Oleh : Iis Nur
(Pegiat dakwah)
Miris, seorang mahasiswa S2 dengan pergaulan yang bonafit cenderung sukses tapi malah memilih akhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Hal ini dialami oleh Mukhtar Amin asal Sukoharjo, Jateng. Dilansir dari halaman berita tribunnews.com (6/9/2019) ia mengakhiri hidupnya tanggal 3/9/2019 dengan cara gantung diri dikamar indekostnya di Kelurahan Sekeloa, Kecamatan Coblong kota Bandung. Jasadnya pertama kali ditemukan oleh temannya yang curiga melihat tali tambang biru terlilit di kusen pintu. Kapolsek Coblong AKP Auliya Djabar mengkonfirmasi kejadian tersebut dan menemukan bukti berupa pesan terakhir dan obat-obatan untuk pasien penderita depresi.
Mahasiswa yang memiliki IPK hampir sempurna, secara sepintas dari penilaian orang awam pada umumnya akan bertanya, bagaimana mungkin bisa berpikir untuk mengakhiri hidup sedangkan kesuksesannya hampir dalam genggaman? Rasa putus asa yang dikaitkan juga dengan ganguan kejiwaan seperti depresi, seseorang acapkali akan bersikap pesimis, merasa tidak ada gunanya lagi hidup, dan tidak mampu untuk keluar dari lingkaran permasalahan yang dialaminya.
Pada sistem Kapitalisme Liberalisme saat ini yang memisahkan agama dengan kehidupan pada hakikatnya hanya menambah jauh jarak diri dengan Sang Pencipta, sehingga rezim Kapitalisme ini telah melahirkan generasi yang berpikiran pendek, kenapa disebut berpikiran pendek? Karena mereka tanpa mempunyai akidah agama yang cukup tidak sanggup menghadapi tekanan dari luar. Hal ini terbukti dari kasus bunuh diri Mukhtar diatas, sepintar atau sejenius apapun manusia tanpa iman dan tanpa mengenal Robb-nya serta tidak mengetahui untuk apa dia hidup hanya kekosongan dan kebimbangan yang akan dirasakan. Ditambah di era Kapitalisme Sekulerisme saat semakin terkikisnya taqarrub ilallah dalam setiap individu. Berdasarkan rata-rata statistik dalam seharinya setidaknya ada dua hingga tiga orang yang melakukan bunuh diri di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat setidaknya ada 812 kasus bunuh diri di seluruh wilayah Indonesia pada tahun 2015. Angka tersebut adalah yang tercatat di Kepolisian. Angka riil di lapangan bisa jadi lebih tinggi. Benny Prawira selaku pendiri kelompok peduli permasalahan bunuh diri "Into The Light" mengungkapkan kepada KumparanSAINS tanggal 19/3/2017, masalah fenomena bunuh diri bukanlah sesuatu yang mudah di ungkap karena lebih banyak kepada sudut gelap aib keluarga, tak boleh kelihatan, luput dari jangkauan survei. Kematian akibat bunuh diri selalu merupakan angka gunung es. Sehingga masalah bunuh diri tidak dapat di ungkap sepenuhnya yang terlihat hanya puncaknya saja, padahal ada yang tersembunyi dibawah puncak gunung itu. Di sistem Kapitalisme saat ini tidak banyak yang bisa di lakukan oleh pemerintah seakan lalai dalam mengulangi fenomena bunuh diri tersebut. Pemerintah cukup membuka pelayanan konseling khusus terkait berbagai masalah kejiwaan tanpa ada solusi terhadap yang menjadi pokok masalah.
Dalam Islam bunuh diri dengan alasan apapun hukumnya haram. Orang yang melakukan perbuatan ini terancam akan mendapat dosa besar, sebab hidup dan matinya seseorang itu berada ditangan Allah SWT dan merupakan sebuah ketetapan. Dalam banyak firman Allah SWT melarang umatnya untuk melakukan pembunuhan ataupun bunuh diri, dan ancamannya adalah kekal di neraka jahanam. Naudzubillah.
