Penulis : Nur Fitriyah Asri

Ukhuwah Islamiyah yang merupakan kekuatan iman dan spiritual yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa yang menumbuhkan perasaan kasih sayang, persaudaraan, kemuliaan, dan rasa saling percaya terhadap saudara seakidah telah lenyap dan punah bersamaan dengan runtuhnya Khilafah pada tanggal 3 Maret 1924 (28 Rajab 1342), secara resmi dibubarkan oleh Kemal at Taturk, seorang keturunan Yahudi yang merupakan agen Inggris.

Sejak saat itu umat Islam tidak lagi memiliki institusi politik yang menyatukan umat Islam di seluruh dunia. Umat Islam tercerai berai menjadi lebih dari 50 negara bangsa (nation-state) yang membuat umat Islam lemah.Bagaikan buih d i lautan, meski terlihat banyak, namun tidak berarti.

Jika diibaratkan, umat Islam saat ini bagaikan makanan yang diperebutkan. Karena lemah maka tidak bisa menjaga dirinya sendiri, hal ini disebabkan karena  hilangnya ukhuwah Islamiyah sehingga tidak ada persatuan. Padahal persatuan inilah yang menghantarkan umat Islam menjadi kuat dan jaya.

Musuh-musuh Islam paham akan hal itu, oleh sebab itu berusaha keras untuk menghalangi persatuan dengan menghadang tegaknya kembali Khilafah sebagai institusi pemersatu umat Islam di seluruh dunia.

Strategi Barat dalam upayanya menghalangi penegakan Khilafah dengan beberapa cara di antaranya: 

1. Pendekatan lembut (soft approach) dengan menyebarkan ajaran kapitalis, demokrasi, HAM, sekulerisme, pluralisme, liberalisme, nasionalisme dan lainnya di negeri-negeri Islam. Ini dimaksudkan untuk menjauhkan dan memalingkan umat Islam dari ajarannya yang shahih, umat Islam dibuat bodoh hingga tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, tidak bisa membedakan mana yang halal dan haram.

2. Pendekatan keras (hard approach) dengan politik devide at impera, mengadu domba dan memecah-belah umat Islam. Mula-mula dengan mengelompokkan umat Islam dan diberi label Islam moderat, Islam tradisional, Islam fundamentalis  (radikalis), supaya mudah diadu domba. Kelompok liberal, moderat pro Barat akan diberikan dukungan baik berupa opini maupun bantuan dana dan menjadi pihak yang dimenangkan, sedangkan kelompok pro syariah dan khilafah akan diberangus. Strategi devide et impera juga terjadi antar negeri muslim melalui isu kedaerahan (Islam Nusantara, Islam Timur Tengah, Islam Eropa dan lain-lain), semua itu bertujuan untuk melemahkan kaum muslim.

3. Pendekatan hukum (law/legal approach) dengan menciptakan UU anti diskriminasi, UU keormasan, UU anti terorisme, UU ITE. Sesungguhnya semua itu adalah alat penguasa, untuk kepentingannya dalam menghadapi lawan politik yang berseberangan dengan dirinya atau kelompoknya. (mediaumat.com/www.globalmuslim.web.id)

Dengan begitu umat Islam dan negeri-negeri muslim tidak bisa bersatu dan selalu terjadi konflik. Akibatnya Umat Islam selalu dijajah, dijarah, dibantai, didzalimi tanpa ada perlawanan yang berarti, karena lemah tidak berdaya, lihat yang terjadi di Palestina, Afghanistan, Irak, Mesir, Cina (Islam Uyghur), Myanmar dan lain-lain. Ini semua karena hilangnya ukhuwah Islamiyah.

Melihat kengerian ini, apakah hanya doa yang bisa umat Islam lakukan untuk saudaranya yang tertindas di belahan dunia? Ataukah hanya sebatas dukungan berupa ucapan yang terlontar? Kini umat Islam lebih suka berada di zona aman ketimbang  melakukan pembelaan terhadap agama dan saudaranya seakidah.

Sejatinya hanya dengan Khilafah semua penjajahan, penjarahan di negeri-negeri muslim dan penganiayaan terhadap kaum muslimin bisa dihentikan.

Masihkah tidak percaya akan janji Allah yang akan memenangkan umat Islam (QS An Nuur 55) dan Bisyarah Rasulullah bahwa Khilafah 'ala minhajjin nubuwwah akan tegak kembali? (HR Muslim).

Jika demikian sungguh aneh, karena orang-orang kafir saja meyakini dan memprediksi bahwa Khilafah akan tegak tahun 2020.

Tegakkan Khilafah

Bagaimana Rasulullah  mencontohkan cara membangun pondasi negara Khilafah?

