“Assalamualaikum, Zi, apa kabarnya?”

Kening Zizi mengernyit bingung. Akun FB yang tak dikenalnya mengirimkan sebuah pesan. Ia selusuri obrolan yang lalu. Matanya terbelalak. Mengingat siapa sebenarnya orang yang mengiriminya pesan. Seseorang yang dikenalnya, namun lama tak lagi bertemu.

Zizi mencoba mengembalikan fokusnya kepada layar laptop di hadapannya. Sebentar lagi Subuh akan menjelang, aktifitas akan kembali dimulai. Ia harus segera menyelesaikan tugasnya.

Pagi yang cerah. Zizi sedang memanaskan kuda besinya, bersiap berangkat kerja. Tinggal di Desa pinggiran kota membuat suasana sepi menyambutnya. Hanya terdengar suara musik dari pemutar suara milik tetangganya. Memutarkan lagu yang kadang tak dipahami oleh Zizi.

Hari dilalui Zizi seperti biasa. Membosankan memang, berada di balik layar laptop sedari pagi. Namun Zizi masih menyenanginya. Ini tanggung jawab yang harus ia tunaikan, meski bekerja hanya mubah hukumnya bagi wanita. Namun ia sebisa mungkin tak meninggalkan kewajiban utamanya. Dakwah.

Siang hari di jam makan siang, sebuah pesan kembali masuk. Kali ini ke Whatsapp-nya. Nomornya asing. Namun pernyataan identitas sang pengirim pesan membuat Zizi kembali terperangah. Ada apa gerangan lelaki ini mengiriminya pesan. Rasa tak enak hati tiba-tiba menyelinap di hatinya. Bercampur dengan bisikan-bisikan absurd dari si abstrak.

“Waalaikum salam, Bang. Alhamdulillah sehat.”

“Alhamdulillah kalau begitu. Masih kerja di tempat yang lama?” Percakapan berlanjut. Membuat sang dara seolah terlupa atas apa yang sebenarnya ia lakukan.

Hari-hari dilalui Zizi dengan perasaan yang berbeda. Komunikasi dengan sang lelaki masa lalu tiba-tiba menjadi biasa. Pagi hari dimulai dengan sarapan saling menyemangati agar menjalani hari dengan baik. Lah, emangnya selama ini hari menjadi tak baik tanpa saling menyemangati? Hah, racun cinta sedang menebarkan virus ke hati nak dara yang jelita.

“Lama.” Zizi kembali mengirim pesan ke Zain. Ya, lelaki masa lalu itu bernama Zain. Zaindra Al-Khalifi. Lelaki yang dulu menjadi kakak kelasnya di SMA. Tidak ada hubungan spesial sebenarnya antara mereka berdua. Hanya terjalin kedekatan melalui komunikasi. Bertemu pun jarang. Terlebih lagi, lulus SMA Zain memilih kuliah di luar kota dan kemudian menetap di sana setelah diterima bekerja.

“Maaf, tadi lagi ada temen datang.” Jawaban Zain atas pesan yang dikirimkan Zizi. Gadis itu sedang bermain api asmara. Tanpa sadar menawarkan kemanjaan untuk diperhatikan.

Zain mengiriminya sebuah gambar hasil tangkapan layar. Menunjukkan masa pengiriman dan jawaban pesan darinya.

“Kenapa nama adek dibuat seperti itu?” Mendapati ada yang aneh dengan nama yang dituliskan Zain di kontak WA-nya.

“Semua kontak abang dibuat seperti itu, biar gampang nyarinya.”

“Ih aneh begitu. Ga suka.” Zizi tersenyum di atas ranjangnya. Hatinya menghangat. Lama ia tak merasakan sensasi ini.

Kembali sebuah gambar hasil tangkapan layar dikirimkan padanya. Namanya telah berganti menjadi Ainul Mardhiah. Keminiman informasi membuatnya bingung.

“Siapa itu Ainul Mardhiah?”
“Cari saja di google ya, Dek!” Balasan Zain berlanjut dengan emoticon senyum.

Dengan lincah jarinya menjelajah ke mesin pencarian paling terkenal, google. Pipinya bersemu menghangat mendapati maksud dari nama Ainul Mardhiah. Ialah bidadari yang diceritakan Rasulullah untuk menyemangati para tentaranya sebelum berangkat berperang. Syuhada akan dibersamai oleh Ainul Mardhiah di surga kelak. Bidadari yang keindahan matanya tiada tara.

