By : Suryani
Allah SWT telah menetapkan tanggal 12 Rabiul Awal untuk umat manusia khususnya umat Islam sebagai hari yang menghimpun kegembiraan, kedukaan, kemuliaan dan sekaligus untaian harapan.
Tanggal 12 Robiul awal menghimpun kegembiraan dengan kelahiran Nabi Muhammad Saw. tepatnya dihari senin pagi 12 Robiul awal pada tahun Gajah di Mekah. Kelahiran Beliau memiliki makna yang sangat agung karena membawa petunjuk dari Allah SWT sekaligus memberi contoh dan teladan bagaimana menjalani dan menerapkan petunjuk tersebut.
Tanggal 12 Robiul Awal juga menghimpun kemuliaan karena tanggal itu menjadi titik tolak risalah Nabi Saw. terealisasi dalam kehidupan nyata, dan menjadi titik tolak penerapan hukum syariat yang Beliau bawa.
Nabi Saw. memasuki Madinah pada hari Jumat tanggal 12 Robiul Awal tahun 1 Hijriyah dengan ditandai pendirian Daulah Islamiyah secara sempurna dan awal penerapan syariah Islam mengatur kehidupan. Sejak saat itu selain posisi sebagai Nabi dan Rosul dengan tugas tabligh / menyampaikan wahyu, Beliau juga menjadi penguasa ( al - Hakim ) yang di angkat oleh masyarakat Madinah. Beliau memutuskan perkara di tengah masyarakat, menerapkan hukum hukum Islam serta memimpin segala urusan negara dan masyarakat.
Hal itu terus berlangsung selama 10 tahun hingga Allah SWT mewafatkan Nabi Saw. pada hari Senin pagi tanggal 12 Robiul awal tahun 11 Hijriyah. Sepeninggal Nabi Saw. lantas bagaimana kaum Muslimin menjalani hidup dan mengatur kehidupan? Siapa yang akan memimpin kaum Muslim untuk berpegang dan menerapkan kitabullah dan Sunnah Nabi - Nya? Siapa yang akan mengurusi dan memelihara urusan masyarakat ? Siapa yang akan menerapkan syariah Islam sebagaimana yang di lakukan oleh Nabi Saw.? Seolah mempersiapkan jawaban atas hal itu, Rasulullah Saw. pernah bersabda
" Dulu Bani Israel di atur segala urusannya oleh para Nabi, setiap kali seorang Nabi wafat, dia di gantikan oleh Nabi lainnya. Sungguh tidak ada lagi Nabi sesudahku. Yang akan ada adalah para khalifah dan jumlah mereka banyak ( HR al- Bukhori dan Muslim ).
Secara tersirat Nabi Saw. berpesan sepeninggal Beliau kaum Muslim harus membaiat khalifah agar dia mengurusi urusan umat, tentu termasuk memimpin umat berpegang pada Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya dengan menerapkan serta menjalankan syariah Islam secara kaffah di tengah tengah mereka. Para Sahabat sangat paham atas hal itu, makanya para sahabat seluruhnya telah bersepakat, bahwa mengangkat Imam ( khalifah ) setelah zaman kenabian adalah wajib, bahkan mereka menjadikan kewajiban ini sebagai kewajiban yang paling penting. Alasannya mereka lebih menyibukan diri dengan kewajiban tersebut daripada kewajiban mengurus jenazah Rasulullah.
Begitulah yang di contohkan oleh para Sahabat ra. Ketika khalifah Abu Bakar ash Shidiq wafat, Umar bin al- Khaththab ra. di baiat menjadi khalifah, ketika Umar bin al Khaththab wafat, Utsman bin Affan ra. di baiat menjadi khalifah, ketika Utsman bin Affan wafat, Ali bin Abi Thalib ra. di baiat menjadi khalifah. Dan ulamapun mensifati ke empat khalifah tersebut sebagai Khulafaur Rasyidin dan sistem pemerintahannya adalah khilafah ' ala minhaj an - Nubuwwah, sekaligus hal itu menjadi Sunnah mereka sebagai teladan bagi umat melengkapi teladan dari Nabi Saw.
Umat Islam sepeninggal mereka terus melanjutkan dan menjaga Sunnah Nabi Saw. dan Sunnah Khulafaur Rasyidin. Mereka terus memilih dan mengangkat khalifah setiap kali khalifah sebelumnya wafat. Mereka terus mempertahankan eksistensi kekhilafahan di tengah tengah umat Islam. Setelah Khulafaur Rasyidin di lanjutkan oleh Khilafah Bani Umayah, lalu oleh Khilafah Bani Abassiyah, kemudian oleh Khilafah Utsmaniyah hingga berakhir pada 1924 M. Sejak itu hampir seabad keberadaan khalifah dan Khilafah terputus dan hilang. Padahal keberadaannya akan membebaskan kita dari kematian jahiliyah sebab Rasul Saw. bersabda ( artinya ), " Siapa yang mati, sementara di atas pundaknya tidak ada baiat, maka matinya seperti mati jahiliyah." ( HR Muslim, al -Baihaqi dan ath - Thabarani ).
Alhasil, momen peringatan Maulid Nabi Saw. sekarang ini, untuk mewujudkan kecintaan kita kepada Nabi Saw. secara nyata dengan melanjutkan risalah Nabi Saw. sekaligus melestarikan contoh dan teladan Nabi Saw., Khulafaur Rasyidin serta mewujudkan kembali Sunnah Nabi Saw. dan Khulafaur Rasyidin , yaitu Khilafah Rasyidah ' ala minhaj an - Nubuwwah. Dengan upaya mewujudkan hal itu, semoga kita bersama kekasih kita Kanjeng Nabi Muhamad Saw kelak di akhirat. WalLahu 'alam bi ash-shawab
Penulis

No comments:
Post a Comment