Penulis : Mariyatul Qibtiyah, S.Pd

Pendidikan adalah tiket ke masa depan. Hari esok dimiliki oleh orang-orang yang mempersiapkan dirinya sejak hari ini - Malcolm X. Ungkapan Malcolm X itu memang benar adanya. Pendidikan berperan sangat besar dalam memajukan suatu bangsa. Fakta yang ada telah membuktikan. Negara-negara yang saat ini disebut sebagai negara maju, dikenal sebagai negara yang sangat memperhatikan pendidikan. Wajarlah, jika pendidikan di negara-negara tersebut menempati posisi atas dalam peringkat kualitas pendidikan. Berdasarkan laporan dari Global Competitiveness Report yang diterbitkan oleh World Economic Forum, 5 negara dengan kualitas pendidikan tertinggi adalah Finlandia, disusul Swiss, Belgia, Singapore, dan Belanda. Sementara Indonesia harus puas menempati posisi ke 54. (www.diedit.com, 22/02/2019).

Pendidikan di Indonesia
Posisi Indonesia yang berada di peringkat 54 menunjukkan bahwa saat ini kualitas pendidikan  di Indonesia masih rendah. Menurut Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, Rodrigo Chaves, rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia tercermin dalam kasus buta huruf. Di Indonesia, 55 persen anak usia 15 tahun masih buta huruf secara fungsional. Di samping itu, ia juga menilai pendidikan di Indonesia  belum merata (cnnindonesia.com, 07/06/2018). Sedangkan  menurut Fiona Handayani, Direktur Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan, kemampuan literasi membaca, numerasi, dan sains anak Indonesia masih rendah (beritagar.id, 20/10/2018).

Hal lain yang harus mendapat perhatian adalah masih banyaknya kasus kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan. KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) mencatat 24 kasus kekerasan oleh anak di sekolah. Kasus tersebut dicatat sejak awal Januari hingga 13 Februari 2019. Menurut Komisioner KPAI bidang pendidikan, Retno Listyanti, kasus-kasus tersebut di antaranya adalah kasus siswa yang merokok dan menantang guru di Gresik, kasus sekolah yang dijadikan sebagai gudang narkoba di Jakarta, dan kasus perusakan fasilitas sekolah oleh siswa-siswanya di Bulukumba (Kumparan.com, 15/02/2019).

Meningkatkan Kualitas Pendidikan
Peningkatan kualitas pendidikan  bisa dimulai dari penerapan program untuk satuan pendidikan, mulai jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP), sampai pendidikan menengah (SMA dan SMK). Menurut Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen GTK Kemendikbud), Supriano, ada empat hal yang harus diperhatikan dalam meningkatkan mutu pendidikan, yaitu kebijakan, kepemimpinan kepala sekolah, infrastruktur, dan proses pembelajaran.   

Kebijakan merupakan hal yang sangat penting, terutama kebijakan yang berlaku secara nasional, seperti kurikulum dan ujian nasional, distribusi dan rekrutmen guru. Kedua, leadership atau kepemimpinan kepala sekolah  dalam manajemen berbasis sekolah.

Ketiga, infrastruktur, yaitu sarana dan prasarana yang berkaitan dengan kelas, laboratorium, serta teknologi informasi dan komunikasi.       

Keempat  adalah proses pembelajaran. Menurut Supriano, proses pembelajaran yang menyenangkan,  berinovasi dan penuh kreativitas bisa mendorong anak-anak terbangun motivasinya. Namun, proses pembelajaran juga tergantung dari potensi guru, kecakapan guru, dan kemampuan guru.

Proses pembelajaran yang mendorong kreativitas juga mendukung bagi terciptanya empat kompetensi yang harus dimiliki generasi bangsa dalam menghadapi tantangan abad 21. Empat kompetensi yang biasa disingkat 4C tersebut adalah Critical Thinking atau berpikir kritis, Collaboration atau kemampuan bekerja sama dengan baik, Communication atau kemampuan berkomunikasi, dan Creativity atau kreatifitas (https://www.kemdikbud.go.id, 17/08/2018).

