada wartawan di kantornya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jumat (25/10/2019).
Aksi kekonyolan seorang ibu yang membuat anaknya seperti sapi gelonggongan. Hanya ingin membuat anaknya menjadi gemuk ia rela melakukan aksi gelonggongan anak karena stres memikirkan ancaman akan diceraikan oleh suaminya. Sungguh ironis kedangkalan berfikirnya. Masih banyak lagi kasus-kasus yang sama yang menunjukkan tergerusnya naluri keibuan di zaman Kapitalisme ini. Ada beberapa faktor yang memungkinkan lenyapnya naluri keibuan pada saat ini.
Yang pertama faktor internal, yaitu kurangnya iman, minimnya pengetahuan serta adanya jiwa yang terguncang. Berakibat dari paham Kapitalisme yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Alhasil keimanan didalam jiwa setiap orang tidak ada yang menjamin. Kurangnya iman membuat seorang ibu tidak mempercayai, meyakini bahwa apa yang kita miliki berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Sama halnya dengan anak. Ketika kita menyadari dan mengetahui bahwa anak adalah titipan Allah, maka kita harus merawat dan menjaga amanah yang dititipkan oleh Allah. Bukan menyia-nyiakannya seperti saat ini.
Yang kedua adalah faktor eksternal, yaitu krisis ekonomi, hubungan keluarga yang kurang harmonis, tingginya gaya hidup, serta hidup bergantung pada materi. Hal ini membuat para ibu hanya memikirkan eksistensinya sehingga yang lain terabaikan. Apabila ada sesuatu yang diinginkan belum tercapai, maka anak-anak pun menjadi sasaran. Tanpa berpikir panjang, anak-anak menjadi tempat pelampiasan. Lagi-lagi nafsu mengubur naluri keibuan.
Didalam sistem islam, negara memiliki peran dalam meri'ayah ummat. Negara berwewenang untuk mengayomi, memberikan arahan serta bimbingan kepada setiap individunya. Sehingga dapat menjamin terbentuknya syakhshiyah islamiyah disetiap jiwa manusia. Sehingga antara pemahaman, pemikiran, serta tingkah lakunya berjalan selaras yang menghasilkan kepribadian islam yang dapat menjamin terjaganya naluri keibuan. Dengan cara inilah islam dapat menyelesaikannya. Dan hanya dengan islamlah masalah ini benar-benar selesai. Wallahu A`lam Bishowab.

No comments:
Post a Comment