“Nice name. Thanks.” Balas Zizi dengan pipi bersemu dan senyum tak lekang dari bibirnya. “Aamiin, semoga, insyaaAllah.” Lanjutnya lagi.

“Itu lagu Unic. Abang suka lagunya.”

Senyum makin lebar terkembang di bibir Zizi. Jebakan cinta kembali membutakan akalnya. Terlena oleh rayuan terselubung sang jejaka. Lupa terhadap nasihat yang bahkan belum sebulan lalu ia ucapkan kepada peserta kajiannya.

“Terus kenapa nama adek dibuat itu?”

“Abang suka dengan nama itu.”

“Itu tidak menjawab pertanyaan adek.” Kembali Zizi terperosok. Bahkan ia menggali lubang untuknya sendiri. Ia terjebak oleh hati yang sempat lama tak terisi. Terpesona oleh rayuan sang pujangga.

“Ya... abang suka nama itu, abang suka lagunya, dan abang suka sama adek.” Selesai. Racun mematikan telah tertuju kepada Zinnirah Arrumiyah. Menjebaknya dalam perangkat mematikan bernama cinta. Kembali jatuh hati pada yang tak siap menangkap kejatuhannya.

Zizi tak mampu lagi membalas dengan kata-kata. Hanya emoticon senyum ia kirimkan. Hatinya berbunga. Dadanya bergejolak. Ah indahnya rasa jatuh cinta. Sayangnya Zizi lupa jatuh cinta kepada yang tak halal merupakan kesalahan. Jatuh cinta tak salah, membiarkan dirinya jatuh pada sebuah jebakan virus merah jambu jelas sebuah kesalahan. Memicu dosa.

Obrolan dari hari kehari makin berlanjut. Mulai dari kartun kesukaan sampai filosofis-filosofis klub sepak bola. Tak pernah kehabisan cerita. Bercengkrama menjadi biasa. Hingga hari ke hari, Zain mulai jarang mengiriminya pesan. Dan Zizi tipe perempuan yang gengsi untuk mengiriminya terlebih dahulu.

Hingga akhirnya Zizi memberanikan diri. Mengirimkan Zain pesan terlebih dahulu.

“Sombong yah?!”
“Siapa yang sombong?”
“Tau deh.”

Komunikasi kembali berlanjut. Namun kali ini seakan ada yang mengganjal di hatinya. Seolah tiba-tiba rongga dadanya disekat. Nafasnya sesak.

Zizi terdiam di depan meja belajarnya. Fokus pikirannya sulit dikendalikan. Deadline mangkrak. Pekerjaan pun mendesak. Perasaannya kacau. Benaknya semrawut. Apa yang harus ia lakukan?

Pesan tak lagi berbalas. Zizi memutuskan berhenti sejenak. Menimbang. Jika memang ia jatuh cinta, seharusnya ia tahu bukan langkah ini yang ia tempuh. Solusi hati yang tertambat hanyalah menikah. Namun pria 29 tahun bernama Zain itu jelas tak menunjukkan keinginan untuk menikahinya.

Zizi menelengkupkan wajahnya di atas tangannya yang dilipat. Sesak di dadanya kian menyiksa. Ia tahu apa yang harus ia lakukan, namun ia ragu. Lagipula, meminta terlebih dahulu belum menjadi solusi saat ini.

Zizi kembali menegakkan punggungnya. Memantapkan hatinya. Ini solusi yang tepat atas kegalauan yang ia hadapi saat ini.

Ia raih ponselnya. Mencari kontak dengan nama Zain. Dengan membaca bismillah, ia blokir kontak tersebut.

Tak lama, sebuah pesan masuk ke akun FB-nya. Zizi sudah menduga. Zain mengiriminya pesan. “Kenapa Fbnya ga sekalian diblokir?”

Terakhir kali, Zizi berikrar. “Maaf. Ini demi kebaikan bersama.”

Zizi berhasil melepaskan diri dari belenggu hubungan tanpa ikatan tersebut. Berhasil lepas dari jerat rasa yang tak jelas arah dan tujuannya. Zizi paham, dirinya boleh jadi mengerti. Namun kesalahan barangkali tak mungkin terlepas darinya. Menyadarkan kembali dirinya dari kealpaan dalam memanajemen rasa.

 
Top