Penulis : Ai Sumiyati
(Ibu RumahTangga dan Pembelajar Islam Kaffah)
Debat cawapres dan wapres yang ke tiga sudah berakhir, cukup memukau juga kehadirannya.saling debat saling menjatuhkan satu sama yang lainnya untuk mendapat simpati rakyat, seharusnya bagi seorang pemimpin bukan seperti itu.saling merespon, saling menasehati dengan kebaikan bukan mempemalahkan yang belum tentu berbagai debat di lontarkan dari korupsi isu terorisme sampai Hoax, termasuk isu caleg matan koruptor
Bila di perhatikan dengan jeli visi dan misi mereka tidak jelas akan di bawa kemana umat untuk berlabuh, kekusan itulah yang kini tengah di perebutkan.betapa indah dan nikmat nya kekuasan, dengan kekuasaan apapun dapat diraih kebaikan.kebaikan dapat diraih melalui kekuasaan, sebaliknya keburukan pun dapat di gapai lewat kekuasaan"persis laksana pisau bermata dua,Al-Hafiz. Ibnu Hajar mengutip pandangan ulama
"Kekuasaan itu merupakan kesenangan di dunia "di dalam meraih kedudukan, harta pelaksana keputusan dan menghasilkan segala kesenangan yang kasat mata maupun kesenangan batin, namun itu adalah penderitaan di Aherat ketika telah berpisah darinya. Akibat kematian dan pertanggung jawaban semua terkait dengannya di akhirat (Fath al-bari 13/127
Sebenarnya rakyat sudah cerdas untuk menentukan seorang pemimpin, bila kita bercermin kebelakang selama lima tahun kebelakang selama lima tahun sekali di adakan pesta demokrasi tidak ada perubahan yang berarti kecuali, setiap penggantian pemimpin rakyat hanya mendapatkan kekecewaan harapan perubahan yang lebih baik hanya isapan jempol belaka
Kekuasan bukanlah tiket gratis tanpa pertanggung jawaban,, dengan gamlang Rosululloh muhammad saw.menjelaskan hakekat kekuasaan, dalam mushad al-Bazzar (4/307)di riwayat kan Dari Auf-bin malik ra bahwa Rosulullah saw bersabda"jika kalian mau"aku akan menjelaskan kekuasaan ( imarah) apa itu? lalu aku(Auf bin- malik ra) berdiri dan berkata dengan suara nyaring sebanyak tiga kali "apa itu ya Rosulullah? beliau menjawab "awalnya adalah celaan. keduanya adalah penyesalan. ketiga nya adalah azab pada Hari kiamat,, kecuali orang yang adil, dan betapa sulitnya seseorang berlaku adil saat berkaitan dengan keluarga terdekat
Masihkah kita percaya dengan sistem demokrasi kapitalisme yang sarat dengan kebohongan dan kemunafikan " sejak awal "politik demokrasi adalah politik transaksional dalam politik transaksional kemungkinan jadi faktor utama, karena itu tidak aneh banyak orang terjun ke arena demokrasi menjadi orang munafik, setelah terpilih sebagai penguasa, misalnya. banyak di antara mereka mengeluarkan banyak kebijakan - kebijakan yang merugikan rakyat. terus menerus menaikan harga BBM dan Tarif listrik membebani rakyat dengan pajak,menjual sumber alam milik rakyat dan lain- lain padahal sebelum berkuasa khususnya pada masa kompanye /pemilu mereka berjanji akan menyejahterakan rakyat.. Padahal tidaklah seorang pemimpin rakyat dari kaum muslim lalu dia mati dalam keadaan menipu (ghasy) mereka kecuali Allah Swt mengharamkan baginya surga (Hadis-al. Buk hari dan muslim)
Metode Syari menegakan Khilafah adalah sebuah aktivitas yang harus di terapkan berdasarkan dalil syariah, kaum muslim wajib mengikuti metode Rosulullah saw dalam membangun sistem islam (daulah Islam) di madinah hal ini sesuai dengan perintah Allah Swt dalam firmannya. sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi mu ( yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah Swt dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah Swt (TQS al- azab[33]:21]maka dari itu tidak akan terwujud mengharapkan pemimpin yang adil dan amanah jika tidak mengantinya dengan sistem yang di contoh kan oleh Rosulullah yaitu sistem Khilafah islamiyah. Dengan menerapkan kembali islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah berdasarkan Al-Quran, sunah nabinya serta ijma dan kias.
Wallahu allambishohab
No comments:
Post a Comment