Sesulit apapun keadaan yang dihadapi atau dirasakan semua itu jika disadari berasal dari Kehendak Yang Maha Kuasa akan menambah kualitas keimanan seseorang dan menjadikan kesempatan ini untuk lebih dekat kepada Al-Mudabir.
Islam dengan jelas menegaskan bahwa bunuh diri merupakan dosa besar. Dalam firman-Nya (TQS an-Nisa 4:29) "Janganlah kalian bunuh diri. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada kalian."_
Rasulullah saw. juga bersabda: "Siapa saja yang bunuh diri dengan sesuatu, niscaya Allah menyiksa dia dengan sesuatu itu di neraka jahanam" (HR al-Bukhari, Muslim, Nasa'i dan Turmudzi)
Manusia hanya salah satu dari makhluk ciptaan Allah, tugasnya mengabdi pada Allah. Hendaknya sebagai makhluk, manusia menyadari bahwa segala sesuatu sudah ditentukan oleh Allah di Lauh Mahfuz, tetapi Allah Maha Bijaksana dan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Tinta emas mencatat Islam melahirkan generasi-generasi yang cemerlang. Hal ini dikarenakan Rasulullah saw. menanamkan 2 hal dalam pendidikan yaitu : Pertama, menumbuhkan keyakinan bahwa manusia diberi peran lebih oleh Allah SWT yaitu untuk beribadah dan untuk menyebarkan rahmat ke seluruh alam. Kedua, menanamkan bahwa umat Islam harus menjadi manusia-manusia terbaik ditengah umat manusia. Maka Rasulullah Saw. mengharuskan mereka menjadi manusia pembelajar juga membuka dunia belajar seluas-luasnya.
Dengan menanamkan dua hal tersebut generasi Islam akan mampu berdakwah untuk menyebarkan ideologi Islam serta memiliki energi spiritual lebih agar menjadi generasi yang kuat, cerdas dan bertakwa. Sehingga mampu menyelesaikan permasalahan kehidupan karena dengan menjadikan Al-Qur'an dan hadist sebagai way of life serta meyakini bahwa Allah Swt tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan umat-Nya.
Dengan menerapkan Islam dan syariatnya secara kaffah, generasi muda tidak akan mudah untuk bunuh diri hanya disebabkan putus asa atau stres menghadapi kehidupan seperti kasus Mukhtar Amin di atas. Sebab yang menjadi dasar dalam masalah ini tiada lain karena penerapan sistem Kapitalisme yang memisahkan agama dari aspek kehidupan. Selama sistem itu terus diadopsi dan diterapkan maka masalah akan terus terjadi dan silih berganti tanpa ada solusi. Karena hanya dengan kembali pada Islam dan syariatnya secara kaffah segera terwujud dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah.
Pada masa-masa keemasan peradaban Islam (tentu ratusan tahun silam sebelum adanya gagasan liberalisasi pemikiran Islam yang muncul belakangan ini) melahirkan banyak ilmuwan Muslim yang telah menghasilkan banyak karya. Seperti Ibn Sina seorang pakar kedokteran, Ibn Rusyd seorang dokter sekaligus pakar fikih, az-Zarkalli seorang ahli astronomi yang pertama kali mengenalkan astrolobe, al-Khawarizmi ahli matematika penemu angka nol, Jabir Ibn Hayyan seorang ahli kimia, al-Idrisi pakar geografi, Nashiruddin ath-Thusi master ilmu astronomi dan perbintangan, Ibnu al-Hayyan master ilmu alam dan ilmu pasti. Pemikiran-pemikiran dan kecerdasan mereka bahkan sampai saat ini karya-karya mereka masih dijadikan rekomendasi.
Wallahu a'lam bi ash shawab

No comments:
Post a Comment