Pada hari Jum'at, 12 Rabiul Awwal 1H/27 September 622 M menjadi hari bersejarah bagi umat Islam, dimana Rasulullah tiba di Madinah dalam rangka hijrah. Ketika itu Madinah dihuni masyarakat yang beragam, beda suku, etnis dan agama. Karena perbedaan itulah mereka kerap kali bertikai dan berperang. Kedatangan Rasulullah SAW di Madinah diharapkan bisa menjadi penengah dan pemersatu diantara mereka.

Ada tiga hal dasar yang dilakukan Rasulullah pada fase Madinah, yaitu:

Pertama, membangun Masjid Nabi (Nabawi). Masjid ini mempunyai bangunan yang sangat sederhana, atapnya dari daun pohon korma, pilarnya dari batang pohon korma, lantainya kerikil dan berpasir, dan bangunannya dari batu bata.

Akan tetapi bangunan tersebut menjadi penanda kebangkitan peradaban Islam. Karena Rasulullah memfungsikan masjid ini untuk semua kegiatan, tidak hanya untuk shalat saja, tapi untuk mengajarkan Islam, baca-tulis, hikmah, menyusun strategi perang atau politik, basis administrasi dan manajemen semua urusan rakyat, wadah musyawarah dan menjadi rumah bagi sejumlah orang miskin. Ringkasnya, Rasulullah menggunakan masjid sebagai tempat pertemuan dan pembinaan umat.

Kedua,  membangun persaudaraan antar sesama muslim (ukhuwah Islamiyah). Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin (umat Islam Makah yang hijrah ke Madinah) dengan kaum Anshar (umat Islam yang asli penduduk Madinah). Dalam hal ini Rasulullah selalu menegaskan bahwa sesama Muslim itu bersaudara.
Allah berfirman:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat (TQS Al Hujurat 10).

Strategi ini sekaligus menghapus sentimen jahiliyah sehingga yang ada hanya sentimen Islam. Perbedaan nasab (keturunan), warna kulit dan tanah kelahiran pun hilang. Sehingga orang melangkah semata-mata karena muru'ah (nama baik) dan ketakwaannya.

Rasulullah SAW menjadikan ukhuwah ini sebagai ikatan yang benar-benar kuat, yang menghadirkan kasih sayang yang tulus, saling berbagi, perasaan mendahulukan orang lain. Sehingga mereka tidak mudah bertikai dan berperang, sebagaimana watak jahiliyah.Tentunya dengan keteladanan Rasulullah.

Ketiga, Rasulullah membangun persaudaraan dengan umat lain, yang diikat dengan Piagam Madinah. Rasulullah sadar betul bahwa Madinah memiliki masyarakat yang majemuk, ada umat Islam, umat Nasrani, umat Yahudi dan lainnya.
Untuk menyatukan mereka dan menghimpun kekuatan di dalam Madinah di bawah kepemimpinan Rasulullah diikat oleh Piagam Madinah, supaya saling bahu-membahu, dan saling melindungi dari pihak manapun yang hendak menyerang mereka.

Tiga fondasi itulah dasar untuk membangun dan menegakkan kembali Khilafah. Begitu urgennya ukhuwah Islamiyah sehingga dilarang fanatik terhadap golongannya (Ashabiyah).

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ وَخَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ فَمَاتَ فَمِيتَتُهُ جَاهِلِيَّةٌ وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِى بِسَيْفِهِ يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا لاَ يُحَاشِى مُؤْمِناً لإِيمَانِهِ وَلاَ يَفِى لِذِى عَهْدٍ بِعَهْدِهِ فَلَيْسَ مِنْ أُمَّتِى وَمَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِلْعَصَبِيَّةِ أَوْ يُقَاتِلُ لِلْعَصَبِيَّةِ أَوْ يَدْعُو إِلَى الْعَصَبِيَّةِ فَقِتْلَتُهُ جَاهِلِيَّةٌ

Siapa saja yang memecah-belah jamaah dan keluar dari ketaatan, lalu mati, maka dia mati jahiliah. Siapa saja yang keluar menyerang umatku dengan pedangnya, ia memerangi orang baik dan orang jahatnya, tidak takut akibat perbuatannya menimpa orang Mukmin karena keimanannya dan tidak memenuhi perjanjiannya, dia bukan bagian dari umatku. Siapa saja yang terbunuh di bawah panji buta, dia marah karena ‘ashabiyah, atau berperang untuk ‘ashabiyah atau menyerukan ‘ashabiyah, maka dia mati jahiliah (HR Ahmad).

Sudah 95 tahun umat Islam tanpa khilafah, saatnya kita tegakkan kembali dengan merajut dan merekatkan ukhuwah Islamiyah. Khilafah pasti tegak, Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.
Wallahu 'alam bish shawab.

Penulis aktif di Ormas Islam BKMT 
(Badan Kontak Majelis Taklim Jember)
sebagai Koordinator Bidang Dakwah. Member Akademi Menulis Kreatif (AMK) 
juga penulis buku "Senja di Jalan Dakwah"
 
Top