Oleh : Eko Faisal, S. Kom., MM
(Kabag. PGM, Biro Binsos, Setda Prop. Sumbar)
SETIAP orang tentu memiliki keinginan yang kuat terhadap pencapaian hasil yang maksimal dari upaya dan kerja keras yang dilakoni. Bahkan dari keinginan tersebut orang selalu berusaha mencapainya dengan mengerahkan segala potensi dan kekuatan yang dimiliki, walapun harus dibayar mahal. Tentu ini adalah konsekuensi logis dan memang mesti demikian.
Hasil maksimal tentu tidak serta merta datang begitu saja, justru memerlukan proses dan bahkan disertai dengan berbagai subproses yang menyertainya. Memang potensi dasar yang dimiliki oleh setiap orang adalah kecerdasan, apakah itu kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Namun demikian kecerdasan ini pun bersifat relatif dan sangat tergantung dari sejauhmana kecerdasan itu bermanfaat dan memberikan nilai tambah (value added) atas kemaslahatan.
Memang dalam hidup tentu tidak selalu didapati pencapaian hasil maksimal atas usaha dan kerja keras yang kita lakukan. Oleh karena itu, apa pun hasil yang diperoleh janganlah terlalu cepat menyerahkan semuanya pada takdir, sehingga cenderung menjadikan kita fatalistis. Pada hal sesungguhnya, disetiap ujung usaha itu barulah ada takdir. Kita tidak boleh menyerah pada nasib dan takdir jika kita belum mencoba dan belum bekerja keras.
Bagaimana mau ditakdirkan jadi pegulat yang baik jika kita tidak latihan dengan disiplin. Bagaimana mau bisa berenang jika tidak belajar berenang. Sesungguhnya kita mendapatkan apa yang memang patut kita terima berdasarkan kerja keras dari upaya kita. We usually get what we deserve.
Agama yang kita anut bahkan menginggatkan kita tentang perlunya berusaha dan berupaya dalam mengubah nasib. “Allah tidak akan mengubah kehidupan suatu masyarakat kecuali mereka itu mau mengubah dirinya sendiri”(Q.s. Ar-Ra’d:11). Bruce Baston mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih luar biasa yang pernah dicapai kecuali oleh mereka yang berani untuk percaya bahwa sesuatu di dalam diri mereka lebih hebat dari keadaan lingkungannya.
Disisi lain, ternyata seseorang tidak cukup hanya cerdas, tapi harus tahu juga untuk apa kecerdasan itu baginya dan bagi lingkungannya. Setiap orang harus bisa memberikan kontribusi atas kecerdasan yang dimiliki. Seseorang tidak hanya cukup mengetahui sesuatu, tapi lebih dari itu ia harus pula bisa membuat sesuatu yang ia tahu berdampak bagi dirinya dan lingkungannya.
Apapun konsekuensi atas upaya dan kerja keras yang kita lakukan, kita harus tetap berbuat dan bekerja keras. Walaupun dari berbagai perspektif menunjukkan bahwa si pemilik kecerdasan atau yang sering disebut sebagai Sumber Daya Manusia (SDM) selalu menjadi objek tumpahan kesalahan serta tuduhan dikala organisasinya mengalami kemunduran. Tak hayal lagi SDM menjadi tumpuan kesalahan dengan berbagai sentilan hingga mencap SDM tersebut rendah kapasitas dan kemampuan yang permanen. Tapi dikala organisasi tersebut mencapai titik puncak keberhasilan, tak satu pun pujian dan anjungan jempol yang ditujukan kepada SDM, bahkan lebih dari itu hampir tidak pernah ada solusi reward bagi SDM. Kalaulah kondisi demikian adanya, apakah masih berharap banyak kah kita dengan SDM yang ada? Jika ini adalah sebuah pertanyaan, maka tentu perlu jawaban, namun jika ini hanya dimaknai sebagai sebuah kekesalan user maka nikmatilah kondisi ini dengan mencarikan berbagai solusi cerdas dalam upaya melepas belenggu ketidakberdayaan.
Terlepas apakah ini sebuah pertanyaan atau tidak, terlepas apakah ini kekesalan user atau tidak, tapi yang pasti di dalam semua teori yang ada mengatakan bahwa SDM adalah sebagai modal dan asset bagi organisasi dalam mencapai tujuannya. Penggalan inilah mungkin perlu kita cerna sebagai SDM di organisasi mana pun kita berada. Untuk itu kesungguhan atau bersungguh-sungguh dalam setiap peran yang kita lakukan menjadi jaminannya.
Man jadda wajada…, Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan mendapatkan. Kesungguhan terhadap penerapan pengetahuan yang dimiliki akan menjadikan kita teruji dan tahan uji. Dengan kesungguhan kita mengeluarkan energy bak pejuang, meski kadang kita tidak menikmati hasil perjuangan itu. Sebab memang, perjuangan itu dirintis oleh orang-orang yang alim dan sungguh-sungguh. Diperjuangkan oleh orang yang ikhlas meskipun dinikmati oleh orang yang rakus.
Bisa jadi kita hanya jadi pendorong mobil yang mogok, lalu ditinggal lari. Kita menelurkan ide, tapi orang lain yang menetaskannya. Tapi ini bukanlah sesuatu yang harus menghentikan kesungguhan untuk berjuang. Apa pun kapasitas dan peran yang kita miliki, berjuanglah sungguh-sungguh untuk kapasitas dan peran itu. Boleh jadi kita sebagai PNS, TNI/POLRI, maka bersungguh-sungguhlah memerankannya, boleh jadi kita sebagai petani, maka bersungguh-sungguh lah memerankannya, dan lain sebagainya peran yang dilakoni. Masih banyak ide yang bisa di kais, masih banyak karya yang bisa dirintis, jadikanlah kesungguh-sungguhan yang membingkai segala ide dan amanah dalam menjalaninya.
Belajar dari jalan yang sudah dirintis, bagaimana kita berusaha untuk mempertahankan hasil perjuangan itu agar tetap jadi milik kita untuk kemaslahan bersama. Sebab kita lah yang lebih berhak mengelola hasil perjuangan yang telah dilakukan sesuai dengan visi perjuangan yang telah kita canangkan. Sebab Allah telah berfirman : “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sunguh-sungguh (urusan) yang lain” (Q.s. Alam Nasyrah:7)
Oleh karena itu, apapun profesi kita, apapun peran kita, jalani dan lakoni dengan sungguh-sungguh. Hanya kesungguhan lah yang mampu merikan penguatan atas hasil yang maksimal terhadap usaha dan kerja keras. Fokus dan Konsisten. Mari kita perbaharui komitmen untuk bersungguh-sungguh dalam memerankan fungsi, tugas, wewenang dan tanggung jawab yang melekat pada diri sendiri. Jika setiap masing-masing kita memperbaharui komitmen untuk focus dan bersungguh-sungguh terhadap usaha dan kerja keras yang kita lakukan, maka secara kolektif akan memberikan kejayaan dan kemenangan bagi semua. Seperti yang pernah diungkapkan “Tidak ada satu pun jerih payah yang sia-sia dalam semua keadaan” (Tafsir Fi Zhilal Al Qur’an, juz 12 hlm, 275).***

No comments:
Post a Comment