Zizi tersenyum. Baru saja ia menyelesaikan kajian mingguan bersama Kak Syifa. Kembali ia disadarkan dan dikuatkan. Menikah memang solusi bagi orang yang jatuh cinta, namun ketika sadar cara yang ditempuh untuk mewujudkannya salah, maka mengakhirinya menjadi cara terbaik.

Awalnya memang harus dipaksa. Menghapus kontaknya. Merelakan hati yang merindu kemudian layu dengan sendirinya. Ibaratnya, cinta diluar ikatan halal bak tumbuhan liar diantara bunga-bunga di taman. Hama. Harus dimusnahkan. Hingga kelak, tanaman bunga dapat tumbuh subur dan mekar dengan indahnya.

Haahhhh... Gadis berusia 25 tahun itu menghela napas lega. Ya, gadis itu adalah Zizi, yang sedang menyelonjorkan kakinya. Tangannya menyangga di belakang tubuhnya. Langit cerah hari ini. Ia sedang duduk beralaskan rumput lapangan. Ia sedang menunggu temannya. Berjanji makan mie ayam bersama niatnya.

Tak apa bersendiri, asal dalam ketaatan. Tak apa bergelut sepi, asal terhindar dari kemaksiatan. Tak apa berteman sunyi, asal diri tak salah bertujuan.

Tring. Sebuah pesan masuk ke aplikasi whatsappnya. Nomor asing. Ia selusuri display picturenya. Ia tersenyum. Jelas ia mengenalnya. Lelaki yang sempat mendekatinya 3 tahun lalu namun tak berlanjut, sebab ia telah memutuskan untuk menapaki jalan kebenaran. Jalan dimana ia diperuntukkan menjadi pejuang atas tegaknya sebuah sistem Islam bagi seluruh dunia. InsyaaAllah.

Zizi tak membalas pesan itu. Zizi tahu, akan kemana jika berlanjut. Ini pilihannya. Ia mesti agak keras terhadap dirinya. Jika tidak, maka ia akan menjadi bak keledai. Rela jatuh ke lubang yang sama.**

 
Top