Penulis : SW. Retnani, S.Pd.

Islam merupakan agama yang berasal dari Alloh swt. Islam memiliki makna yaitu penyerahan atau berserah diri. Makna ini dijelaskan oleh Alloh swt melalui kitab suci Al Qur'an.
Allah SWT berfirman:

اَفَغَيْرَ دِيْنِ اللّٰهِ يَبْغُوْنَ وَلَهٗۤ اَسْلَمَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّاِلَيْهِ يُرْجَعُوْنَ
"Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan?

(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 83).
Selain bermakna penyerahan, Islam juga memiliki makna ketundukan dan kepasrahan. Allah SWT berfirman:

وَمَنْ اَحْسَنُ دِيْنًا مِّمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَّاتَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا   ۗ  وَاتَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا
"Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan-(Nya)."

(QS. An-Nisa' 4: Ayat 125).
Islam pun memiliki makna selamat sejahtera. Seperti kalammulloh berikut. Allah SWT berfirman:

وَاِذَا جَآءَكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاٰيٰتِنَا فَقُلْ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلٰى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ  ۙ  اَنَّهٗ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوْٓءًۢا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْۢ بَعْدِهٖ وَاَصْلَحَ ۙ  فَاَنَّهٗ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"Dan apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, Salamun ‘alaikum (selamat sejahtera untuk kamu). Tuhanmu telah menetapkan sifat kasih sayang pada diri-Nya, (yaitu) barang siapa berbuat kejahatan di antara kamu karena kebodohan, kemudian dia bertobat setelah itu dan memperbaiki diri, maka Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. Al-An'am 6: Ayat 54)
Dan masih banyak makna Islam lainnya yang senada dengan makna diatas.

Jadi dapat kita pahami bahwa inti dari Islam adalah ketundukkan, kepasrahan dan ketaatan hanya kepada Alloh swt secara totalitas, tidak boleh protes dan diharamkan menolak sesuatu yang telah diputuskan oleh Alloh swt dan rosul-Nya. 
Sebagai kaum Muslim tidak pantas apabila Islam hanya kita ambil sekedar spiritnya saja, akhlaknya saja atau bahkan simbolnya saja. Masih lekat dalam ingatan pernah ada wacana atau ide tes baca Al Qur'an untuk calon presiden dan calon wakil presiden negeri ini. Seharusnya tidak hanya tes baca Al Qur'an, tapi lebih ditekankan untuk bisa melaksanakan dan menerapkan seluruh aturan yang terkandung didalamnya. Disinilah letak kesalahpahaman dalam memposisikan Islam. Sebab, ketika Islam dalam cengkeraman ideologi kapitalisme hanya dijadikan alat permainan politik untuk memenangi persaingan disatu sisi dan keberadaannya dianggap tidak penting disisi yang lain. 

Seperti yang dilansir dari tribunnews.com bahwa USTAZ kondang H Yusuf Mansyur menceritakan hasil penelitian pribadinya bahwa ke-Islaman Presiden Joko Widodo yang selama ini diketahuinya adalah murni dari pribadi yang taat beragama, bukan pencitraan di ruang publik.

Pak Jokowi tetap menjaga shalat dan puasa Senin-Kamis di tengah kesibukannya,kata Yusuf Mansyur, Sabtu (2/3/2019).

Yusuf Mansyur mengatakan itu saat menyampaikan ceramah dalam Diskusi Publik dan Pembekalan Relawan Pemenangan 01 se-Jawa Barat, di Bandung, Sabtu (2/3/2019), seperti dikutip melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu (3/3/2019).

Diskusi Publik dan Pembekalan Relawan Pemenangan 01 di Jabar, adalah kerjasama JokMa Jawa Barat dan Jaringan Alumni Mesir Indonesia (JAMI) ini.

Diskusi dihadiri para narasumber antara lain, Utusan Khusus Presiden untuk Timur Tengah dan OKI Alwi Shihab yang sekaligus Dewan Penasehat JAMI, dan Pendiri Rumah Perubahan Prof Rhenald Kasali.
Menurut Ustaz Yusuf Mansyur, penuturan ihwal ke-Islaman Joko Widodo juga banyak disampaikan orang-orang terdekatnya.
Termasuk sejumlah menteri di Kabinet Kerja.

Dalam penilaian Ustadz Mansyur, sebagai pemimpin ada contoh keteladanan dari sosok Jokowi yang patut ditiru.
      
Tentulah sebagai hamba Alloh swt yang taat, tunduk dan patuh akan menjadikan Islam bukan sekedar spirit semata. Namun, mewujudkan Islam sebagai Ideologi yang berasal dari Alloh swt dan wajib diterapkan secara Kaffah dalam kehidupan sehari - hari, terutama dalam hukum- hukum pemerintahan. Dan hal ini belum terwujud dalam negeri kita.

Maka dengan mencintai spirit Islam serta didukung dan dilengkapi pula dengan ideologi Islam akan tercipta aturan dan hukum yang diberlakukan, benar- benar adil dan bijaksana.

Tidak seperti hukum yang dilandasi ideologi kapitalisme seperti saat ini.
Ideologi yang hanya memihak kepada para pemilik modal dengan cara menyingkirkan kepentingan dan kebutuhan rakyatnya.
Sehingga ideologi ini hanya akan menciptakan banyak permasalahan di masyarakat. Kemaksiatan, ketidakadilan, kesewenangan,

kedzaliman, ketidakpedulian, kemunafikan, kekejaman dan lain sebagainya, akan sering muncul dan memenuhi ide- ide yang dilandasi dari ideologi kapitalisme ini. Bahkan dari ideologi rusak ini akan melahirkan para pemimpin dzalim, pemimpin anti Islam, pemimpin  yang gagal dalam mnjalankan amanahnya, pemimpin antek asing dan aseng serta pemimpin yang selalu ingkar janji.

Berbeda dengan ideologi Islam yang mampu memberikan aturan, hukum dan perundangan sesuai dengan fitrah manusia itu sendiri. Maka dengan diterapkannya ideologi Islam akan tercipta negeri yang baldatun thoyyibatun warobbun ghofur, adil dan sejahtera.

Dengan demikian Islam wajib diterapkan secara Kaffah dalam naungan Khilafah. Sehingga Islam rahmatan lil 'alamin akan terwujud, sebagaimana Kejayaan dan kemuliaan Islam selama 13 abad.
Wallohu a'lam bish showab.
 
Top