Di samping 4 hal tersebut, yang juga harus diperhatikan adalah bagaimana pendidikan yang diberikan akan mampu menciptakan generasi yang berkarakter dan berkepribadian yang baik. Hal ini sesuai dengan UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003 disebutkan bahwa pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mampu mengembangkan potensi yang ada didalam dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian yang baik,  pengendalian diri, berakhlak mulia, kecerdasan,dan keterampilan yang diperlukan oleh dirinya dan masyarakat  (https://www.seputarpengetahuan.co.id/2015/02/15-pengertian-pendidikan-menurut-para-ahli.html).

Dengan kata lain, tujuan pendidikan bukan hanya membentuk peserta didik agar memiliki kecerdasan intelektual, namun juga kecerdasan emosional serta spiritual. Untuk mencapai tujuan tersebut, ada 2 hal yang harus diperhatikan. Pertama, harus diingat bahwa proses pendidikan tidak hanya dilakukan untuk menransfer materi pelajaran. Yang lebih penting dari hal itu adalah bagaimana pendidikan mampu memahamkan peserta didik sehingga pelajaran yang diberikan akan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.  Dengan kata lain, ilmu itu untuk diamalkan. Seperti kata pepatah, "Ilmu yang tidak diamalkan, bagaikan pohon tak berbuah".

Yang kedua, pengajaran ilmu tidak boleh dilepaskan dari landasan agama. Jika ilmu diajarkan semata-mata sebagai ilmu, akan membawa kerusakan. Mereka yang berilmu akan memanfaatkan ilmunya bukan untuk kemaslahatan masyarakat. Mereka gunakan ilmu hanya untuk mendapatkan keuntungan bagi diri dan kelompoknya. Akibatnya,  ilmu yang mereka miliki akan mereka gunakan untuk melakukan korupsi, menipu, serta mencelakai banyak orang. Tentu, hal ini tidak kita inginkan. Karena itu, pendidikan agama harus dijadikan landasan dalam pendidikan, agar para ilmuwan yang muncul adalah ilmuwan yang beradab, beretika, serta membawa kemaslahatan bagi masyarakat.

Dengan cara seperti itulah dulu, Daulah Abbasiyyah mencapai kejayaannya.  Dalam sejarah peradaban dunia,  banyak ilmuwan muslim yang muncul pada masa itu. Mereka bukan hanya menguasai satu bidang ilmu. Banyak di antara mereka yang bisa disebut sebagai polimatik, yaitu ilmuwan yang menguasai beberapa disiplin ilmu. Misalnya, Ibnu Sina, al Khawarizmi, al Kindi, al Farabi, dan Ibn Rusyd. Ibnu Sina (980 M - 1037) menguasai ilmu kedokteran, filsafat, matematika, dan astronomi. Al Khawarizmi (780 M - 850 M) menguasai matematika, astronomi, dan geografi. Al Kindi menguasai filsafat, matematika, kedokteran, fisika, optik, metalurgi, dan astronomi. Sedangkan Ibn Rusyd (1136 M - 1198 M) menguasai filsafat, teologi, ilmu hukum, kedokteran, dan astronomi (https://www.zenius.net, 26/11/2014).

Ilmuwan-ilmuwan seperti ini tidak hanya akan membawa kemajuan dalam teknologi, namun juga membawa kebaikan dan kemaslahatan bagi banyak orang. Dengan demikian, mereka akan memajukan kebudayaan, sebagai hasil dari edukasi yang baik yang telah  diberikan oleh negara. Semoga, Indonesia  mampu melakukan hal ini, sehingga bonus demografi yang diperoleh Indonesia akan menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju, sekaligus membawa kebaikan bagi dunia.
 
Top