Oleh: Ayuratna Sari
Akademi Menulis Kreatif dan Anggota Back to Muslim Identity
Indonesia yang aman dan damai tentu itu adalah impian seluruh rakyat. Kerusuhan dan karut marut pasca muncul akibat indikasi kecurangan yang begitu kuat, dan juga muncul dari keputus asaan rakyat terhadap harapan terwujudnya perubahan melalui pemilu yang gagal.
Ribuan masyarakat di berbagai kota yakni di Banyuwangi, Sidoarjo, Kediri, Jember, Bondowoso melakukan jalan sehat secara serentak dengan tema Indonesia damai dan deklarasi tolak kerusuhan. Di Jember, jalan sehat ini diikuti oleh masyarakat umum, sejumlah tokoh agama, tokoh masyarakat Jember dan juga anggota TNI dan Polri. Jalan sehat itu sekaligus untuk menyambut Hari Bhayangkara ke-73, yang diadakan oleh polres Jember. Jajaran TNI dan POlRI megungkapkan mengajak kepada seluruh masyarakat Jember untuk turut menjaga perdamaian dan menolak segala bentuk kerusuhan yang ada di Indonesia. (Dilansir oleh media surya.com)
Sejatinya perlawanan rakyat muncul karena ketiadaannya keadilan sehingga kezaliman terus menguat. Sebagaimana kita ketahui pada aksi 22 Mei yang lalu adalah bentuk kemarahan rakyat atas kecurangan hasil pilpres hingga terus berlanjut pada aksi-aksi berikutnya. Sehingga banyak dari beberapa kota yang menyelenggarakan aksi damai untuk meredam kemarahan masyarakat dan tidak menambah kericuhan diberbagai wilayah.
Jalan santai dan deklarasi-deklarasi damai yang di selenggarakan di berbagai kota tidak akan mampu menciptakan kedamaian dan menekan karut marut hingga ke akarnya. Karena solusi yang diberikan hanya mampu meredam sesaat saja, atau bahkan tidak mampu menyelesaikan permasalahan masyarakat atas ketidak adilan. Mengapa? Karena sistem yang diberlakukan adalah sistem demokrasi kapitalis yang pragmatis sehingga tidak mampu menyelesaikan masalah hingga ke akarnya, bahkan memunculkan masalah-masalah baru. Di samping itu, siapapun pemimpinnya yang mengadopsi sistem demokrasi kapitalis maka ia tidak akan memperdulikan urusan rakyat, hanya kepentingannyalah yang menjadi tujuannya.
Menciptakan Indonesia yang aman dan damai maka dibutuhkan seorang pemimpin yang mampu meriayah suunil ummah (mengurusi urusan umat). Memilih pemimpin dalam Islam adalah hal yang sangat penting. Karena di tangan pemimpinlah nasib umat akan ditentukan. Akankah menjadi lebih sejahtera dan taat pada Allah atau sebaliknya. Islam hadir bukan hanya sebagai agama ritual saja tapi juga ada aturan berpolitik yang mencakup di dalamnya aturan memilih seorang pemimpin.
Memilih pemimpin haruslah didasarkan kepada ajaran Islam, sebab Islam telah mewajibkan kita untuk terikat kepada syari'at Islam dalam segenap aspek kehidupan. Karena ini adalah konsekuensi keimanan kita kepada Allah, sebagai seorang hamba. Dimana ketaatan kita kepada syari'at Allah yang sesungguhnya akan menentukan kebahagiaan kita di dunia dan akhirat.
Rasullullah mengingatkan kita perihal memilih pemimpin. Hendaklah seorang pemimpin takut kepada Allah dengan menerapkan syariat-Nya dalam naungan Khilafah yang senantiasa menegakkan kebenaran. Ketakwaan ini muncul ketika menyandarkan segalanya kepada Alquran dan Sunnah.
Pemimpin yang amanah dan kompeten meriayah umat, hanya dapat dilahirkan dalam masyarakat yang menerapkan sistem Islam di dalam kehidupan secara kaffah (sempurna) menjalankan syariat-syariat Islam. Oleh karena itu hentikan kezaliman dan ketidak adilan terhadap rakyat, maka Indonesia akan menjadi negeri yang damai dan tenteram di bawah naungan Islam.
Wallahu a'lam bish shawab.
